Bocah Pengidap HIV/AIDS Meninggal Sempat Minta Nasi Bungkus
Tanggal: Sunday, 20 November 2011
Topik: HIV/AIDS


Pontianak Post, 19 November 2011

KETAPANG – Setelah dua minggu lebih dirawat intensif, akhirnya Rf, bocah 10 tahun pengidap HIV/AIDS kemarin (18/11) menghembuskan nafas terakhirnya sekitar pukul 10.05 wib di di RSUD Agoes Djam.Bocah Rf diketahui terular penyakit dari orang tuanya. Bahkan, sejak bayi Rftelah terinfeksi HIV/AIDS. Karena kedua orang tuanya telah meninggal RF pun diasuh oleh kakek dan neneknya di daerah Suka Bangun.“Ini penyakit dari almarhum ayah,“ kata sang Kakek menirukan pengakuan Rf sebelum meninggal.Direktur RSUD Agoes Djam, Djoko Hartono mengatakan sebelum meninggal kondisi Rf memang menurun drastic. Dalam waktu kurang dari 10 menit mulai terlihat kejang-kejang pada tangan, setelah itu langsung menghembuskan nafas terakhir.

“Dari bayi Rf sudah mulai terinfeksi HIV/AIDS dan sejak dua bulan terakhir kondisinya semakin memburuk, karena gejala batuk dan penyusutan berat badan yang super cepat,” terangnya. Namun kata Djoko, untuk memberikan pelayanan optimal kepada pasien, sejak awal masuk rumah sakit, Rf ditangani dengan maksimal, dan hingga sesaat sebelum meninggal semua keinginannya untuk makan berbagai jenis makanan yang sehat kita selalu kita turuti,”ujar Djoko, kemudian mengaku berat badan terakhir bocah tersebut saat meninggal hanya 11 kilogram, yang seharusnya anak seusianya memiliki berat badan 37 kilogram.

Tragisnya, menurut Djoko sesaat sebelum meninggal, Rf sempat minta dibelikan nasi bungkus dari sebuah warung di Ketapang. Pihak keluarga pun bergegas untuk membelikan makanan yang nampaknya disukai oleh Rf. Sayangnya, belum sempat makanan yang dipesan itu datang, Rf keburu dipanggil sang Khalik.Permintaan terakhir Rz, dibenarkan oleh kakeknya. Pria tua itu mengatakan sesaat sebelum meninggal sang cucu yang termasuk pelajar berprestasi di sekolahnya itu melalui SMS meminta sepupunya untuk dibawakan nasi bungkus. Selang bebarapa waktu tubuh Rz, pun mengejang, matanya terbelalak menghadap ke atas.

Melihat kondisi cucunya itu, sang kakek sempat panik dan kemudian mengusap kepala RZ sambil membaca doa. Selang beberapa menit bocah malang itupun menghembuskan nafas terakhirnya.Rz, terlahir dari kedua orangtua yang sama-sama pengidap HIV yang sudah meninggal beberapa tahun sebelumnya. Selama ini, ia dirawat olek kakek dan neneknya di sebuah gubuk. Namun stigma negatif HIV, masih melekat di lingkungan tempatnya tinggal.Adanya stigma negatif terhadap para penderita HIV/AIDS sangat disayangkan

Pengelola Program KPA Ketapang, Zulfahmi. Karenanya ia berharap peran serta masyarakat untuk menanggulangi penyakit mematikan tersebut.“Tidak mudah untuk mengubah pola pikir seseorang akan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA masih terjadi di lingkungan masyarakat, karena itu kami terus berupaya melakukan sosialisasi lebih intensif hingga ke jejaring yang paling bawah,” pungkasnya. (ash)

Sumber: http://www.pontianakpost.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5222