20 Tahun Berpulangnya Freddie Mercury
Tanggal: Thursday, 24 November 2011
Topik: Narkoba


RollingStone Indonesia, 24 November 2011

Jakarta - Goodbye everybody - I've got to go Gotta leave you all behind and face the truth

Lirik ini dinyanyikan dengan gaya aria beraura rock oleh Freddie Mercury pada epic bertajuk “Bohemian Rhapsody” bersama bandnya Queen dalam album A Night At The Opera di tahun 1975. Pada 24 November 1991, Freddie yang dilahirkan dengan nama asli Farrokh Bulsara ini betul-betul pergi meninggalkan kita semua termasuk jutaan pemuja Queen yang terkejut mendengar kabar berpulangnya Freddie yang terasa seperti sebuah sekonyong konyong yang tak terbantahkan.

Berpulangnya Freddie dalam usia 45 tahun di kediamannya di Kensington, Inggris diumumkan media secara serempak pada dini hari 25 November 1991. Lebih mengejutkan lagi beberapa hari setelah berpulangnya lelaki berkumis tebal ini, mencuat sebuah kabar yang sebetulnya bukan hal yang terlalu mengejutkan bagi sebagian orang.

Freddie Mercury yang dilahirkan di Stone Town, Zanzibar pada 5 September 1946 meninggal karena berkaitan dengan HIV. Sebelum menghembuskan nafas terakhir, Freddie Mercury pada tanggal 22 November 1991 sempat mengundang Jim Beach, manajer Queen ke Kensington. Mereka berdua berembuk untuk menyusun sebuah pengumuman ke publik perihal penyakit yang diidap Freddie selama ini. Pernyataan itu berbunyi seperti ini:

Following the enormous conjecture in the press over the last two weeks, I wish to confirm that I have been tested HIV positive and have AIDS. I felt it correct to keep this information private to date to protect the privacy of those around me. However, the time has come now for my friends and fans around the world to know the truth and I hope that everyone will join with me, my doctors, and all those worldwide in the fight against this terrible disease. My privacy has always been very special to me and I am famous for my lack of interviews. Please understand this policy will continue.

Pernyataan ini setidaknya melegakan, terutama bagi Freddie Mercury yang telah merahasiakan hal ini sejak tahun 1987. Saat itu, menurut Jim Hutton, kekasih Mercury, vokalis Queen ini telah didiagnosa mengidap AIDS. Saat itu juga, Freddie selalu membantah perihal penyimpangan seksual yang dijalaninya dihadapan para jurnalis.

Tahun 1990 kesehatan Freddie kian memburuk. Queen sempat stagnan dalam melakukan tur konser. Langkah Freddie kerap dikuntit fotografer yang ingin mendapatkan gambar kondisi Freddie sesungguhnya. Koran The Sun akhirnya mempublikasikan foto terkini Freddie Mercury pada terbitan 29 April 1991 yang terlihat kuyu dan kurus. Namun pihak Queen dan kerabatnya sepakat membantah tentang keterkaitan Freddie dengan virus HIV yang mematikan itu. Kondisi raga Mercury yang ringkih dan sangat kurus jelas terlihat pada video klip ”These Are Days Of Our Lives” yang di syuting pada Mei 1991. Setelah merampungkan album Queen pada Juni 1991, Freddie mengambil cuti di rumahnya di Kensington. Mantan kekasihnya di era 70an Mary Austin berada disamping Freddie. Mary merawat Freddie yang telah lunglai dalam pembaringan. Freddie bahkan mulai mengalami kesulitan untuk melihat. Kondisi Freddie sangat miris dan memilukan. Freddie bahkan mulai menolak perawatan medis tersebut. Dia tampak siap untuk meninggalkan dunia fana ini.

Koran The Sun kemudian membuat headline “Freddie Is Dead” dengan foto Freddie di atas panggung bertelanjang dada dengan latar belakang bendera Inggris Union Jack. Rasanya tak hanya penggemar Queen yang terisak, bahkan seluruh peminat pop dan rock berkabung atas kepergian sosok multitalenta Freddie Mercury.

