102 Penduduk Aceh Terjangkit HIV/AIDS
Tanggal: Thursday, 01 December 2011
Topik: HIV/AIDS


Harian Analisa, 01 Desember 2011

Banda Aceh - Jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Provinsi Aceh saat ini kian mengkhawatirkan. Berdasarkan data yang diperoleh hingga akhir November 2011, tercatat sebanyak 102 warga Aceh ditemukan mengidap penyakit yang dapat menghilangkan kekebalan tubuh tersebut. "Tahun 2010 kita berhasil mendapatkan data 25 pengidap dan penderita HIV/AIDS. Sedangkan hingga November 2011 kita berhasil memperoleh data 28 orang lagi. Pendeknya dari 2004 sampai 2011 sudah 102 orang yang mengidap serta menderita HIV/AIDS," ujar Wakil Gubernur Aceh, Muhammad Nazar, kepada wartawan, Rabu (30/11).

Nazar yang juga Ketua Pelaksana Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA) Aceh ini menyebutkan, dari jumlah itu, 80 orang masih hidup dalam keadaan sakit-sakitan tanpa ada obat penyembuhnya, sedangkan 22 orang telah meninggal. Jumlah itu akan bertambah dalam waktu dekat ini karena telah ditemukan enam orang lagi yang sedang ditunggu datanya dan sudah positif terinfeksi HIV, bahkan sudah hampir pasti AIDS. Tetapi mereka ini belum dimasukkan dalam data akumulatif sampai ada data final.

Fenomena gunung es

Menurutnya, dari total pengidap HIV dan penderita AIDS itu, datanya didapatkan dari layanan kesehatan berbagai kabupaten/kota, bukan karena mereka melaporkan secara khusus atau karena kesadaran.

"Ini artinya secara ilmiah kita harus hitung satu orang kali seratus. Jadi, kalau sekarang hipotesanya di Aceh berarti ada lebih dari seribuan pengidap HIV serta sebahagian besar telah menderita AIDS. Tentu ada berbagai penyebab mereka tidak berani melapor secara khusus ke tempat layanan kesehatan, termasuk takut distigmakan dan malu," ungkapnya.

Lebih lanjut ditambahkannya, para pengidap HIV dengan masa lima sampai sepuluh tahun lalu kini semakin banyak yang telah menjadi penderita AIDS tanpa dapat disembuhkan serta satu persatu meninggal.

Penyebab-penyebab dominan HIV/AIDS di Aceh adalah heteroseksual atau hubungan seksual berganti-ganti pasangan dan jarum suntik narkoba. Hubungan seksual dengan pasangan suami-istri yang salah satunya telah terkena HIV juga menjadi penyebab memperbanyak penderita, terutama di kalangan perempuan atau istri karena ketularan, bahkan bisa menular hingga ke bayi yang dilahirkan.

Karena itu, terangnya, pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS harus dilakukan dengan berbagai cara, termasuk tidak memerangi penderitanya dengan vonis dan stigma kebencian. Apalagi sebagiannya terkena HIV/ AIDS karena tertular, bukan penyimpangan perilaku dan agama.

Dari sisi jenis kelamin penderita HIV/ AIDS paling banyak memang laki-laki, yaitu mencapai 66 persen dan kaum perempuan 34 persen.

Dari sisi profesi pekerjaan, kalangan wiraswasta paling banyak, disusul ibu rumah tangga, petani, sopir jarak jauh, pelaut, pramuria, aparat keamanan, buruh, mahasiswa, siswa, peri-natal atau bayi yang terinveksi HIV sejak masih janin, pegawai negeri, wanita pekerja seks, tukang parkir dan pengangguran.

Sedangkan dari sisi teritorial administratif, hampir semua kabupaten/kota di Aceh sudah didapatkan pengidap dan penderita HIV/ AIDS, kecuali Aceh Singkil, Kota Subulussalam dan Nagan Raya.

Namun di daerah kabupaten/kota ini bukan berarti tidak ada pengidap HIV/AIDS karena soalnya mereka juga tidak mau melapor atau memeriksa diri secara khusus untuk mendiagnosanya seperti daerah lain juga di Aceh. (mhd)

Sumber: http://www.analisadaily.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5415