Darah PMI Terkontaminasi Penyakit
Tanggal: Tuesday, 29 November 2011
Topik: Narkoba


Surabaya Post, 28 November 2011

Pasien yang akan transfusi darah, berhak bertanya pada dokter, apakah jarum yang dipakai steril atau tidak

KEDIRI - Puluhan kantong darah yang dihimpun Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Kediri, ditengarai tercemar penyakit menular, seperti hepatitis B, hepatitis C, dan syphilis. Jenis hepatitis B ada sekitar 30 kantung darah, yang diambil dari orang yang berbeda. Kemudian jenis hepatitis C kurang dari 10 kantong, syphilis satu orang dan HIV/AIDS kosong untuk temuan 2011.

Dengan adanya penemuan darah yang tercemar itu, PMI selalu melakukan "screening" atau penyaringan darah setiap darah yang diambil dari pendonor dan selalu memeriksanya secara khusus. Hal ini untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran penyakit. “Bisa jadi tubuh pendonor itu sehat tapi ada gejala penyakit yang tampak. Misal virus HIV baru nampak setelah 3-5 tahun kemudian, tergantung kondisi kesehatan pasien,” kata Kepala UTD (Unit Transfusi Darah) PMI Kota Kediri, Ira Widyastuti, Minggu (27/11).

Dari empat penyakit menular yang diwaspadai, kata Ira, penyakit hepatitis yang paling banyak ditemukan. Karena itu, dengan temuan sejumlah kantong darah yang tercemar penyakit itu, jelas dia, langsung dimusnahkan sehingga darah itu tidak tersalurkan pada masyarakat. “Kami punya alat khusus untuk memusnahkan darah yang tercemar,” ujarnya.

Untuk mencegah agar darah tercemar didonorkan, selain melakukan penyaringan darah, PMI juga menerapkan pemeriksaan sebelum pendonor darah menyumbangkan darahnya. Di antaranya pedonor diperiksa berat badan, hemoglobin darah, golongan darah, tekanan darah, serta pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan hemoglobin ini dinilai penting. Jika pedonor darah kadar hemoglobinnya kurang dari 12,5 gram, diajurkan untuk tidak mendonorkan darahnya, karena bisa mengganggu kesehatan. ”PMI juga selalu mengingatkan jarak donor darah minimal delapan pekan dari donor sebelumnya. Di mana selama itu produksi sel darah merah pengganti sudah sudah kembali pulih,” jelasnya.

Saat ini stok darah di Bank Darah PMI Kediri masih cukup, mencapai 500 kantong lebih. Golongan darah A sebanyak 72 kantong, golongan B ada 210 kantong, golongan O sebanyak 185 kantong, dan golongan AB tersedia 37 kantong. Walaupun stok masih banyak, kegiatan donor darah terus dilakukan, termasuk bekerjasama dengan instansi pemerintah maupun swasta. Permintaan terbanyak, biasanya penderita demam berdarah dan cuci darah.

Sementara itu, terkit masih tingginya penyebaran virus HIV/AIDS di Kota Kediri, salah satu penyebabnya melalui jarum suntik saat transfusi darah, maka pasien diwajibkan menanyakan sterilisasi jarum suntik yang digunakan.

“Pasien yang ingin transfusi darah berhak menayakan jarum suntik yang digunakan, apakah steril atau tidak. Kalau mau yang aman, ya memintalah pada petugas, jarum yang steril atau yang baru,” kata Wakil Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar saat aksi di jalan memperingati Hari AIDS se Dunia, Sabtu (26/11).

Data penderita HIV/AIDS di Kota Kediri, kata Sekretaris Komisi Penanggualangan AIDS Daerah (KPAD), Heri Nurdianto, sejak 2004 hingga 2011, sebanyak 129 penderita dan 21 di antaranya meninggal dunia. Para penderita, kebanyakan berusia produktif, yakni sekitar 70%. “Dimungkinkan, usia produktif lebih banyak melakukan hubungan seks yang bukan dengan istrinya,” ujarnya.gim

Sumber: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5343