Perilaku Seks Buruk Penyebab Karyawan Idap HIV/AIDS
Tanggal: Thursday, 01 December 2011
Topik: HIV/AIDS


okezone.com, 30 November 2011

PEKAN lalu, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi DKI Jakarta mengungkap data bahwa kalangan tenaga nonprofesional/karyawan menempati urutan tertinggi pengidap HIV/AIDS di DKI Jakarta. Mengapa kalangan yang memiliki edukasi memadai justru terjebak di dalamnya?

Hari AIDS sedunia yang jatuh 1 Desember menjadi cerminan masyarakat terhadap pemahaman seputar penyakit ini. Begitu banyak kampanye disuarakan dengan mengungkap berbagai data, salah satunya dirilis KPA DKI Jakarta berdasarkan Data Seksi Surveilans Epidemiologi HIV dan AIDS Dinas Kesehatan DKI Jakarta, 2011.

Data menguak fakta bahwa pengidap terbanyak HIV/AIDS di DKI Jakarta adalah kalangan tenaga nonprofesional/karyawan. Sebagai golongan yang memiliki edukasi cukup, termasuk informasi seputar HIV/AIDS dan risikonya, kalangan pekerja bisa dikatakan minim risiko. Kenyataannya tidak demikian.

“Kadang, pendidikan tidak berjalan beriringan dengan perilakunya, misalnya kenapa banyak dokter yang juga menjadi alkoholik? Padahal, mereka lebih memahami mengenai risiko alkohol daripada masyarakat umum. Point saya, kita tidak selalu bisa mengkaitkan pendidikan mengenai risiko HIV/AIDS dan penyakit kelamin lainnya dengan perilaku yang benar,” kata Todd Callahan, Country Director DKT Indonesia kepada okezone usai konferensi pers Pekan Kondom Nasional 2011 “Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV/AIDS” di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta, Rabu (30/11/2011).

Ia menambahkan, belum lagi faktor pengelakan dari dalam diri. Banyak orang mengetahui risiko HIV/AIDS dan penyakit kelamin lainnya, tapi menganggap diri tidak mungkin akan terperosok ke dalamnya.

“Mereka membodohi diri sendiri. Mereka berpikir hal itu tidak akan terjadi kepada saya. Padahal, perilakunya mendekatkan mereka pada risiko itu,” tandasnya.

Faktor pengelakan ini yang mendorong seseorang untuk berpikir jangka pendek meski dihadapkan pada risiko jangka panjang yang lebih berbahaya. Pengelakan termasuk ketika mereka menyadari diri sudah terinfeksi HIV/AIDS.

“Orang yang terinfeksi HIV/AIDS mungkin sudah terinfeksi selama lima sampai delapan tahun, tapi di Indonesia dan banyak negara, mereka tidak sadar dan enggak mau melakukan tes HIV. Mereka takut untuk tahu status kesehatannya. Itu sebabnya, golongan yang sudah berpendidikan tinggi tidak selalu berarti perilaku seksnya bertangung jawab,” tutupnya.

Selain karyawan, posisi tertinggi kedua pengidap HIV/AIDS adalah ibu rumah tangga sejumlah 147, disusul kaum wiraswasta sebanyak 139 orang. Sementara, jumlah keseluruhan penderita HIV/AIDS DKI selama setahun hingga Juni 2011 sebanyak 1.184 orang. (ftr)

Sumber: http://lifestyle.okezone.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5380