Risiko HIV/AIDS masih tinggi
Tanggal: Tuesday, 06 December 2011
Topik: HIV/AIDS


Waspada Online, 05 Desember 2011

JAKARTA - Masyarakat Indonesia masih berisiko tinggi menderita infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV/AIDS. Kurangnya pengetahuan mengenai penyakit ini, ketidaksetiaan dan ketidakjujuran pasangan, disebut-sebut sebagai pemicunya.

Infeksi menular seksual masih menjadi ancaman bagi masyarakat Indonesia. Meski sudah memasuki era globalisasi yang menganut sistem keterbukaan, penduduk di Tanah Air masih kekurangan informasi dasar mengenai kesehatan reproduksi.

Selain itu, ketidaksetiaan dan ketidakjujuran bersama pasangan terkait kehidupan seksual menjadi faktor utama penyakit ini terus menghantui.

Sebuah riset bertajuk “Sexual Wellbeing Global Survey” dari Durex mengungkapkan fakta tersebut. Ratanjit Das, General ManagerReckitt Benckiser Indonesia— produsen Durex— mengutarakan, delapan dari 10 pria dan wanita Indonesia atau sekitar 82 persen merasa membutuhkan lebih banyak informasi mengenai HIV/ AIDS. Secara rinci, 83 persen untuk pria dan 82 persen wanita di Tanah Air.

“Hal ini memprihatinkan danjuga mengkhawatirkan, terutama karena Indonesia memiliki tingkat penyebaran HIV/AIDS tercepat di Asia Tenggara sehingga menjadikan upaya pencegahan dan penghentian penyebaran HIV/AIDS semakin sulit,” sebutnya dalam paparan survei tersebut di Plaza Senayan Arcadia, Jakarta, baru-baru ini.

Selain itu, satu dari lima orang yang memiliki pasangan (atau sekitar 21 persen) tidak tahu apakah pasangan mereka pernah menderita IMS atau tidak. Tujuh dari 10 orang juga tidak menggunakan pelindung (kondom) terhadap IMS, termasuk dari HIV/AIDS ketika pertama kali berhubungan seks.Dan, hanya 29 persen pria dan wanita Indonesia yang berada dalam hubungan stabil saat berhubungan seks untuk pertama kalinya.

Ratanjit juga mengungkapkan, hasil survei menunjukkan 13 persen pria dan 6 persen wanita Indonesia tidak setia pada pasangan, atau dengan kata lain memiliki lebih dari satu pasangan. “Ini berarti lebih tinggi dibandingkan pria dan wanita di Amerika Serikat yaitu 10 persen dan Inggris sebanyak 8 persen. Padahal, negara-negara Barat terkenal lebih bebas dan liberal dibandingkan negara Timur, seperti Indonesia,” katanya.

Dan, yang lebih mencengangkan lagi, Ratanjit mengatakan, rata-rata pria di Indonesia berganti pasangan seks sebanyak lima kali, sedangkan wanita hanya dua kali. Survei tersebut berusaha mempelajari sikap dan perilaku seksual masyarakat dunia. Tahun ini sebanyak 29.003 laki-laki dan perempuan berusia 18 tahun ke atas dari 36 negara, termasuk 1.015 orang Indonesia yang berpartisipasi dalam survei ini.

Menanggapi survei ini, seksolog ternama dr Boyke Dian Nugraha SpOG mengaku tak terkejut. Menurut dia, IMS memang masih jadi ancaman masyarakat. Buktinya lainnya, kasus aborsi, kehamilan pada usia muda, penyakit HIV/AIDS, kematian ibu dan anak, juga kanker leher rahim (serviks) terus mengalami peningkatan akibat perilaku seksual yang tidak baik.

“Berdasarkan data, setiap 30 menit wanita meninggal karena kanker leher rahim. Angka aborsi di Indonesia semakin meningkat per tahunnya, dan sekarang menginjak angka 2,3 juta kasus. Dan, jumlah pengidap HIV/AIDS juga terus menanjak akibat perilaku seks bebas yang tidak aman, persentasenya sekitar 75 persen sampai 80 persen,” ujarnya.

Dia mengutarakan, keterbatasan informasi mengenai reproduksi seksual memang masih menjadi problem utama di negeri ini. Banyak dari mereka yang bingung mau mencari sumber tambahan pengetahuan ini di mana. Selain itu, keterbukaan pasangan juga masih rendah, terutama mengetahui apakah pasangannya pernah menderita infeksi seksual atau tidak. Karena itu, Boyke menyarankan pentingnya pemeriksaan kesehatan sebelum menikah (pre marital check up) bagi pasangan yang hendak melangsungkan pernikahan.

Sumber: http://www.waspada.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5531