Kampanye AIDS tidak Disertai Sanksi Tegas
Tanggal: Monday, 05 December 2011
Topik: Narkoba


Media Indonesia, 04 Desember 2011

TINGGINYA epidemi HIV/AIDS (human immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome) di Indonesia memperlihatkan bahwa pemerintah tidak serius menangani permasalahan tersebut.

Kampanye yang dilakukan selama ini berbanding terbalik dengan tidak adanya tindakan tegas dari pemerintah kepada orang yang berkepentingan dengan penularan HIV/AIDS. Hal itu terbukti dengan menurunnya tingkat kesadaran penggunaan kondom pada seks berisiko di Indonesia.

"Bukan pada masalah sosialisasinya, melainkan tidak ada tindakan tegas dari pemerintah," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Nafsiah Mboi, kemarin.

Ia lalu mencontohkan Thailand dan Kamboja yang sudah menerapkan aturan pemberian sanksi terhadap muncikari yang menyediakan jasa pelacuran. Itu terbukti bisa mengurangi HIV/AIDS. Adapun di Indonesia, pemerintah hanya sebatas menutup sejumlah lokalisasi.

Pandangan senada dikemukakan anggota Komisi IX DPR Subagyo Partodiharjo. “Kampanye HIV memang marak, tapi informasi yang diberikan sepotong-sepotong,” ujar Subagyo menyesalkan.

Lantaran informasi yang tidak komplet, muncullah pemberian stigma negatif pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Seharusnya, sosialisasi HIV dilakukan secara komprehensif dan sedini mungkin. Misalnya, dengan menyelipkan materi HIV/AIDS dalam kurikulum sekolah.

Ketidakseriusan pemerintah menangani penyebaran HIV/AIDS juga dikritik oleh aktivis AIDS Baby Jim Aditya. "Sistem layanan kesehatan pada ODHA juga diskriminatif. Sebagai gambaran, masih terbatas fasilitas kesehatan yang bersedia melayani ODHA. Petugas kesehatan yang paham soal penanganan HIV pun masih terbatas," ucapnya.

Diskriminasi terhadap para ODHA dalam bentuk pengucilan dari masyarakat dialami Siti (bukan nama sebenarnya) yang tinggal di Purwokerto. "Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang tiba-tiba divonis terkena HIV/AIDS. Padahal, saya tidak tahu apa-apa," ungkap Siti.

Sikap diskriminatif juga dialami Zipporah Imogen Divine alias Immi. Putri Fajar Jasmin Divine itu dibatalkan penerimaannya sebagai siswa di SD Don Bosco Kelapa Gading, Jakarta.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengakui pengetahuan masyarakat terkait HIV/AIDS saat ini menurun jika dibandingkan dengan pada 2007. Hal itu merujuk pada hasil Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) 2011 (Media Indonesia, 2/12). (*/Tlc/LD/NY/S-5)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5511