99 Warga Aceh Terjangkit HIV/AIDS
Tanggal: Friday, 25 November 2011
Topik: HIV/AIDS


Berita Sore, 24 November 2011

Meulaboh: Jumlah penderita HIV/AIDS di Provinsi Aceh pada triwulan ketiga tercatat 99 jiwa yang didominasi kaum pria akibat melakukan prilaku seks menyimpang, kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Pemerintah Aceh, Dr Ormaia Nya’ Oemar.

“Angka ini sanggat besar peningkatannya, karena pada tahun 2004 lalu hanya ada satu khasus yang kami temukan dan ini sudah harus menjadi perhatian serius dari pemerintah Aceh,” katanya usai seminar peringatan hari HIV/AIDS sedunia di Meulaboh, Kamis [24/11].

Ia mengatkan bahwa Pemerintah sudah sudah menyiapkan berbagai fasilitas medis guna mencegah terjadinya penularan sehingga semakin meningkatkan jumlah penderita.

Lebih lanjut dikatakan, dari 17 Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh, hanya tiga daerah yang belum ditemukan adanya korban gejala penyakit mematikan itu, yakni Subulussalam, Kabupaten Aceh Singkil dan Nagan Raya.

Kemudian rata-rata Kabupaten/Kota lain didomisili oleh penderita HIV/AID dari tiga sampai 11 jiwa dan dikhawatirkan jumlah itu semakin meningkat karena kurangnya keterbukaan penderita memeriksakan kesehatan mereka, katanya.

Ia mengatakan, terjadinya peningkatan penderita penyakit itu di wilayah Aceh karena para penderita tidak terbuka kepada pihak medis, kemudian penyakit mematikan ini akan terus terinfeksi pada keluarga mereka.

“Ini angka yang kami catat, bisa saja jumlah penderita penyakit ini lebih banyak namun tidak ada warga yang mengakui karena malu dan sebagainya, padahal ini sangat berbahaya untuk kehidupan keluarga mereka,” imbuhnya.

Dr Ormaia menyebutkan, Pemerintah Aceh sudah menyediakan dana untuk pengobatan rutin pasien ini capai 75 dolar AS pertahun umntuk setiap penderita ditambah dengan fasilitas medis di rumah sakit yang diperkirakan mampu disembuhkan.

Lanjutnya, dari data tercatat 99 jiwa tersebut seluruhnya sudah terinfeksi “operteminitas” yang sudah sulit untuk diselamatkan, sementara kemungkinan besar di luar itu banyak korban lain juga namun enggan memeriksakan diri.

Solusi lain, katanya, di Aceh yang disebutb sebagai Serambi Mekkah, warganya bisa kembali pada Petunjuk Agama Islam agar tidak terkena penyakit mematikan itu, kemudian mencegah empat penularan yakni pengunaan narkoba, ganti jarum suntik, seks yang menyimpang, dan transfusi darah.

“Kalau warga Aceh bisa melakukan saran empat pencegahan tersebut pasti frekwensi peningkatan jumlah penderita bisa ditekan, terutama sekali keterbukaan mereka yang sangat diharapkan agar bisa kami cegah tertular pada keluarga mereka,” sebutnya. Pemerintah Aceh menargetkan pemutusan mata rantai paling tidak frekwensi penyakit itu bisa ditekan sampai satu persen dari total penduduk Aceh pada tahun 2015. ( ant )

Sumber: http://beritasore.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5300