Dinkes Identifikasi 38 Penderita, 11 Diantaranya PSK
Tanggal: Friday, 02 December 2011
Topik: Narkoba


suarasurabaya.net, 01 Desember 2011

Menghadapi hari AIDS sedunia 1 Desember Tahun 2011 ini, ada catatan menarik hasil deteksi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lumajang di Kota Pisang Lumajang ini, untuk pengidap virus penyakit mematikan yang sampai saat ini belum ada obatnya ini. Catatan ini sekaligu sebagai keprihatinn bahwa penyakit ini juga merebak di Kota Pisang ini. Bahkan, penderitanya juga cukup banyak dan sebagian diantaranya telah meninggal.

Dari data di Kantor Dinkes Kabupaten Lumajang, penderita HIVADIS di wilayah Kabupaten Lumajang terhitung sejak 2 tahun terakhir, cukup banyak. Dari pemantauan dan pemeriksaan yang dilakukan jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Lumajang, dalam dua tahun terakhir, mulai Tahun 2010 sampai Bulan September 2011 saja, mencapai 38 orang.

Wahyu Wulandari Kepala Seksi Penceghan Penyakit Menular Kantor Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lumajang ketika dikonfirmasi Sentral FM Lumajang, Kamis (1/12/2011) siang, untuk penderita yang terdata Tahun 2010 jumlahnya mencapai 30 orang. “Lebih dari separuh dari penderita yang ditemukan, saat ini telah meninggal dunia,” kata Wahyu Wulandari.

Sedangkan, dari pemantauan dan pemeriksaan Tahun 2011 sampai Bulan November, ditemukan penderita HIV/AIDS baru yang jumlahnya tercatat 8 penderita. Kondisi inilah yang menjadi perhatian jajaran Dinkes Kabupaten Lumajang.

“Pasalnya, kasus HIV/AIDS merupakan fenomena gunung es. Jika terdapat 38 penderita yang kelihatan dan terpantau, dibawahnya bisa 10 kali lipat. Kalau 38 penderita, maka ada 380 penderita lainnya yang belum terdeteksi. Itu yang culit dipantau,” kata Wahyu Wulandari.

Indikator penyebab penularan penyakit mematikan ini, diterangkannya, juga didominasi persoalan klasik. Yakni, berupa pergaulan bebas dengan melakukan hubungan seks secra sembarangan dan berganti-ganti pasangan.

“Indikator awal memang faktor hubungan seks secara bebas dan berganti-ganti pasangan. Penularan itu, juga berdampak pada rumah-tangga. Karena, ada tebuan ibu rumah-tangga yang terkena HIV/AIDS yang ditularkan dari suaminya. Bahkan, ada 2 anak yang dilahirkan dari ibu penderita HIV/AIDS tersebut. Meski kini, kedua anak dan ibunya ini telah meninggal,” papar Wahyu Wulandari.

Kondisi inilah yang cukup ironis, hingga Dinkes Lumajang juga melakukan survey dan pemeriksaan di lokalisasi liar atau illegal yang ada di Kabupaten Lumajang ini. Dan hasilnya juga mengejutkan, karena sudah ditemukan 11 PSK (Pekerja Seks Komersial) yang mangkal di lokalisasi illegal di Kota Pisang ini menderita HIV/AIDS.

“Temuan itu kita data dari survey dan pemeriksaan langsung di lokasi. Bahkan, ke-10 PSK penderita HIV/AIDS ini juga masih menjajakan diri di lokalisasi illegal tersebut. Untuk menagani temuan kasus HIV/AIDS dari kalangan PSK ini, kami kesulitan juga untuk melakukan pemantauan dan pengawasan,” paparnya.

Sebab, para PSK ini kebanyakan hidup nomaden dan sering berpindah-pindah. Sekali waktu bisa menjajakan diri di lokalisasi illegal di Lumajang, dalam kesempatan berikutnya bisa pindah ke Jember, Probolingo maupun ke Kalimantan.

