Pemerintah Diminta Gratiskan Biaya Penyembuhan Pengidap HIV-AIDS
Tanggal: Thursday, 24 November 2011
Topik: HIV/AIDS


Pos Kota, 23 November 2011

TAMANSARI – Pemerintah diharapkan menggratiskan biaya pemeriksaan sampai pengobatan bagi orang yang akan menjalani test kesehatan mengidap atau tidak HIV/AIDS.

”Saya sudah memeriksakan diri dan berobat ke rumah sakit tapi sekali datang membayar Rp 850.000,” keluh wanita setengah baya pada pengurus Komisi Penanggulangan (KPA)AIDS Jakarta Barat, di salah satu tempat kost di Kecamatan Tamansari, Rabu (23/11/2011)

Wanita penghuni kost di wilayah kelurahan Maphar, Kecamatan Tamansari itu berbicara enggan melalui mickropon termasuk penghuni kost lainnya yang hadir ketika dua nara sumber menawarkan untuk bertanya.”Saya mau bertanya tapi tidak dengan mike,” tuturnya.

Dialog interaktif dihadiri 20 penghuni kost ini berlangsung semarak setelah nara sumber tidak menggunakan alat pengeras suara. “Kalau mandi di kamar mandi dipakai juga orang yang mungkin terkena HIV/AIDS, atau makan bersama, apakah bisa terjangkit juga ?” demikian antara lain yang ditanyakan.

Menurut Hj. Suhaya, satu nara sumber, kamar mandi yang digunakan maupun makan bersama penderita HIV/AIDS tidak masalah dan tidak menyebabkan tertular. Karena penularan HIV/AIDS melalui hubungan seksual yang terus berganti ganti pasangan.

“Laki-laki atau wanita yang berhubungan seksual sering berganti-ganti pasangan beresiko terkena HIV/AIDS. Mungkin laki-laki tersebut tertular dari wanita yang sudah terkena HIV/AIDS. Atau sebaliknya,” kata Hj. Suhaya.

Siapa pun, jelasnya bisa beresiko terkena HIV/AIDS sesuai dengan pekerjaannya. Termasuk orang yang mengobati pasien yang terkena HIV /AIDS beresiko tertular penyakit tersebut apabila tidak steril dalam melakukan pekerjaananya. Apalagi seseorang yang memang sebagai pekerja seks.

Ditambahkan, pasangan yang melakukan hubungan seks dengan oral bisa tertular HIV/AIDS, jika sebelumnya menggosok gigi dan gusinya berdarah. Sebab dari darah penderita yang terkena HIV/AIDS itu bisa menular ke pasangannya.

”Orang yang terluka pada bagian tubuhnya kemudian terkena darah dari penderita HIV/AIDS juga bisa tertular,” ujarnya.

Ia menganjurkan bagi orang yang beresiko HIV/AIDS sebaiknya setiap tiga bulan sekali. memeriksakan diri dan mengambil sampel darahnya untuk diperiksa di laboratorium. “Jangan malu-malu karena untuk kepentingan diri sendiri dan orang lain,” harapnya.

Menurut H. Muh. Fausal Kahar, Sekretaris KPA Jakarta Barat, penyakit HIV/AIDS memang tidak ada obatnya, yang bisa dilakukan hanya bertahan dengan terus berobat bagi penderitanya..

”Bagi yang sudah terkena HIV saja biaya berobatnya mahal apalagi yang sudah terkena AIDS. Mobil juga bisa habis untuk berobat,” ujarnya.

Namun biaya berobat masih ada yang agak murah ke klinik dibeberapa wilayah kecamatan, seperti di klinik Jelia Kecamatan Tamansari biayanya Rp 60.000 sesuai ketentuan. “Tapi lebih penting lagi menghindarinya, ” kata H. Muh. Fausal Kahar,.

Penyuluhan langsung ke rumah kost di RW 08 Kelurahan Maphar, untuk lebih dipahami dan menekan jumlah pengidap HIV/AIDS di Jakarta Barat. Karena setiap tahun meningkat, seperti tahun 2011 bertambah 37 penderita dari jumlah penderita penderita tahun 2010 tercatat 327 penderita. (herman/dms)

Sumber: http://www.poskota.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5272