Penanganan HIV/AIDS Masih Dikeluhkan
Tanggal: Monday, 28 November 2011
Topik: HIV/AIDS


Kompas, 28 November 2011

Jakarta - Akses layanan kesehatan bagi orang dengan HIV/AIDS masih terbatas. Penanganannya belum menjanjikan pencapaian sasaran yang ditetapkan pemerintah dalam Tujuan Pembangunan Milenium 2015.

Laporan Bappenas tentang Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) 2010 menyebutkan, jumlah infeksi baru masih meningkat meskipun prevalensi HIV/AIDS rendah, yakni 0,17 persen dari semua penduduk.

”HIV/AIDS musuh bersama. Semua, baik pemerintah, dunia usaha, LSM (lembaga swadaya masyarakat), pekerja, maupun unsur masyarakat lain, marilah menanggulangi bersama,” kata Wakil Presiden Boediono pada peringatan Hari AIDS Sedunia, Minggu (27/11), di Silang Monumen Nasional, Jakarta.

Wapres menilai, upaya yang perlu ditingkatkan antara lain memperluas jaringan fasilitas layanan, meningkatkan keikutsertaan publik mencegah dan menangani HIV/AIDS, memperbaiki koordinasi dan tata kelola semua pihak, serta memperbaiki sistem informasi HIV/AIDS.

Laporan Program PBB untuk AIDS menyebutkan, jumlah kematian karena HIV/AIDS di dunia mencapai puncaknya tahun 2005 dengan 2,2 juta kematian. Angka itu turun menjadi 1,8 juta kematian.

Angka kematian menurun. Namun, jumlah orang meninggal akibat AIDS masih 3.000-5.000 orang per tahun (10 orang setiap hari).

Diskriminasi

Di Indonesia, orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih merasa didiskriminasikan oleh petugas, pengelola fasilitas kesehatan, dan penyedia asuransi. Anggota Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia, Hussen Basalamah, mengatakan, tak semua rumah sakit mau melayani pengidap HIV/AIDS. ”Banyak petugas kesehatan belum tahu cara menangani orang terinfeksi HIV,” katanya.

Setelah dirujuk, pasien harus menjelaskan kepada penyedia asuransi mengapa harus berobat ke rumah sakit tertentu, bukan rumah sakit yang ditunjuk penyedia asuransi. Mau tak mau mereka harus menjelaskan bahwa mereka terinfeksi HIV.

Hingga kini tak ada asuransi kesehatan swasta yang memberi perlindungan bagi pengidap HIV/AIDS atau keluarganya. Satu-satunya pembiayaan kesehatan yang menanggung perawatan adalah jaminan kesehatan masyarakat (jamkesmas). Namun, praktiknya sering tak sesuai.

”Pertanggungan yang diberikan tergantung pendekatan LSM atau kelompok pendamping kepada dokter rumah sakit/puskesmas dan pengelola jaminan,” kata peneliti Pusat Penelitian HIV/AIDS Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya, Very Kamil.

Pemahaman keliru tentang HIV/AIDS dan keterbatasan petugas serta sarana kesehatan membuat banyak pemerintah daerah menyerahkan penanganan pengidap langsung ke rumah sakit rujukan tingkat provinsi.

Kelompok produktif

Peringatan Hari AIDS Sedunia kali ini bertema ”Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV dan AIDS”. Menurut Kepala Subdirektorat Pengawasan Norma Kesehatan Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dedi Adi Gumelar, 88 persen pengidap HIV/AIDS adalah kelompok usia kerja produktif. Separuhya berusia 20-29 tahun. Laki-laki pengidap HIV/AIDS tiga kali lipat dari perempuan.

Kondisi ini mengancam hilangnya sumber daya manusia produktif dan kemiskinan bagi keluarga yang ditanggungnya. Ini terkait langsung dengan pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk miskin. (WHY/MZW)

Sumber: http://health.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5329