Seniwati Mendirikan Sekolah Khusus Seks
Tanggal: Friday, 02 December 2011
Topik: Narkoba


Suara Karya, 02 Desember 2011

VIENNA: Bersamaan dengan peringatan hari HIV/AIDS, Kamis (1/12), seorang seniwati cantik yang juga mantan pembawa acara program televisi di Swedia, membuka sebuah sekolah khusus seks di Vienna, Austria. Para lulusannya diharapkan bisa menjadi konsultan seks.

Seperti dilansir Dailymail, Rabu (30/11), Ylva-Maria Thompson, telah mendirikan Austrian International Sex School di Vienna. Thompson sendiri menjadi kepala sekolahnya.

Thompson menjelaskan, untuk menjadi siswa sekolah setingkat akademi ini, usia minimal adalah 16 tahun dan uang sekolahnya sebesar 1.400 poundsterling (Rp 19,9 juta) per semester. Para siswa nantinya akan tinggal di asrama yang tidak membedakan jenis kelamin.

Seperti sekolah pada umumnya, pada akhir masa pelajaran, masing-masing akan mendapat ijazah dan dengan ijazah itu, mereka diharap sudah bisa berperan sebagai konsultan seks.

"Pendidikan kami tidak teoretis, tetapi sangat praktis. Penekanannya adalah bagaimana cara menjadi pecinta yang baik," kata sang kepala sekolah.

Ilmu yang diajarkan, kata Thompson, meliputi "posisi seks, teknik membelai, dan ilmu anatomi."

Juru bicara sekolah itu, Melodi Kirsch, menambahkan, pihaknya sangat yakin kalau sekolah ini akan sukses besar di masa mendatang.

"Ylva-Maria Thompson bekerja cukup lama untuk mewujudkan ide ini, dan dia mendapat banyak dorongan," kata Kirsch.

Di Austria, keberadaan sekolah itu menimbulkan kecaman. Terlebih lagi, iklannya cukup menghebohkan karena menunjukkan adegan pasangan yang sedang bercinta. Iklan ini pun akhirnya dicekal dari televisi Austria.

Salah seorang penentangnya berpendapat, "Iklan itu memang digarap dengan penuh cita rasa, tetapi tetap saja yang dijual adalah seks."

Namun, desakan agar memasukkan pendidikan seks ke dalam kurikulum sekolah, kini mulai marah di seluruh dunia, seiring dengan meningkatnya penyakit HIV/AIDS. Dari hasil riset Sexual Wellbeing Global Survei yang dilansir Durex di Jakarta (30/11) terungkap 82 persen orang Indonesia mengaku butuh informasi mengenai penyakit HIV/AIDS.

Masih di Indonesia, desakan agar memasukkan pendidikan seks ke dalam kurikulum sekolah juga terus mencuat, termasuk usulan dr. Boyke Dian Nugraha, Sp.OG. "Mungkin bisa dimulai dengan ekstra kurikuler pendidikan seks dulu, baru perlahan masuk jadi kurikulum resmi," ungkapnya di Jakarta.(AP/Adi)

Sumber: http://www.suarakarya-online.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5469