“Kondisi ini menjadi fakta, jika penyebaran kasus HIV/AIDS tidak mudah untuk menekannya. Semuanya, tergantung perilaku masing-maisng individu. Meski, kami juga akan berupaya keras untuk melakukan pemantauan, pengawasan dan pemeriksaan danbahkan merekomendasikan untuk berobat di Rumah Sakit guna mengantisipasi penyebarannya,” urai Wahyu Wulandari.

Indikator penularan lainnya. diungkapkan lebih jauh oleh Kasi Pencegahan Penyakit Menular Kantor Dinkes Lumajang ini, adalah temuan baru penderita yang tertular dari jarum suntik. “Penderitanya adalah pengguna narkoba dengan jarum suntik. Ini temuan baru dan mengejutkan, karena di Lumajang ternyata juga ada pengguna narkoba suntik,” tuturnya.

Seluruh data penderita yang teridentifikasi, juga diperoleh dari laporan Puskesmas dan Rumah Sakit. Biasanya, penderita telah dirawat dan ditemukan dalam kondisi sakit yang tidak kunjung sembuh. “Atas temuan ini, kami melakukan uji lab dan dinyatakan ternyata positif terjangkit virus HIV dan ada yang sudah terdeteksi AIDS,” urai Wahyu Wulandari..

Keseluruhan penderita yang terjangkit virus mematikan ini, juga disebutkan merupakan warga Lumajang yang bekerja di luar kota maupun luar pulau. “Bahkan, ada yang bekerja di luar negeri dan kembali ke Lumajang dalam kondisi sudah terjangkit penyakit itu. Diantaranya, dari Bali, Surabaya, Jakarta, Batam dan bahkan dari Malaysia,” ungkapnya.

Para penderita, ditambahkan Wahyu Wulandari, sejauh ini telah dilakukan pengawasan dan kontrol kesehatan melalui Puskemas setempat. Termasuk, rujukan berobat ke RSD Jember, sebagai rumah sakit rujukan untuk pelayanan kass HIVAIDS.

”Rumah Sakit yang menjadi rujukan penanganan penderita HIVAIDS ini memang telah ditentukan. Jika pendeirta asal Lumajang, rujukannya di Jember. Hal itu dikarenankan tenaga medis yang memiliki kemampuan untuk menangani penyakit ini sangat terbatas di Lumajang, termasuk fasilitas pelayanannya sampai paripurna,” jletrehnya.

Dalam penanganan medis terhadap penderita AIDS ini, pihak Dinkes Lumajang melakukan rawat jalan terhadap penderita dan juga konseling. Untuk pengobatan juga sudah ada bantuan dari pemerintah dan digratiskan.

”Yang terpenting, mereka bisa kontrol rutin dan hidup normal. Diharapkan, para penderita bisa bekerja dengan normal, berperilaku hidup sehat. Artinya, tidak melakukan seks bebas dan menyebarkan penyakit yang diderita kepada orang lain. Hal ini akan dikontrol melalui Puskesmas setempat secara ketat. Termasuk, juga penderita berpindah tempat, maka akan terus dipantau. Yang dikhawatirkan adalah, penderita pindah tapi tidak memberitahukan. Ini yang membuat sulit,” terangnya.

Dengan berbagai temuan tadi, jajaran Kantor Dinkes Lumajang terus menggencarkan .upaya sosialisasi untuk mengantisipasi penyebaran penyakit HIV/AIDS yang mematikan ini dengan melakukan berbagai program. Diantaranya penyuluhan kepada pelajar, dengan penekanan untuk tidak melakukan pergaulan bebas dan tidak menggunakan narkoba. Sosialisasi juga diberikan di kalangan pesantren, pengajian, dan ibu-ibu PKK

“Untuk kalangan Kaur Kesra di Desa-Desa juga telah kami lakukan pelatihan memandikan jenasah penderita HIV/AIDS guna faktor keamanannya. Kami juga memberikan pengetahun kepada masyarakat,bahwa penderita HIV/AIDS tidak menularkan penyakit yang diidapkan, hanya dengan bersentuhan, gigitan nyamuk dan sebagainya. Hanya kondisi tertentu, seperti hubungan seks dan penyebab tertentu saja yang bisa menularkan penyakit ini,” demikian pungkas Wahyu Wulandari. (her/ipg)

Sumber: http://jaringradio.suarasurabaya.net




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5451