Indonesia Menjadi Negara Pendorong Epidemi HIV/AIDS
Tanggal: Tuesday, 22 November 2011
Topik: HIV/AIDS


Galamedia, 22 November 2011

PADALARANG - Sebanyak 10 negara ASEAN mengikuti International Symposium on Getting to Zero New HIV Infections, Zero Discrimination, Zero AIDS-Related Deaths in ASEAN yang dilaksanakan di Hotel Mason Pine, Kec. Padalarang, Kab. Bandung Barat (KBB), Senin (21/11). Simposium ini diadakan terkait dengan keberadaan Indonesia sebagai tuan rumah ASEAN Task Force on AIDS (ATFOA) Simposium dibuka secara resmi Wakil Menteri Kesehatan RI Prof. Dr. Ali Gufron. Hadir pada kegiatan ini pejabat dari Kementerian Kesejahteraan Rakyat, Kementrian Dalam Negeri, Pemprov Jabar, Pemkab Bandung Barat, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, perwakilan WHO untuk Indonesia, serta delegasi dari 10 negara ASEAN yaitu tuan rumah Indonesia, Myanmar, Thailand, Kamboja, Singapura, Laos, Vietnam, Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam. "Simposium internasional ini sangat relevan dengan situasi HIV/AIDS yang terjadi saat ini di negara-negara ASEAN," kata Wakil Menkes Ali Gufron.

Dikatakannya, Indonesia merupakan salah satu dari negara Asia yang menjadi pendorong epidemi HIV/AIDS di Asia Tenggara. Hal ini karena maraknya seks bebas dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan pengaman (kondom) dan penggunaan jarum suntik narkoba.

Banyak faktor

Sejak tahun 2005 sampai September 2011, kasus HIV terus mengalami peningkatan, sedangkan kasus AIDS cenderung stabil. Peningkatan ini sebagai dampak dari kemudahan orang untuk mengakses layanan HIV/AIDS, sehingga mereka bisa mendapatkan diagnosis lebih dini untuk status HIV/AIDS-nya.

"Indonesia merupakan negara kepulauan yang sangat luas. Situasi geografis seperti ini menjadi tantangan utama dalam memberikan pelyanan kesehatan yang adil bagi semua penduduk Indonesia, termasuk untuk menyediakan layanan HIV/AIDS," tuturnya.

Meski telah banyak program dilakukan untuk mengendalikan HIV/AIDS, hasilnya belum optimal. Faktor penyebabnya antara lain, masih terbatasnya pengetahuan masyarakat umum tentang HIV/AIDS, rendahnya kesadaran penggunaan kondom dalam berhubungan seks berisiko tinggi, terjadi stigmatisasi dan diskriminasi, sulitnya menjangkau pelaksanaan penanggulangan HIV/AIDS di penjara, serta rendahnya partisipasi masyarakat, lembaga keagamaan, organisai sosial, dan orang yang terkena HIV-nya itu sendiri.

Diungkapkannya, secara kumulatif kasus AIDS ditemukan lebih banyak pada laki-laki (64,9 persen) dibanding perempuan. Sementara pada kelompok umur, kasus AIDS paling banyak ditemukan pada rentang usia 20 sampai 29 tahun (45,5 persen). Ini menunjukkan bahwa mereka terinfeksi HIV pada usia muda. Sementara angka kematian akibat AIDS mengalami penurunan sejak tahun 1987 (40 persen) sampai tahun 2011 (2,7 persen). (B.104)**

Sumber: http://www.klik-galamedia.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5252