Ketika Virus Westernisasi Mewabah Pacaran tak Sehat, AIDS Mengintai
Tanggal: Friday, 02 December 2011
Topik: Narkoba


Padang Ekspres, 01 Desember 2011

Pergaulan remaja bikin detak jantung para orangtua berdegup kencang. Gaya berpacarannya makin bebas. Urat malu pelajar dan mahasiswa “Ranah Bundo” ini, telah putus. Mereka tak malu-malu lagi menunjukkan adegan hot di depan umum.

VIRUS westernisasi alias kebarat-baratan, benar-benar mewabah di kalangan muda-mudi ibu kota Sumbar ini. Dibilang udik, kuno, jadul dan sederet cimeeh lainnya bila berpacaran tidak hot.

Kalangan pelajar dan mahasiswa menjadi sasaran empuk gaya hidup hedonis dan liberal itu. Bercumbu di muka umum, sudah menjadi pemandangan sehari-hari di tempat umum.

Lihat saja di tempat-tempat hiburan dan keramaian di Padang, bertebaran remaja belia bermesraan. Di pusat perbelanjaan Plasa Andalas, dan Basko Grand Mall misalnya, pasangan ABG ini tidak malu lagi memamerkan kemesraan di depan khalayak.

Berpelukan, berciuman di atas motor atau di kafe-kafe, sepertinya tak tabu lagi oleh mata tigo tungku sajarangan. Bila di keramaian saja bebas begitu, apalagi di tempat-tempat sepi nan lengang bin remang-remang? Sebut saja tempat-tempat objek wisata di Pantai Airmanis, Purus, Pantai Pasirjambak, Lubuk Minturun, hingga Bukit Lampu. Tempat-tempat ini tidak asing lagi muda-mudi Padang.

Selain sepi, pemilik warung malah memfasilitasi muda-mudi bermesum ria. Kalau sudah di sini, gaya pacaran muda-mudi tidak sehat lagi. Buktinya, dalam beberapa kali razia petugas, tak jarang ditemukan kondom dan benda-benda “aneh”.

HA, 22, misalnya. Mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Padang itu, mengaku acap kali membawa pacarnya ke Bukit Lampu. “Daerahnya nyaman, untuk berduaan juga disediakan,” katanya.

Di tempat inilah, HA memadu kasih dengan pacarnya yang juga mahasiswi salah satu sekolah tinggi kesehatan di Padang. “Sekarang, kalau pacaran sekadar pegangan-pegangan tangan, kuno?. Hmm tahu sama tahu ajalah kalau di Bukit Lampu,” imbuhnya, bangga. Dia tidak menampik bila di Bukit Lampu, apa pun bisa dilakukan. “Nggak cewek, nggak cowok, sama aja. Sama-sama butuh (?),” ungkapnya terus terang.

Tidak ingin dibilang munafik, HA pun blak-blakan mengumbar gaya pacaran dia dan teman-temannya. “Kayaknya dah semua gaya pacaran begitu…,” bebernya panjang lebar.

“Kadang saya bawa ke kos atau ke wisma. Kalau di tempat-tempat wisata, atau di hotel sering razia, jadi harus hati-hati,” sebutnya, sambil ketawa.

Untuk wisma, dia menyebut ada beberapa tempat di Padang yang bebas dari razia. “Tidak pernah dirazia. Harganya juga lebih murah ketimbang di hotel,” ungkapnya.

Gaya berpacaran remaja sekarang memang semakin berani. Tidak hanya mahasiswa, murid SD pun sudah mengerti apa itu pacaran. Seperti ditemukan di Siteba, salah satu murid kelas III SD, AW, 8, kedapatan orangtuanya sudah saling berkirim surat.

“Baru kelas III SD sudah pandai kirim-kirim surat dan mengatakan cinta. Zaman kami dulu SMA saja masih tidak berani pacaran,” kata seorang ibu muda kepada Padang Ekspres, Minggu (27/11) lalu, seraya minta namanya untuk tidak ditulis. Dia mengaku marah besar mengetahui putrinya sudah pandai berpacaran.

Virus pergaulan bebas juga tidak memilih-milih kampus. Baru-baru ini, pasangan mahasiswa dari perguruan tinggi agama, tertangkap basah berhubungan bada di WC masjid di Parakjigarang, Anduriang, kuranji.

Pergaulan bebas muda mudi di Padang, kata konselor HIV/AIDS di RSUP Dr M Djamil, Gantiti Agus sudah semakin tak terkendali. “Sekarang ini yang marak justru pergaulan sesama jenis. Ini yang perlu kita khawatirkan lagi,” katanya kemarin.

Dia mengaku sudah melakukan penelitian terhadap pergaulan pelajar dan mahasiswa di Padang. Untuk pergaulan sesama jenis, taksirannya, pasangan gay dan lesbian di Padang mencapai angka 800 orang. Namun modus mereka belum banyak tercium aparat.

“Jadi, persoalan pergaulan di Padang ini tidak lagi urusan pacaran anak SMA atau mahasiswa, tapi sudah jauh lebih kompleks,” katanya. Pergaulan yang tidak terkontrol seperti itu, katanya, menjadi penyebab berkembangnya berbagai macam jenis penyakit, termasuk AIDS. Mereka hanya berupaya memberikan informasi dan penyuluhan bagaimana mengikuti hidup sehat, agar terhindar dari bahaya HIV/AIDS.

Ketua Program Studi Psikolog Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, Kuswardani Susari Putri mengatakan, semua ini terjadi karena kurangnya informasi dan pengetahuan remaja atau kalangan usia produktif terhadap pengetahuan seks. “Untuk itu perlu dilakukan sosialisasi yang jelas dan pengawasan dari lingkungan keluarga,” ujarnya.

Selama ini, kata Kuswardani, remaja tidak mengerti apa itu seks dan bahaya seks. Bukan berarti pembelajaran seks dalam konteks negatif, namun pembelajaran ini dilakukan bagaimana remaja ini kenal pertumbuhannya dan memprotek pertumbuhannya.

Karena konsep itu diajarkan guna menghargai tubuhnya dan tubuh orang lain. “Di samping itu, kurangnya penanaman religi terhadap remaja saat ini dan juga diperlukan peran media dan tokoh adat dan agama dalam menyosialisasikan ini guna untuk menekan angka penderita HIV/AIDS,” pintanya.

Ditambahkan pakar seks dr Naek L Tobing, pacaran remaja saat ini mengkhawatirkan. Mulanya, hanya berpegangan tangan, kemudian berciuman, dan bisa berlanjut pada hubungan suami istri.

“Gejala perilaku pacaran tak sehat ini disinyalir menurunnya kualitas pendidikan. Orangtua umumnya mempercayakan seluruh pendidikan pada guru,” katanya.

Pada peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia pada hari ini, saatnya kampanyekan stop pergaulan bebas sebagai salah satu pemicu penyakit berbahaya itu di Ranah Minang. (mg8/mg6)

Sumber: http://padangekspres.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5456