Penderita AIDS di pantura Jateng terus bertambah
Tanggal: Friday, 02 December 2011
Topik: Narkoba


ANTARA News, 01 Desember 2011

Tegal - Jumlah penderita HIV/AIDS di wilayah pantai utara Jawa Tengah terus bertambah, bahkan dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjangkiti ibu rumah tangga setelah tertular oleh pasangannya.

Kepala Klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT) RSUD Kardinah Kota Tegal, dr Primawati, di Tegal Kamis mengatakan, sejak berdirinya VCT Tegal pada Juli 2008 hingga November 2011, jumlah penderita AIDS tercatat 160 orang terdiri atas laki-laki 87 orang dan perempuan 73 orang.

Ia menyebutkan, jumlah penderita AIDS yang tercatat di VCT RSUD Kardinah sejak beberapa tahun terakhir cenderung meningkat.

Jumlah 160 penderita HIV/AIDS tersebut merupakan akumulasi sejak tahun 2008 sebanyak 21 orang, lalu bertambah 47 orang pada 2009, pada 2010 ada penderita baru 50 orang, dan hingga Novermber 2011 ada penderita lagi 42 orang sehingga totalnya menjadi 160 penderita.

"Selama VCT RSUD Kardinah melakukan penanganan terhadap para penderita AIDS, jumlah penderita yang masih hidup sekitar 51 persen, meninggal dunia 33 persen, serta tidak diketahui perkembangan selanjutnya karena tiba-tiba putus kontak sekitar 16 persen," katanya.

Mereka tidak hanya berasal dari Kota Tegal, namun dari Kabupaten Tegal, Brebes, Pemalang, dan Batang.

"Selama ini VCT RSUD Kardinah melayani sejumlah daerah di pantura, namun kini Kabupaten Tegal telah ada VCT sendiri, sementara daerah lain yang hingga kini belum memiliki klinik VCT seperti Brebes, Batang, Pemalang, Pekalongan melakukan konsultasi di VCT RSUD Kardinah," katanya.

Menurut dia, para penderita AIDS bukan hanya para pengguna narkoba dengan satu jarum suntik, orang berhubungan intim dengan banyak berganti pasangan atau heteroseksual seperti PSK, namun beberapa di antaranya merupakan ibu rumah tangga.

"Selain para pengguna narkoba, wanita para pekerja seks komersial (PSK), para ibu rumah tangga juga rentan terkena HIV/AIDS akibat tertular suaminya yang mengidap HIV/AIDS, bahkan bayi juga berpotensi mengidap penyakit membahayakan tersebut akibat tertular dari ibu yang positif terkena HIV/AIDS." katanya.

Ia mengatakan, selama ini para penderita HIV/AIDS yang datang untuk konsultasi ke VCT RSUD Kardinah sebagian besar merupakan pasien rujukan dari puskesmas setempat yang mengidap penyakit infeksi menular seksual (IMS) karena orang yang mengidap IMS berisiko tinggi terinfeksi HIV.

"Selain pasien rujukan juga ada penderita yang datang ke klinik VCT karena kesadaran sendiri karena mendapat informasi melaui brosur ataupun informasi lainnya mengenai keberadaan serta fungsi VCT," katanya.

Menurut dia, melalui konsultasi di klinik layanan konseling dan tes HIV sukarela atau lebih dikenal dengan istilah klinik VCT, para pasien dapat berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan yang dialaminya, sehingga beberapa konselor VCT dapat melakukan penanganan secara bertahap terhadap pasien.

"Konsultasi di VCT tidak dipungut biaya alias gratis, sehingga masyarakat umum terutama bagi mereka yang berisiko tinggi terinfeksi HIV dapat datang langsung ke VCT RSUD Kardinah untuk mengetahui kondisi kesehatan dia terkait ancaman virus HIV," katanya.

Sementara itu, menurut salah satu Konselor VCT RSUD Kardinah, Joko Purwanto, mengatakan, bagi masyarakat yang ingin konsultasi ke VCT hanya melakukan mendaftaran di bagian pendaftaran RSUD Kardinah, kemudian konselor akan melakukan pendekatan individual melalui proses konseling, selanjutnya pasien melakukan pemeriksaan darah di laboratorium untuk memastikan status terinveksi virus HIV atau tidak.

Menurut dia, jika positif terinveksi virus HIV maka konselor melakukan penanganan sesuai prosedur dengan melibatkan CST (Care, Support, and Treatment) dari dinas kesehatan setempat yang merupakan suatu layanan medis, psikologis dan sosial yang terpadu dan berkesinambungan dalam menyelesaikan masalah terhadap ODHA selama perawatan dan pengobatan.

Ia mengatakan, bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) sangat memerlukan dukungan dari semua pihak terutama keluarga dan lingkungan terdekat, karena jika keluarga dan orang-orang di sekitarnya tidak bersedia menerima ODHA atau mengucilkannnya maka kemungkinan penderita HIV/AIDS untuk hidup lebih lama semakin kecil.

Sumber: http://www.antaranews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5429