Bebaskan Papua dari AIDS!
Tanggal: Thursday, 01 December 2011
Topik: Narkoba


Kedaulatan Rakyat, 01 Desember 2011

Jika dulu tekad untuk membebaskan Irian Barat (Irian Jaya) - kini Papua - digelorakan dari Yogya, kiranya semangat seperti itu berkobar lagi dari Yogya. Namun sekarang kita bukan lagi membebaskan Papua dari penjajahan Belanda, namun kita membebaskan Papua dari penjajahan wabah AIDS!

Ya, AIDS sedang menjajah Papua. Seperti dilansir www.vivanews.com, Mena Robert Satya dari kelompok Elijah Generation mengatakan bahwa wabah AIDS di Papua sudah seperti genosida (genocide) yang harus dihentikan segera. Komentarnya, “Jika tidak, maka diperkirakan 20 tahun mendatang kita hanya mendengar bahwa di atas tanah Papua pernah ada bangsa kulit hitam yang hidup, dan akhirnya Papua hanya menjadi museum.” Untuk kasus HIV/AIDS di Indonesia, Papua menempati urutan kedua setelah Jakarta. Terjadi peningkatan dramatis laporan kasus AIDS di Papua, dari 15 kasus yang dilaporkan di tahun 1996 menjadi lebih dari 1.170 kasus AIDS sampai Juni 2005.

Penyebaran virus HIV/AIDS di Papua bahkan semakin memprihatinkan. Dari jumlah penduduk Papua yang hanya 2,8 juta jiwa (hasil data BPS), ternyata kasus HIV/ AIDS di Papua kini telah menembus angka 10.522 kasus. Itu merupakan lonjakan, sebab pada September 2010 baru ada 7.000 kasus sebagaimana dilaporkan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua drg. Josef Rinta Rachdyatmaka, MKes kepada Cenderawasih Pos.

Kemungkinan besar masalah HIV/AIDS di Papua itu merupakan fenomena gunung es, sebab jumlah kasus yang muncul itu barulah yang terdata. Diduga, jumlah kasus yang belum terpantau, semuanya bisa mencapai 24.300 kasus. Adapun kota Jayapura dan Jayawijaya merupakan yang tertinggi, di Jayapura sudah mencapai 2.012 kasus, sementara di Jayawijaya mencapai 1.600. Kasus HIV/AIDS di Jakarta berbeda dengan di Papua. Di Jakarta, faktor penyebabnya yang dominan adalah karena penggunaan narkoba dan penggunaan jarum suntik. Sedangkan di Papua adalah karena perilaku seks bebas, termasuk perilaku-perilaku heteroseks, homoseksual dan biseksual.

Penulis mengingatkan pembaca akan betapa menderitanya saudara-saudara kita di Papua. Mereka bukan hanya telah dikuras kekayaan alamnya, terzolimi hak-hak adatnya, dan terbodohkan pemikiran dan jiwanya. Kini, mereka terancam maut oleh keganasan AIDS. Akankah kita biarkan begitu saja? Gunung Grasberg di Papua misalnya, telah memberikan emas, perak, dan tembaga. PT Freeport yang menambangnya untung US $ 1,8 miliar pertahun. Sementara orang Papua hanya mendapatkan limbahnya. Limbah-limbah itu dibuang ke Sungai Aghawaghon yang menyatu dengan sungai Otonoma dan Ajkwa. Suku Amungme di Papua yang secara hukum hak ulayat semestinya lebih berhak atas kekayaan alam itu hanya bisa menelan pil pahit berupa kerusakan alam, penderitaan, kemiskinan, dan peminggiran (Abdullah Yazid dkk, 2007).

Sejarah mencatat bagaimana semangat untuk membebaskan rakyat Papua dari belenggu penjajahan itu berkobar dari Yogya. Waktu itu, Dewan Pertahanan Nasional merumuskan Tri Komando Rakyat (Trikora) yang diucapkan oleh Presiden Soekarno di Yogya pada 19 Desember 1961. Isi Trikora itu adalah: (1) gagalkan pembentukan negara Papua bikinan kolonial Belanda, (2) kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat, (3) bersiaplah untuk mobilisasi umum. Sejak itu, segenap kekuatan di negeri ini dikerahkan sampai akhirnya Irian Barat masuk menjadi wilayah RI pada 1 Mei 1963.

Sekarang, Indonesia masih terjajah. Kapitalisme global dan neoliberalisme mencengkeram kita. Adapun Papua, ditambah lagi dengan ‘penjajahan’ berupa wabah AIDS. Dibutuhkan political will dan energi nasionalisme untuk memerangi para penjajah itu.

Ingatlah, baik penjajahan politik, penjajahan ekonomi, maupun penjajahan oleh penyakit itu terdapat kesamaan, yaitu rakyatlah yang selalu menjadi korban. Dalam peringatan Hari AIDS Sedunia di tengah suasana Papua yang memprihatinkan hari-hari ini, penulis mengetuk nurani pembaca, khususnya wong Yogya untuk bergerak bersama membebaskan Papua dari AIDS!

Sumber: http://www.kr.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5411