MUI: Lokalisasi Dolly Harus Segera Ditutup
Tanggal: Friday, 02 December 2011
Topik: Narkoba


VIVAnews, 02 Desember 2011

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mendesak pemerintah kota Surabaya segera menutup lokalisasi prostitusi di gang Dolly. Lokalisasi ini dituding menjadi tempat penyebaran virus HIV/AIDS melalui hubungan seksual. Surabaya sendiri merupakan kota dengan penderita HIV/AIDS terbanyak di Jatim.

"Kami minta Walikota Surabaya segera menutup lokalisasi Dolly. Sebab penularan terbesar virus tersebut diduga berasal dari sana (lokalisasi)," kata Ketua MUI Jatim, Abdussomad Bukhori di Surabaya, Kamis 1 Desember 2011.

Bukhori menambahkan, walikota tidak perlu bersikap paradoks, mempertahankan Dolly dengan alasaan ekonomi. "Memang, penutupan lokalisasi tidak bisa dilakukan serta merta. Namun harus menggunakan pendekatan holistik untuk menyadarkan serta meramu dengan program pembinaan," ujar dia.

Menurutnya, penutupan lokalisasi Dolly bukanlah pelanggran HAM. Penutupan itu, justru akan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia. MUI Jatim berharap semua elemen duduk bersama dengan pemerentah kota, termasuk pejabat RT, RW, lurah dan camat setempat agar penutupan bisa dilakukan dengan segera. "Intinya, ini tergantung ketegasan walikota," katanya

Sebelumnya, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo berjanji penutupan lokalisasi itu akan dilakukan sebelum masa jabatannya berakhir pada 2014 mendatang. "Bahkan, kalau bisa teralisasi lebih cepat, di tahun 2012 itu lebih baik," kata Soekarwo di acara 'Holaqoh MUI dan Penandatanganan Bersama Deklarasi Menata Kota Bersih Dari Asusila' di Hotel Elmi Surabaya Sabtu, 19 Nopember 2011.

Namun, lanjut Soekarwo, pemerintah tak akan menutup lokalisasi begitu saja. Pemerintah akan memberikan dana sebesar Rp3 juta untuk setiap Pekerja Seks Komersial (PSK) yang selama ini bekerja di Dolly dan tempat lainnya. "Itu diharapkan bisa dipakai untuk modal ketrampilan, selanjutnya bisa beralih profesi tidak lagi menjadi pelacur," kata dia.

Berdasarkan data dari Puskesmas setempat, dari 1.287 PSK penghuni gang Dolly, sekitar 80 persen mengidap penyakit seks menular. Sementara itu, Indonesian Interfaith Network On HIV and AIDS (INTERNA) juga mengeluarkan data terbarunya. Dalam kurun waktu Januari-September 2011, jumlah penderita HIV/AIDS di Jatim mencapai 5.091 orang.

Data terbaru, Jatim disebut sebagai pengindap HIV/AIDS terbesar di Indonesia setelah Papua dan DKI Jakarta. Dan, Jatim menempati posisi pertama dengan jumlah 5.091 orang penderita disusul Papua sebanyak 4.005 orang, dan DKI Jakarta 3.998 orang penderita. (eh)

Sumber: http://nasional.vivanews.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5468