Menyelamatkan Bangsa dari HIV/AIDS
Tanggal: Thursday, 01 December 2011
Topik: HIV/AIDS


Harian Analisa, 01 Desember 2011

Oleh : Ks. Min Sergai. Salah satu jenis penyakit yang mematikan dalam dasawarsa terakhir adalah HIV/AIDS. Hal ini telah menimbulkan korban jiwa yang sangat besar. Setidaknya, hal ini telah membunuh 38,6 juta jiwa (57.000 jiwa adalah anak-anak) pada tahun 2005, sejak pertama kali diakui yaitu pada tanggal 5 Juni 1981. Sungguh hal ini merupakan preseden buruk bagi pertumbuhan dan perkembangbiakan umat manusia. Hal ini diperparah dengan belum ditemukan elementer penghambat perkembangan virus tersebut. Sehingga HIV terus berkembang dan hidup di tengah umat manusia. Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara HIV (Human Immunodeficieny Virus) merupakan virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terjangkiti virus ini akan menjadi sangat rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terserang penyakit lainnya. Sungguhpun penanganannya sudah mencapai perkembangan yang menggembirakan, namun hal ini belum mampu mengatasi virus ini sampai tuntas. Sehingga virus ini masih terus tumbuh berkembang. Perkembangbiakan virus ini melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) ataupun aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV seperti yang terkandung pada seluruh cairan tubuh (ludah, darah, semen, air susu, dan yang sejenisnya)

AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan sekumpulan gejala dan infeksi yang ditimbulkan karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat terinveksi virus HIV. Dengan kerusakan sistem kekebalan tubuh tersebut, maka individu yang terjangkiti virus ini akan mudah diserang dengan virus/kuman penyakit yang lainnya. Sebab, pertahanan tubuhnya telah berkurang. Kondisi inilah yang sebenarnya membuat HIV/AIDS itu dapat membunuh "inang" yang ditumpanginya. Biasanya penderita AIDS memiliki gejala infeksi sistemik seperti demam berkeringat (terutama pada malam hari), pembengkakan kelenjar, kedinginan, merasa lemah, serta mengalami penurunan berat badan.

Hukuman Sosial yang A-manusiawi

Individu yang terjangkiti HIV/AIDS merupakan korban yang perlu dilindungi. Atau bahkan jika mungkin diupayakan pengobatannya secara maksimal untuk kesembuhannya. Hal inilah yang menjadi kepedulian bersama. Sebab, selama ini para korban yang terjangkiti HIV/AIDS malah dikucilkan di tengah masyarakat. Bahkan diusir dari lingkungan sekitarnya. Sehingga dengan perlakuan masyarakat umum yang sedemikian itu, telah membuat korban HIV/AIDS telah mati terlebih dahulu. Mati sebelum ajal menjemputnya.

Dikatakan mati sebelum waktunya dikarenakan perlakuan negatif yang ditujukan kepada para korban HIV/AIDS. Padahal mereka adalah korban yang sesungguhnya memerlukan perlindungan dan pengobatan. Bagaimana agar bisa bertahan hidup dengan baik sebagaimana masyarakat umum lainnya. Hal inilah yang semestinya juga dikampanyekan oleh seluruh masyarakat. Pemerintah bertanggung jawab terhadap kesejahteraan sosial para warga masyarakat yang telah menjadi korban HIV/AIDS.

Selama ini korban HIV/AIDS dijauhi oleh warga masyarakat lainnya. Hal itu merupakan suatu hukuman sosial yang sangat berat. Bagaimana bisa hidup nyaman kalau selalu dikucilkan oleh masyarakat lainnya., padahal individu tersebut sangat memerlukan dukungan moral dari seluruh masyarakat yang ada di sekitarnya. Setidaknya, dengan dukungan moral itu akan menambah spirit untuk kesembuhan korban.

