Sediakan Perempuan Lajang Hingga Sudah Bercucu
Tanggal: Monday, 05 December 2011
Topik: Narkoba


Bali Post, 05 Desember 2011

WACANA eks galian C menjadi ladang esek-esek bukan isapan jempol semata. Terbukti, di areal seluas 300 hektar itu terdapat sebuah komplek penampungan pekerja seks komersil (PSK) yang beroperasi setiap hari. Mengandalkan pengunjung yang datang ke eks galian C untuk memancing atau mencari kangkung dan eceng gondok untuk pakan ternak di kubangan-kubangan bekas galian. Di komplek itu, tersedia bilik-bilik darurat dan dijajakan sejumlah perempuan, dari yang berstatus lajang hingga sudah bercucu. Seperti apa kondisinya?

Dari pantauan ke lokasi, Minggu (4/12) kemarin, pemilik komplek itu bernama Sul. Perempuan kelahiran tahun 1971 itu aslinya dari Malang. Namun menikah dengan laki-laki Bali asal Klungkung, namanya Ker yang kini memiliki satu anak laki-laki. Di komplek itu, Sul menyiapkan tujuh bilik darurat yang terbuat dari bedek, di bagian pintu ditutup korden. Di masing-masing bilik, disiapkan kasur tanpa ranjang, kaca rias dan tidak lupa kondom. ''Ya, masing-masing kamar sudah disediakan kondom. Anak-anak (PSK- red) takut, mereka tidak mau kalau tidak pakai kondom,'' ujar Sul gamblang.

Untuk biliknya, Sul meminta bayaran Rp 10 ribu per sekali pakai. Sedangkan biaya PSK ditarget Rp 50 ribu. Sehingga anak buahnya bisa mengantongi Rp 40 ribu sekali melayani pelanggan. Namun, kalau kondisi pelanggan sedang sepi, patokan harga itu bisa turun menjadi Rp 40 ribu. ''Seperti sekarang (kemarin, red), kondisinya sepi. Anak-anak juga kadang datang, kadang tidak. Karena mereka tidak langsung tinggal di sini, tetapi kos di beberapa tempat,'' ujar perempuan yang mengaku sudah belasan tahun mencari hidup di eks galian C. Bukan hanya menyiapkan bilik-bilik darurat dan PSK, dia juga beternak sapi dan babi. Mengingat beternak di galian C tidak kesulitan untuk mencari pakan ternak. ''Kalau ada cewek yang datang, ya saya tampung. Intinya karena saya kasihan dengan mereka karena tidak ada pekerjaan. Padahal harus menghidupi anak dan keluarga di kampungnya,'' tambah Sul. Selain menarik mereka yang datang untuk memancing atau mencari pakan ternak, komplek ini juga menggaet pekerja proyek dermaga sebagai pelanggannya.

Perempuan yang ditampung pun tidak pilih-pilih. Siapa saja yang mau bekerja dengan risiko penyakit kelamin itu, pasti diterima. Karenanya, perempuan yang bekerja di biliknya, tidak hanya mereka yang masih lajang. Juga yang sudah punya anak, bahkan cucu. Dari segi penampilan, mereka juga tidak terlalu menarik. Rata-rata berbadan bongsor. Seperti kemarin, ada empat PSK yang mangkal di sana, di antaranya Ulandari, Sely dan Lisa. Mereka rata-rata datang dari luar Bali. Seperti Lisa, berasal dari Sumenep Madura. Dia bahkan sudah punya anak dan cucu yang harus ditanggung dengan penghasilannya sebagai penjaja ''daging mentah''.

''Kadang ada pelanggan, kadang juga tidak. Makanya, pengahasilan kami di sini, tidak menentu,'' aku Seli dan Lisa.

Jika tidak sedang melayani tamu, beberapa PSK juga membantu Sul berjualan di warung kecil yang ada di tengah komplek. Karena yang datang ke tempat itu, tak hanya ingin bermesum ria, juga ada yang datang hanya mencari minum atau mi instan karena kehausan dan kelaparan setelah berjemur (mincing atau mencari pakan ternak- red). ''Saya di sini (di komplek, red) bukan berarti mau cari itu (PSK- red). Saya hanya beli kopi dan mi instan. Soalnya dari pagi tidak makan karena keasikan mancing,'' aku seorang laki-laki kurus yang menolak menyebut namanya. Selain laki-laki itu, beberapa pria juga tampak lalu lalang di komplek itu dengan berbagai alasan. ''Kalau saya cari kangkung,'' ujar laki-laki lain seraya memperlihatkan seikat batang kangkung.

Bagaimana dengan penyakit? Ditanya demikian, Sul yakin anak buahnya sehat. Karena setiap Jumat (seminggu sekali - red) dilakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Di antaranya pemeriksaan malaria dan HIV/AIDS. Selain pengobatan, petugas kesehatan yang datang juga sekaligus memberikan kondom secara gratis. (bal)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5530