Pengakuan Relawan Penderita HIV/AIDS ”Kami Ingin Membantu, tak Ada Niat Menular
Tanggal: Monday, 05 December 2011
Topik: HIV/AIDS


Padang Ekspres, 04 Desember 2011

Berada di tengah penderita Orang dengan HIV/AIDS (ODHA), membuat hidup Susan dan Yuyut seakan semakin bermakna. Bagi mereka, menjadi konselor HIV/AIDS merupakan pekerjaan yang mulia.

Dalam hal ini, ia dapat memberikan motivasi dan edukasi terhadap penderita dan kelompok rentan HIV/AIDS. Dengan edukasi tersebut, mereka berharap dapat memutus mata rantai penyebaran penyakit yang mematikan tersebut. Kedua srikandi ini terjun menjadi konselor, setelah orang-orang yang mereka kasihi terinfeksi HIV/AIDS. Ingin tahu bagaimana kisahnya?

Kamis (1/12) siang, hujan mengguyur deras Kabupaten Solok. Udara dingin langsung terasa menusuk tulang. Seorang wanita berbaju pink dan celana jins biru, terlihat berdiri mematung di sebuah tempat rehabilitasi di Kabupaten Solok. Untuk menghangatkan tubuhnya, ia menggunakan jaket berwarna biru. Sesekali terlihat tubuhnya menggigil menahan udara dingin.

Jika dilihat sepintas, tak ada yang berbeda dari wanita itu. Parasnya cantik, kulitnya putih dan rambutnya sebahu. Senyum mengembang dari mulutnya, saat mata Padang Ekspres berpapasan dengan matanya. Kepada Padang Ekspres, wanita ini memperkenalkan namanya Susan (nama samaran, red). Tak jauh di sebelah Susan, juga ada seorang wanita bertubuh gemuk mengenakan baju kaus berwarna hitam. Kepada Padang Ekspres, ia memperkenalkan namanya Yuyut (nama samaran, red). Keduanya mengaku sebagai konselor HIV/AIDS.

Susan bercerita, pilihan sebagai konselor HIV/AIDS dilakoninya, setelah ia mengetahui bahwa dirinya juga terinveksi HIV/AIDS. Penyakit yang mematikan itu didapatkan dari suaminya. Sebelum menikah, ia tak tahu, jika suaminya terinveksi HIV/AIDS. Sebaliknya, ia hanya tahu, kalau suaminya bekas pecandu narkoba.

“Di tahun keempat pernikahan kami, tiba-tiba suami saya mengajak untuk memeriksakan diri ke Voluntary Counseling and Testing (VCT) for HIV di RSUP dr M Djamil Padang. Saya kaget dan tak percaya dengan pengakuan suami, bahwa suami saya sudah terinveksi HIV/AIDS sejak lama. Saya kaget, laki-laki yang saya cintai selama ini ternyata menderita penyakit tersebut,” ucapnya.

Saat pemeriksaan dilakukan, ternyata ia juga positif menderita penyakit tersebut. “Saya hanya bisa pasrah, meski saya terinveksi HIV/AIDS tersebut dari suami. Saya sama sekali tak membencinya, karena dia adalah ayah dari anak-anak saya. Saya baru tahu suami menderita penyakit itu, setelah saya memiliki tiga orang anak,” ujarnya.

Setelah mengetahui bahwa ia dan suaminya menderita HIV/AIDS tersebut, ia berusaha menutupi rahasia tersebut dari keluarga. Pada tahun 2007, suaminya dipanggil Yang Maha Kuasa. Kala itu, ia baru saja melahirkan anak keempat.

“Saya melahirkan anak keempat lewat operasi Cesar. Sejak anak keempat saya lahir, tak pernah saya menyusuinya. Saya tak mau, ia terinfeksi virus yang mematikan itu seperti kedua orangtuanya,” ucap wanita yang berumur 30 tahun itu.

Sepeninggal suaminya. Susan pun mulai bergabung dengan Lentera Minangkabau. Ia bekerja menjadi relawan HIV/AIDS di sana. Untuk menghidupi keempat anaknya, ia bekerja serabutan. Ia bekerja sebagai SPG, manager marketing perhotelan. Di tempatnya bekerja, ia memiliki kedudukan yang cukup strategis, apalagi di dukung dengan wajah cantiknya.

“Karier saya begitu bersinar. Tapi sayang, banyak orang yang cemburu dengan posisi yang strategis yang saya miliki. Ada seorang teman kerja yang mencari informasi tentang saya dan akhirnya ia mengetahui saya ODHA. Pimpinan tempat saya bekerja mengetahui saya ODHA dan langsung mem-PHK saya,” ucapnya.

Wanita berpostur langsing ini kembali melanjutkan ceritanya. Suatu waktu, ia pernah mempertanyakan alasan PHK tersebut. Ia merasa kebijakan perusahaan tak berpihak padanya, karena ia hanya menjual produk dan tidak menjual ”diri”.

