Perlu Sistem yang Lindungi Semua Orang dari HIV dan AIDS
Tanggal: Thursday, 01 December 2011
Topik: HIV/AIDS


Harian Analisa, 01 Desember 2011

Medan - Penanggulangan HIV dan AIDS harus dilakukan terpadu. Selain itu, perlu ada satu sistem yang bisa melindungi semua orang baik yang belum maupun yang sudah terinfeksi HIV. Demikian ditegaskan dr Linda T Maas MPH ketika membedah buku "Cerita AIDS-Rangkuman Artikel dan Cerpen) di aula Badan Perpustakaan, Arsip dan Dokumentasi Daerah (BPAD) Provinsi Sumatera Utara, Rabu (30/11).

Bedah dan launching buku karya Ketua Perhimpunan Dokter Pedulia AIDS (PDPAI) Sumut Dr dr Umar Zein DTM&H SpPD KPTI dan sejumlah anggota Forum Wartawan Kesehatan (Forwakes) Sumut itu dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) tahun ini.

Linda mengaku, masalah HIV dan AIDS ini sudah seharusnya menjadi perhatian semua pihak. Namun, sampai saat ini-sejak dua puluh tahunan-HIV dan AIDS ada di Sumatera Utara, komitmen tersebut masih belum tampak jelas. Padahal, komitmen dan dukungan nyata untuk penanggulangan HIV dan AIDS sangat diperlukan. Tidak saja bagaimana menangani orang yang sudah terinfeksi atau yang sudah jatuh fase AIDS, tapi bagaimana yang belum terinfeksi agar tetap bersih.

Khusus mengenai buku, Linda Maas mengaku, dari sisi kontens HIV dan AIDS, buku Kisah AIDS tersebut cukup bagus dan layak dibaca setiap orang karena mengandung pesan dan informasi soal HIV dan AIDS serta realita yang ada di Sumatera Utara khususnya.

Pembedah lainnya, Drs Mihar Silalahi MM yang juga Dekan FKIP UISU menggunakan kaca mata sastra. "Saya menggunakan pisau sastra untuk membedah buku ini," ungkapnya.

Dilihat dari sisi sastra, dia mengaku, masih banyak kekurangan. Dia menilai, cerpen yang ada masih belum memiliki roh karena belum mendalam dan memasukkan konflik di dalamnya.

Namun secara positif, dia melihat, banyak pesan yang bisa dijadikan renungan bagi semua pihak dalam penanggulangan HIV dan AIDS ke depan.

Prosesi bedah buku yang dibuka Kepala BPAD Sumut Nurdin Pane mendapat sambutan hangat para peserta di antaranya anggota DPD RI Parlindungan Purba SH MM, Kepala Dinas Kesehatan Medan dr Edwin Effendi MSc, aktivis HAM Majda El Muhtaj, Direktur Lembaga Baca Tulis (LBT) H Ali Murthado, mewakili Ketua PWI Sumut Rizal Rudi Surya, sejumlah dokter senior serta para penggiat HIV dan AIDS dari berbagai lembaga di Sumatera Utara.

Hadir

Turut hadir mewakili Kapolda Sumatera Utara, mewakili Kadis Kesehatan Sumut Andi Ilham Lubis, Direktur Pelayanan Medik RSUP HAM dr Lukmanul Hakim.

Acara yang juga didukung Coca Cola Amatil Indonesia Medan tersebut awalnya diisi dengan testimoni salah seorang Odha yang diduga terinfeksi dari transfusi darah yang tidak steril.

"Saya adalah orang pengidap HIV/AIDS. Saya dapatkan sejak tahun 2008. Perlu diketahui, penderita HIV/AIDS tidak hanya karena prilaku, namun disebabkan karena tidak dapatnya informasi akan penularan HIV/AIDS ini," kata Sri dalam testimoni.

Sri melanjutkan, awal dirinya didiagnosa pengidap HIV/AIDS ini, dia menaruh curiga tertular dari suaminya. "Berulang kali dia saya suruh untuk periksa, tapi dia tidak mau. Namun, saya salah, setelah suami saya diperiksa, hasilnya negatif dan setelah saya telusuri, barulah saya ketahui penularan ini dikarenakan transfusi darah karena dulu ketika sesar, saya harus ditransfusi darah," jelasnya.

Syukurnya, suami Sri dan orangtuanya tidak memberikan diskriminasi. Keluarga memberikan support dan mengharapkan dia tetap tabah karena mungkin ada hikmah dibalik semua itu.

Sri yang mengetahui dirinya HIV positif, dia yang awalnya salah seorang kader Posyandu Kota Medan akhirnya berhenti dan bergabung di LSM Medan Plus. Disana dia mendapat rekan yang bisa berbagi informasi soal HIV dan AIDS.

Menjawab pertanyaan Parlindungan Purba bagaimana kebutuhan biologis pasca terinfeksi, Sri dengan enteng menjawab, semua itu bisa dilakukan tapi menggunakan kondom.

Kadis Kesehatan Kota Medan dr Edwin Effendi menyampaikan penanggulangan HIV/AIDS membutuhkan peran berbagi pihak baik medis maupun non medis. Meliputi pencegahan penularan, pengobatan dan rehabilitasi.

"Salah satu komponen pencegahan adalah upaya sosialisasi kepada masyarakat yang harus dilakukan secara terus menerus. Baik melalui media cetak berupa karya tulis yang sangat bermanfaat bagi masyarakat," ujar Edwin.

Ketua PDPAI Umar Zein juga memprediksikan masih rendahnya pemahaman dan pengetahuan masyarakat terhadap HIV. "Kalau yang tidak tahu bahkan sangat rendah. Tapi, perlu dibuat penelitian untuk hal itu," ujarnya. Menurutnya, diperlukan upaya penanggulangan dan pencegahan HIV melalui diseminasi pengetahuan dasar tentang HIV.

"Ini mencakup semua level pendidikan dari SD, SMP dan SMA," katanya. Jadi, tambahnya, perlu sosialisasi dalam bentuk komik atau karya tulis seperti yang digagas Forwakes dan diharapkan bisa memberikan sumbangan pada dinas pendidikan. "Kita juga punya pakar HIV, komunikasi, sastrawan, pelukis sehingga HIV/AIDS tidak lagi isu yang menakutkan," kata Umar Zein di akhir acara yang berlangsung sukses tersebut.(nai)

Sumber: http://www.analisadaily.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5421