Apresiasi untuk Jamsostek
Tanggal: Thursday, 24 November 2011
Topik: Narkoba


Tribun lampung, 24 November 2011

--Pioner Jaminan Layanan Cuci Darah, Operasi Jantung, Pengobatan Kanker, HIV/AIDS, hingga Medical Check Up--

Apresiasi yang begitu tinggi pantas diberikan kepada PT Jamsostek. Baru-baru ini perusahaan tersebut mengumumkan akan menjamin layanan cuci darah (hemodialisa), operasi jantung, pengobatan kanker, pengobatan HIV/AIDS, hingga medical check up bagi peserta yang berusia 40 tahun. Jaminan layanan ini akan mulai berlaku 1 Desember 2011.

Meski belum dapat dirasakan langsung, layanan ini jelas merupakan kabar sangat-sangat menggembirakan bagi seluruh peserta Jamsostek di Indonesia. Bagaimana tidak, semua penyakit yang disebut di atas merupakan penyakit-penyakit kelas berat, yang notabene membutuhkan biaya besar untuk pengobatannya.

Bayangkan, jika seseorang dengan penghasilannya tidak sampai Rp 3 juta, harus mengalami cuci darah setiap bulan, atau tiba-tiba harus menjalani operasi jantung. Sementara untuk itu dibutuhkan biaya yang juga tak sedikit, bisa mencapai Rp 1 juta lebih untuk sekali berobat cuci darah. Sementara untuk operasi jantung,butuh puluhan juta utk satu kali operasi.

Namun, dengan jaminan yang diberikan PT Jamsostek, beban yang ditanggung peserta menjadi lebih ringan.Peningkatan manfaat Jaminan Pelayanan Kesehatan (JPK) tersebut berdasarkan pada Keputusan Direksi No.Kep/310/10/2011 tanggal 31 Desember 2011 tentang Pemberian Manfaat Tambahan bagi Peserta Program Jamsostek.

Peningkatan manfaat itu diberikan setelah pihak manajemen PT Jamsostek mengkaji kemungkinan peningkatan manfaatnya. Direktur Pelayanan PT Jamsostek Djoko Sungkono di Jakarta bahkan mengatakan, peningkatan kualitas dan kuantitas layanan bisa terus ditingkat sesuai dengan kinerja investasi dan perluasan kepesertaan.

"Prinsip kami, memberikan layanan sebanyak dan sebaik mungkin kepada peserta dengan harapan pekerja dan perusahaan menjadi peserta Jamsostek bukan sekadar memenuhi kewajiban UU (No.3/1992) tetapi juga karena benar-benar merasakan manfaatnya,"kata Djoko.

Pemberian layanan kesehatan berupa cuci darah (hemodialisa), operasi jantung, kanker, dan HIV/AIDS diberikan kepada perusahaan yang mengikutsertakan pekerjanya dalam program JPK minimal selama satu tahun. Layanan kesehatannya diberikan pada Pusat Pelayanan Kesehatan atau rumah sakit yang bekerja sama dengan PT jamsostek.

Nilai besarnya bantuan yang diberikan kepada peserta pun terbilang lumayan. Yakni, untuk cuci darah, maksimal diberikan Rp 600.000 per kasus kunjungan, dengan jumlah kunjungan maksimal tiga kali per minggu.

Bantuan untuk operasi jantung diberikan senilai Rp 80 juta per tahun kalender, sedangkan untuk pengobatan kanker senilai Rp 25 juta per tahun kalender. Bantuan untuk pengobatan HIV/AIDS diberikan senilai Rp10 juta juga per tahun kalender.

Jumlah tersebut, bukanlah angka yang kecil. Terlebih ketika peserta mengalami penyakit-penyakit di atas, bantuan sekecil apapun akan sangat terasa berarti. Penulis sendiri pernah merasakan, betapa saat sakit jaminan kesehatan yang didapat dari Jamsostek sangat meringankan beban. Sebab, penulis tidak perlu mengeluarkan uang sepeser pun ketika diopname di rumah sakit.

Dokter spesialis kanker di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moelok (RSUDAM) Lampung dr Adi Nugroho mengatakan, terobosan yang dilakukan PT Jamsostek ini jelas sangat bermanfaat bagi masyarakat. Karena, khususnya pengobatan penyakit kanker tidaklah sedikit biaya yang harus dikeluarkan.