“Saya tak pernah punya niat jika saya akan menularkan penyakit tersbeut kepada orang lain,” ujarnya. Perasaannya lebih miris saat keluarga terdekatnya, juga menolak keberadaannya. Bahkan untuk meminjamkan penjepit kuku saja, saudaranya tak mau meminjamkan. Satu-satunya orang dalam keluargan yang peduli terhadap dirinya, yakni ibu kandungnya.

“Sekarang saya tak punya pekerjaan dan tak ada keluarga yang perduli. Hidup saya terkatung-katung pasca-PHK. Bahkan saat ini, saya tak punya uang untuk menghidupi anak-anak saya dan beli obat,” ucapnya.

Susan melanjutkan ceritanya. Setelah ditinggal suaminya, ia pernah ditaksir lelaki lain. Namun ia tak terlalu menggubris laki-laki tersebut. Bukan karena ia tak menyukai lelaki tersebut. Ia tak mau saja menularkan penyakit tersebut kepada orang yang dikasihinya.

“Saya sudah berterus terang kepadanya, bahwa saya ODHA. Ia tak percaya, saya ajak dia bertemu konselor HIV, barulah dia percaya. Tapi tetap saja dia mau berhubungan dengan saya. Katanya, dia ikhlas menerima saya apa adanya. Saya masih takut membina rumah tangga, saya tak mau menulari penyakit ini ke orang lain. Biarlah saya menjadi relawan HIV.AIDS saja untuk memotivasi dan memberikan edukasi bagi orang-orang yang rentan terhadap penyakit HIV/AIDS,” ucapnya.

Wanita bertubuh mungil ini mengaku, meski cobaan hidup datang terus berganti dalam kehidupannya, namun ia sama sekali tak pernah menyesali takdir Tuhan atas hidupnya.

“Saya tetap bersyukur dengan apa yang saya miliki hari ini. Saya yakin, Tuhan pasti punya rencana terindah untuk hidup saya dan anak- anak. Saya yakin, Allah tidak akan memberikan cobaan kepada umatnya, apabila umatnya tidak sanggup untuk mencobanya,” ucapnya.

Cerita yang tak jauh berbeda juga diungkapkan relawan HIV/AIDS lainnya, Yuyut. Ia mengaku tidak terinveksi virus yang mematikan itu, walau suaminya terserang penyakit mematikan tersebut. Sebelum menikah, ia juga tak mengetahui jika suaminya ODHA. Ia baru tahu, setelah tiga tahun usia pernikahan mereka.

“Saat saya memiliki dua orang anak, suami mengajak saya untuk melakukan tes kesehatan di RSUP M Djamil. Saya tanya sama suami, mau tes kesehatan apa. Dia jawab ke ruang VCT HIV. Saya kaget luar biasa setelah mendengar pengakuan suami saya,” ucapnya.

Ia pun menuruti kemauan suaminya untuk mengikuti pemeriksaan tes kesehatan tersebut. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa ia negatif. “ Sudah tiga kali saya melakukan tes, hasilnya negatif terus. Meski saya tidak terinfeksi, namun tak ada niatan di hati saya untuk meninggalkan suami. Saya tetap ingin melewati hari tua bersama suami dan anak-anak saya,” ucapnya.

Setelah mengetahui suaminya menderita penyakit tersebut, ia lalu terjun menjadi relawan HIV/AIDS. Sejak empat tahun lalu, ia telah aktif bekerja sebagai relawan di Lentera Minangkabau. Ia mengaku tak takut tertular penyakit tersebut, meski dalam kehidupan sehari- harinya, ia banyak bersentuhan dengan penderita HIV/AIDS

“Saya merasa berprofesi sebagai relawan ini, membuat hidup saya semakin bermakna. Karena saya dapat berguna bagi banyak orang,” ujarnya. Yuyut mengaku sudah terbiasa dengan pandangan miring orang terhadap aktivitasnya sebagai relawan.

Baginya memberikan motivasi terhadap penderita HIV/AIDS membuat hidupnya semakin berarti. “Saya tak terlalu menghiraukan pandangan orang terhadap kedekatan saya dengan orang- orang penderita HIV/AIDS. Hidup akan sangat berharga jika dapat memberikan manfaat untuk orang lain,” tuturnya.

Meski suaminya penderita HIV/AIDS, namun dua anaknya tidak menderita penyakit mematikan tersebut. “ Alhamdulillah, mungkin ini anugerah Tuhan terhadap keluarga saya,” ucapnya.

Relawan lainnya, Rudi (nama samaran, red), mahasiswa mengaku juga terinfeksi penyakit tersebut karena perilakunya yang menyimpang, menyukai sesama jenis. Dari hubungan sesama jenis itulah, ia terinfeksi penyakit tersebut. “Sekarang saya bergabung menjadi relawan HIV/AIDS . Saya sudah matang di praktik, makanya saya pelajari teorinya,” ucap salah satu mahasiswa perguruan tinggi di Kota Padang ini. (*)

Sumber: http://padangekspres.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5510