Niat Jaga Adik, Pilih Jadi Wanita Malam
Tanggal: Wednesday, 30 November 2011
Topik: Narkoba


JPNN.com, 30 November 2011

PANGANDARAN--Sebagai daerah wisata, Pangandaran tak bisa lepas dari keberadaan tempat hiburan malam. Kondisi itu dimanfaatkan para wanita penjaja seks (WPS) dari berbagai kota untuk mengadu nasib di Pangandaran. Menjelang peringatan Hari AIDS sedunia --1 Desember mendatang--, Radar (Group JPNN) menelusuri kehidupan di kawasan berisiko tinggi.

Dibantu seorang teman yang tinggal di lingkungan tempat hiburan malam, Radar diperkenalkan dengan seorang perempuan muda, sebut saja Edelwis --bukan nama sebenarnya. Dia mengaku warga Sidareja Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Usianya masih muda. Edelwis mengaku baru berusia 24 tahun dan sudah memiliki dua anak yang usianya 4 tahun dan 1,5 tahun. Pertengahan tahun ini, dia memilih terjun ke dunia esek-esek, sampai saat ini statusnya masih menikah.""Saya masih punya suami, tapi saya ditinggalkan. Sekarang lagi proses perceraian Mas,""tuturnya.

Saat ditemui Radar siang kemarin (29/11), cara berpakaian Edelwis tak mencolok perhatian, seperti halnya perempuan-perempuan malam lainnya. Edelwis memakai kaos lengan pendek dipadu celana panjang jeans. ""Gak harus terbuka lah Mas. Sekarang kan nggak lagi kerja. Kalau malam, ya memang nggak seperti ini (cara berpakaiannya, red),"" ulasnya tersipu malu.

Sembari membaca sebuah buku berjudul HIV & TB yang dipinjamnya dari Kelompok Peduli AIDS Pangandaran (KPAP), Edelwis mulai bercerita lika-liku hidupnya. Keputusan terjun ke dunia malam, muncul saat kali pertama mengetahui pekerjaan adiknya --terpaut usia 6 tahun dengannya- yang terjun di dunia malam.

Semula, adiknya menghilang beberapa tahun terakhir. Atas perintah kedua orang tuanya, Edelwis mencarinya hingga akhirnya dipertemukan di sebuah tempat hiburan malam di kawasan Pangandaran. ""¯Jujur waktu itu saya kaget dan menangis saat tahu pekerjaaan adik saya. Dunia seperti ini (dunia malam, red) cukup bahaya buat adik saya yang masih muda,""kenangnya. ""Saya pun nekat tinggal di sini dan akhirnya kerja bareng. Ingin jagain adik saya,"" susul dia dengan raut wajah memerah. Matanya berkaca-kaca.

Selain alasan itu, Edelwis mengaku terhimpit kebutuhan ekonomi setelah suaminya pergi tanpa alasan jelas. Peristiwa pahit itu dialami Edelwis ketika dia mengandung anak kedua.""Saat itu saya kerja merantau jadi buruh pabrik di Jakarta. Namun bukannya hidup saya dan keluarga lebih baik, tapi malah membuat rumah tangga saya berantakan,"" sesalnya.

Edelwis sempat menjadi TKI di Malaysia selama dua tahun. Itu dilakukan untuk membantu meringankan beban suaminya. Saat itu, suaminya sama-sama bekerja sebagai buruh pabrik. Waktu demi waktu pekerjaan tak biasa itu dijalani Edelwis. Rasa takut bertemu orang-orang yang mengenali dirinya menghantui Edelwis setiap malam. Terlebih Edelwis harus berbohong kepada kedua orang tuanya.""¯Orang tua saya nggak tau saya kerja beginian dengan adik saya. Taunya saya kerja di toko pakaian,"" tuturnya.

Ketakutannya yang dipendamnya sempat terbongkar. Berkali-kali Edelwis bertemu teman lelaki satu kampungnya yang sedang menikmati kehidupan malam.""Untungnya mereka baik, setelah saya cerita, mereka mau menjaga rahasia ini. Namun beda sama adik saya dan teman saya yang lain di sini. Kadang mereka harus mengeluarkan uang tutup mulut,""tuturnya.

Sejujurnya, sebut Edelwis, menjalani profesinya ini tidka nyaman. Apalagi bekerja satu tempat dengan adiknya. Berkali-kali juga Edelwis pernah mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari tamu-tamunya yang dipengaruhi alkohol. Hal itu pun menjadi pertimbangan dia untuk mengakhiri profesinya itu.""Saya khawatir sama adik saya, rasanya gak tega aja untuk ninggalin dia di sini,""sebut dia lagi.

Dari segi penghasilan, menurut Edelwis tak perlu diragukan lagi. Penghasilan jadi TKI atau buruh pabrik di Jakarta tidak ada apa-apanya ketimbang dirinya jadi penjaja seks. Jika sedang ramai pengunjung, dia bisa menghasilkan hingga satu juta dalam semalam. ""Kalau lagi banyak, kayaknya nyari uang gampang, tapi kalau lagi sepi nyari seratur ribu saja susah,""tuturnya.

Di balik kesenangan meraup uang, tak dipungkiri Edelwis dihinggapi rasa risau. Yah, dia khawatir terjangkit penyakit menular seksual! Memupus rasa risaunya itu, Edelwis selalu mengandalkan alat kontrasepsi kala menghadapi tamu.""Setiap minggu juga ke dokter untuk suntik kesehatan,""kata dia.

Edelwis mengaku tidak akan berlama-lama menjalani dunia malam. Dia menargetkan punya uang simpanan kemudian berwirausaha di kampung halamannya. ""Sekarang lagi nabung, mudah-mudahan tahun depan gak kerja beginian lagi,"" janjinya. (nay)

Sumber: http://www.jpnn.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5364