6.279 Penduduk Jabar Positif Terjangkit HIV-AIDS
Tanggal: Tuesday, 22 November 2011
Topik: HIV/AIDS


PRLM, 22 November 2011

NGAMPRAH - Sedikitnya 6.279 penduduk Jawa Barat positif terjangkit HIV-AIDS hingga September tahun ini. Dengan angka tersebut, jumlah penderita HIV-AIDS di Jawa Barat menempati peringkat ketiga tertinggi setelah DKI Jakarta dan Jawa Timur.

Data Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menunjukkan, hingga September 2011 tercatat 3.925 kasus AIDS dan 2.354 HIV positif. Jumlah tersebut meningkat dibandingkan dengan tahun lalu, yakni sekitar 5.000 kasus HIV-AIDS. Sekitar 25 persen penderita di antaranya masih berusia produktif, yakni antara 15-24 tahun.

Penderita HIV-AIDS terbanyak di Jawa Barat terdapat di Kota Bandung, disusul Kota Bekasi, Kota Sukabumi, dan Kota Bogor. Dari 26 kota/kabupaten di Jabar, tidak ada satu daerah pun yang penduduknya tidak terjangkit HIV-AIDS.

Kepala Dinas Kesehatan Jawa Barat, Alma Lusiati mengungkapkan, penularan HIV-AIDS melalui jarum suntik paling banyak terjadi selama beberapa tahun terakhir. Lebih dari 60 persen penularannya terjadi akibat pertukaran jarum suntik yang tidak steril di kalangan pengguna Napza suntik.

“Dengan terus bertambahnya penderita HIV-AIDS, diperlukan upaya preventif sedini mungkin. Jangan ragu untuk memeriksakan diri ke puskesmas terdekat jika terjadi gejala-gejala yang tidak normal,” katanya di Hotel Manson Pine, Kota Baru Parahyangan, Kabupaten Bandung Barat, Senin (21/11) seusai pelaksanaan International Symposium on Getting Zero New HIV Infections, Zero Discrimination, Zero AIDS-Related Deaths in ASEAN.

Simposium itu dihadiri Wakil Menteri Kesehatan RI, Ali Gufron yang berbincang melalui teleconference dengan sejumlah kepala daerah atau perwakilan pemerintah dari 10 provinsi, yakni Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Papua, Sulawesi Selatan, Bali, Kalimantan Barat, Riau dan Sumatera Utara. Somposium ini juga dihadiri delegasi dari 10 negara se-Asia Tenggara.

Alma mengatakan, saat ini penularan HIV-AIDS mulai beralih melalui transmisi seksual atau hubungan seks beresiko di kalangan kelompok resiko tinggi. Jumlah penderita AIDS yang lebih banyak dibandingkan dengan penderita HIV diduga terjadi akibat keterlambatan mengetahui status HIV di dalam tubuhnya.

“Pemerintah JAbar juga terus berupaya untuk menekan penambahan kasus ini di antaranya dengan membuat perda. Saat ini perda tentang penanganan HIV-AIDS sedang dalam proses dan diharapkan rampung akhir tahun ini,” ujarnya.

Wakil Menteri Kesehatan RI, Ali Gufron menuturkan, penularan HIV-AIDS harus ditekan dengan komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat. Hal ini dibutuhkan untuk menghindari meledaknya kasus HIV-AIDS di Indonesia.

“Jangan sampai kasus ini seperti fenomena gunung es. Seperti tidak terjadi apa-apa, padahal sebenarnya dalam keadaan bahaya. Jadi, kita harus cepat tanggap dalam menanggulangi kasus HIV-AIDS,” katanya.

Ali Gufron mengapresiasi komitmen sejumlah kepala daerah dalam menyukseskan kampanye Aku Bangga Aku Tahu, sebagai upaya penanggulangan HIV-AIDS dengan membuat peraturan daerah. Dia juga mengaku terus mendukung upaya pemerintah daerah di antaranya dengan menyediakan obat-obatan. “Obat-obat untuk mengantisipasi HIV-AIDS sudah ada. Jadi tidak ada alasan bagi penderita untuk tidak mendapatkan obat,” ucapnya. (A-192/das)***

Sumber: http://www.pikiran-rakyat.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5251