Freddie Mercury adalah tokoh sentral Queen. Dia merancang logo Queen. Dia menjadi penyanyi utama Queen sembari memainkan piano. Freddie Mercury menulis 10 dari 17 hits besar Queen dari tahun 1971 hingga ajal menjemputnya. Lagu lagu itu antara lain “Seven Seas Of Rhye,” “Killer Queen,” “Bohemian Rhapsody,” ”Somebody To Love,” “We Are The Champion,” “Don’t Stop Me Now,” “Bicycle Race,” “Crazy Little Thing Called Love” dan “Play The Game.”

Sejak usia 7 tahun Freddie telah mahir bermain piano. Di usia 12 tahun Freddie membentuk band sekolahan bernama The Hectics. Freddie mendapat diploma dalam bidang seni dan desain grafis pada Ealing Art College. Kemampuan seni rupanya ini lalu diterapkan dalam membuat logo Queen serta rancangan grafis beberapa album Queen. Di tahun 1969 dengan pengaruh dari Jimi Hendrix dan Led Zeppelin, Freddie mulai terkena virus rock dengan berganbung dengan band bernama Ibex yang kemudian berubah nama menjadi Wreckage.

Ketika Wrecakge dianggap mentok, Freddie lalu bergabung dengan band lain di antaranya Sour Milk Sea yang juga usianya hanya seumur jagung saja. Di tahun 1970 Freddie bergabung dalam Smile yang digawangi Roger Taylor (drum) dan Brian May (gitar). Ketika John Deacon ikut bergabung dalam Smile, Freddie lalu mengubah Smile menjadi Queen meski awalnya ditentang oleh Roger Taylor dan Brian May.

”Saya tahu nama Queen memiliki konotasi dengan gay. Tapi nama Queen mudah diingat,” timpal Freddie yang saat itu juga mengubah nama belakangnya Bulsara menjadi Mercury.

Kekuatan utama Freddie yang mencuat adalah karakter vokal yang mumpuni. Meskipun Freddie memiliki suara dasar baritone tapi dalam upaya menyanyikan sebagian besar lagu Freddie mampu menempatkan range vokalnya pada wilayah tenor. Belum lagi jika Freddie mulai mendaki wilayah tinggi dengan berfalsetto yang dilumuri aura soulful. Warna suara Freddie memang lentur. Dia mampu menyentuh aura aria penyanyi tenor klasik tapi mampu meliuk secara soulful bagai cengkok Aretha Franklin, sang ratu soul yang kesohor itu.

Dalam solo karirnya Freddie Mercury bahkan pernah berduet dengan penyanyi soprano Spanyol Montserrat Caballe dalam “Barcelona.” Berduet dengan David Bowie dalam “Under Pressure” bahkan di tahun 1983 Freddie berduet dengan Michael Jackson. Duet ini rencananya akan dirilis dalam waktu dekat setelah musiknya didandani lagi oleh Roger Taylor dan Brian May.

Berbeda dengan penampilan panggungnya yang flamboyan, Freddie sebetulnya adalah sosok pemalu yang introvert. Jarang melakukan wawancara dengan jurnalis. ”Tapi saya kan berubah menjadi pribadi yang berbeda saat di atas panggung.Saat itu saya adalah lelaki yang sangat ekstrovert,” ungkapnya.

Dan 20 tahun yang silam ketika terbetik kabar berpulangnya Freddie Mercury, saya yang masih berkiprah sebagai penyiar di sebuah radio swasta pun mulai memutar lagu-lagu Queen yang memorable. Jika kita simak, Freddie sebetulnya banyak menyusupkan pesan pesan khusus dalam lirik lirik lagunya.

Freddie Mercury seperti meramal jalan kehidupannya sendiri.

The Show must go on! Yeah! Inside my heart is breaking, My make-up may be flaking, But my smile, still, stays on!

Whatever happens, I'll leave it all to chance. Another heartache - another failed romance. On and on...

Does anybody know what we are living for?

(RS/RS)

Sumber: http://rollingstone.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5291