Tragisnya, yang mendapatkan hukuman sosial itu bukan hanya individu korban itu saja. Tetapi juga menjalar kepada seluruh anggota keluarga dan kaum kerabat yang terjangkiti. Seolah dengan adanya anggota keluarga yang terjangkiti HIV/AIDS menjadi aib. Aib yang harus disembunyikan. Sebab, kalau sampai diketahui oleh khalayak ramai, maka seluruh anggota keluarga itu akan dikucilkan. Hal inilah yang membuat keluarga korban menyembunyikan penyakit yang diidap oleh anggota keluarganya yang menjadi korban terinveksi HIV/AIDS.

Pendidikan tentang HIV/AIDS

Institusi pendidikan formal juga sejatinya mempunyai tanggung jawab yang besar untuk menyelamatkan bangsa ini. Bagaimana mungkin bangsa ini bisa selamat pada masa depan, jika seluruh generasi mudanya, atau bahkan anak-anaknya terjangkiti HIV/AIDS yang terkenal mematikan itu. Perlu juga disebarluaskan bagaimana perkembangbiakan virus HIV/AIDS ini bisa menjadi semakin menggejala, serta penanggulangannya.

Pendidikan formal (sekolah SD-SMA) perlu juga menyisipkan materi ini dengan intensitas yang tinggi. Dengan penyisipan materi ini pada matapelajaran yang relevan, maka memberi informasi yang cukup kepada seluruh peserta didik, sedini mungkin. Dengan begitu, akan mudah tertanam di dalam sanubarinya sehingga dapat menjadi pegangan dalam hidupnya tentang bahaya HIV/AIDS tersebut. Dengan pengetahuan yang sedemikian itulah maka penyebarluasan HIV/AIDS akan terhenti. Sehingga bangsa ini akan terbebas dari bahaya ganasnya virus HIV/AIDS.

Penyebaran virus HIV/AIDS ini dapat tertular melalui pertukaran cairan tubuh (transfusi darah ataupun kontak cairan tubuh lainnya), pertukaran alat suntik (atau yang sejenisnya), bisa juga hal itu tertular dari ibu kepada anak yang dikandungnya atau yang disusuinya. Sehingga perlu pula dipahami bahwa perkembangbiakan ini tidak semata-mata dikarenakan hubungan seksual secara bebas dan/atau berganti pasangan, sebagaimana yang dipahami oleh sebagian kalangan masyarakat.

Bersamaan dengan itu pula, untuk menghempang semakin maraknya, maka tidak ada salah jika hal itu dimulai dari dalam keluarga. Para orang tua juga berperan dalam menginformasikan bahaya HIV/AIDS. Perlu disampaikan kepada seluruh anggota keluarga bahaya, dampak, serta cara penularannya. Jika hal itu bisa dilakukan, maka akan tercegahlah anggota keluarga dari bahaya virus tersebut. Secara kolektif pula, nantinya akan dapat membebaskan seluruh warga masyarakat dari keganasan virus tersebut.

Penutup

Untuk mengatasi pembunuhan massal yang diakibatkan oleh HIV/AIDS diperlukan sosialisasi secara massif, terencana, dan berkelanjutan. Hal itu pula harus dilakukan oleh lintas sektoral; media massa, pendidikan, serta piranti sosial lainnya. Hal ini diyakini dapat mengeliminasi perkembangbiakan HIV/AIDS.

Kepedulian terhadap minimalisasi penyebaran virus HIV/AIDS akan dapat menyelamatkan bangsa ini. Semoga semuanya bisa peduli. Dan yang terpenting tidak stigmatisasi terhadap korban HIV/AIDS. Sebab, mereka adalah korban. Mereka perlu dilindungi. Mereka perlu ditolong untuk penyembuhannya. Perhatian yang sama juga perlu diberikan kepada seluruh keluarga korban. Semoga usaha bersama ini dapat membuahkan hasil yang optimal. Bersama kita bisa!***

Sumber: http://www.analisadaily.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5394