Koordinator Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia Lampung Ade Komariah mengatakan, sudah sejak lama banyak orang mengharapkan penyakit-penyakit yang mengeluarkan biaya besar dapat juga ditanggung oleh pemerintah atau pihak lainnya "Jika ini dilakukan PT Jamsostek, tentu sebuah terobosan yang sangat bermanfaat. Dan ini ditunggu-tunggu masyarakat Indonesia," kata dia.

Menurutnya, tidak ada satu orang pun berharap mengalami penyakit serius. Salah satunya HIV/AIDS. Tapi setiap orang juga punya harapan untuk sembuh. "Karenanya berbagai upaya akan dilakukan seorang yang sakit. Namun terkadang keterbatasan dana tak mampu menolong mereka. Dengan adanya jaminan seperti ini, peserta yang ikut Jamsostek tentu akan lebih tenang bekerja," kata dia.

Kardiolog terkemuka, Thomas R Behrenbeck pernah mengungkapkan adanya peningkatan signifikan jumlah penderita penyakit kardiovaskular di sejumlah tempat di belahan bumi, termasuk Indonesia. Karena itu, diperlukan perhatian serius semua pihak untuk mengatasi penyakit itu.

"Individu dan masyarakat harus lebih serius menangani penyakit kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah) dalam upaya mencegah atau mengurangi angka kematian yang cukup tinggi," kata pakar Thomas Behrenbck pada seminar berjudul "Hand in Hand for Healthier Hearts" di Jakarta baru-baru ini.

Spesialis penyakit jantung dan pembuluh darah, dr Johannes Nugroho SpJP, di Indonesia penderita penyakit jantung diperkirakan sekitar 6-15 % dari jumlah penduduk.

Menurutnya, penyakit kardiovaskular telah menjadi salah satu masalah penting kesehatan masyarakat Indonesia dan merupakan penyebab kematian yang utama. Penyakit jantung adalah salah satu penyebab kematian tertingi di Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, penyakit jantung sejak tahun 2007 adalah penyebab kematian tertinggi di Indonesia dengan jumlah kematian lebih dari 220 ribu juta jiwa setiap tahun.Ini baru sedikit tentang betapa pentingnya dan bermanfaatnya layanan pengobatan bagi penyakit jantung.

Belum lagi kita melihat data penyakit kanker di Indonesia. Jumlah kanker di Negara berkembang seperti Indonesia terua meningkat mencapai 50-70 persen. dr. Adityawati Ganggaiswari, M. Biomed, Sekretaris medis Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Jumlah penderita kanker setiap tahunnya meningkat dari 10,9 juta pada 2001, dan diperkirakan akan menjadi 16 juta pada 2020. Pada 2002, 12,5 persen dari seluruh kematian disebabkan oleh kanker dan angka ini jauh melebihi kematian akibat HIV/AIDS, tuberkulosis dan malaria digabung menjadi satu.

UICC menyatakan, jika tindakan preventif dilakukan secara bersama sejak dini, maka dimasa mendatang diperkirakan 2 juta nyawa dapat diselamatkan hingga 2020, dan 6,5 juta nyawa pada 2040.

Belum lagi jika kita menilik penderita HIV/AIDS yang juga tiap tahun terus meningkat. Lihat saja data terakhir, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) dari jumlah kasus kumulatif dilaporkan terjadinya peningkatan pada jumlah kasus AIDS. Pada tahun 2007 terdapat 11.140 kasus, tahun 2008 terdapat 16.140 kasus, meningkat menjadi 19.973 pada akhir tahun 2009 dan kemudian kembali meningkat pada tahun 2010 menjadi 22.726 kasus.

Fakta-fakta di atas menunjukkan bahwa betapa banyak orang membutuhkan jaminan layanan kesehatan atas penyakit tersebut. Fakta itu juga menunjukkan bahwa akan banyak peserta yang terbantu dengan tambahan manfaat jaminan layanan kesehatan yang diberikan PT Jamsostek ini. (gustina asmara)

Sumber: http://lampung.tribunnews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5284