Melupakan Keganasan HIV/AIDS
Tanggal: Thursday, 24 November 2011
Topik: HIV/AIDS


Padang Ekspres, 23 November 2011

HIRUK-PIKUK pertandingan sepak bola Indonesia versus Malaysia tak boleh melupakan hal-hal substansial dalam kehidupan kita. Sangat banyak persoalan yang lebih serius. Salah satunya diberitakan Senin (21/11). Yakni, laju persebaran HIV/AIDS di negeri kita tersayang merupakan yang tercepat di Asia Tenggara. Kalau yang tercepat adalah pelari di lintasan SEA Games, itu hebat. Tapi, kalau yang tercepat adalah persebaran penyakit?

Itu bahaya. Itu bahaya. Ya, itu bahaya. Kita pun diingatkan Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Data 93 ribu pengidap HIV/AIDS jelas bukanlah angka kenyataan, tapi yang tersembul di permukaan. Mirip sirip hiu yang mondar-mandir di atas perairan. Angka sebenarnya jauh lebih besar. Katakanlah asumsinya benar, hanya 20 persen yang menyadari mengidap penyakit itu, berarti angka ”riil”-nya mencapai 400 ribu (dibanding setidaknya 33 juta pengidap di dunia). Angka tersebut sangat besar, terlebih bila ”badan hiu” di bawah permukaan lebih besar.

Memang sulit membangkitkan kembali kepedulian terhadap penyakit itu. Apalagi sejak diakui pada 5 Juni 1981 (30 tahun lalu) penyakit tersebut tetap tak terbendung. Dua dokter Prancis penemunya, Luc Montaigner dan Barre-Sinoussi, sudah mendapat Nobel. Para dokter lain belum berhasil menemukan penawarnya. Karena itu, pengidapnya seperti memegang ”tiket sekali jalan”. Pasti mati, tak ada pilihan lain (keajaiban sudah sangat langka saat ini). Karena itulah, mau tak mau (kalau masih mau), kita harus mencegahnya.

Kita selama ini sudah sukses mengampanyekan agar tak ada diskriminasi bagi orang-orang yang dirundung HIV/AIDS. Itu baik demi kemanusiaan. Tapi, kita terkesan kurang gencar dalam mencegah persebarannya. Seakan-akan, dengan memperjuangkan hak-hak kaum HIV/AIDS, bahkan ada hari khusus setiap tahun, kita sudah ”mengatasi” problem tersebut. Tidak, itu tidak cukup.

Jelas tidak kebetulan kalau yang mengeluarkan data mutakhir betapa mengerikannya HIV/AIDS ”merayap” di sekitar kita adalah BKKBN. Lembaga yang prestasinya hebat dalam mengendalikan jumlah penduduk pada zaman Orde Baru tersebut patut ditemani dalam mengampanyekan pencegahan HIV/AIDS. Apalagi, persebaran penyakit itu terkait dengan nilai-nilai keluarga yang pasti dijunjung tinggi BKKBN.

Salah satu kelompok yang berisiko tinggi adalah keluarga yang salah satu anggota keluarganya, biasanya ayah, gemar mengumbar pelampiasan syah wat di mana-mana. Terutama kepada para pelacur (yang dihaluskan de ngan PSK). Penyakit menular dari hubungan kelamin itu bisa menular ke pada istri, bahkan anak (kalau istrinya kemudian hamil atau menyusui).

Pelacuran memang tak bisa dihapus. Tapi, setidaknya negara jangan melindungi. Lokalisasi pelacuran sebenarnya jelas-jelas melanggar pasal pidana dalam KUHP. Heran juga mengapa tak ditutup, tapi malah seperti dilindungi negara. Lokalisasi terbesar seperti Dolly terus beregenerasi, bahkan kemasukan pelacur yang semakin muda.

Yang tak kalah hebat dalam menyebarkan HIV/AIDS adalah dunia narkoba. Jelas, para penarkoba termasuk berisiko tinggi. Pemberantasan kita terhadap narkoba memang gigih. Meski, putusan para hakim sering membuat jalan buntu: penarkoba kere dihukum, penarkoba anak orang berada cu kup direhabilitasi. Para hakim memang kerap membuat kita mengelus dada tanpa daya. Kita mau apa, mereka punya kuasa yang ”merdeka”?

Marilah kita kembali ke nilai-nilai keluarga. Betapapun klisenya, seruan ini tetap menjadi solusi terbaik, termasuk terhadap persebaran HIV/AIDS. Mari kita berkawan dengan BKKBN untuk mengingatkan betapa luhur (dan fungsional) nilai-nilai keluarga dalam mencegah paparan banyak nestapa di dunia ini. Bismillah.

Sumber: http://padangekspres.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5275