ODHA (Juga) Manusia
Tanggal: Tuesday, 06 December 2011
Topik: Narkoba


okezone.com, 05 Desember 2011

KESEHATAN adalah faktor strategis yang menentukan kemajuan suatu negara. Semakin sehat masyarakat suatu negara, pertanda semakin maju negara itu. Itu mengapa banyak negara, termasuk Indonesia, memberikan prioritas utama pelayanan kesehatan. Kesehatan dipandang penting demi menyelamatkan masa depan suatu negara dari kehancuran.

Tapi faktanya, pelayanan kesehatan yang dialami penderita suatu penyakit di Indonesia masih mengalami diskriminasi. Perwajahan paling jelas dialami orang penderita HIV/AIDS (ODHA) di Indonesia. Masyarakat sering melabelkan stigma negatif kepada ODHA. Mereka menganggap ODHA pantas mendapatkan hukuman atas perilaku amoral yang dilakukannya.

Pencitraan negatif terhadap ODHA berdampak sangat buruk. Salah satunya pertumbuhan jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia sangat cepat dibandingkan negara lain. Laporan perkembangan Situasi HIV/AIDS di Indonesia oleh Kementerian Kesehatan menyebutkan, sampai Juni 2011 terdapat 81.960 penderita HIV/AIDS yang masuk perawatan. Padahal pada 2005, jumlahnya baru mencapai 5.320 penderita.

Repotnya, banyak ODHA terdapat pada segmentasi kalangan remaja. Kelabilan emosional dan pengaruh lingkungan membuat mereka mudah terjebak narkoba dan free seks (seks bebas). Tidak sedikit pasangan muda mengorbankan dirinya demi kepuasaan sesaat. Mereka melakukan hubungan seks tidak aman, rutin berganti pasangan dan melakukan perilaku negatif lainnya.

Untuk itu diperlukan empat langkah pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.

Pertama, pembentukan komunitas sesuai minat bakat. Penderita ODHA yang sering termarginalkan perlu mendapatkan ruang apresiasi. Sarana itu dapat dituangkan dengan membentuk komunitas seni, usaha kreatif, pemberdayaan sosial dan lainnya. Mereka berhak mendapatkan pendidikan sesuai perkembangan dan apa yang disenanginya. Misalnya, ODHA yang senang berwirausaha difasilitasi bimbingan usaha kreatif sehingga dapat menghasilkan barang layak jual.

Kedua, sosialisasi secara massif, berkelanjutan dan menyentuh semua kalangan. Kegiatan penyadaran harus diberikan agar masyarakat mendapatkan pengetahuan komprehensif tentang ODHA. Sebab menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskeda) 2010, secara nasional hanya 11,4 persen penduduk yang memiliki pengetahuan komprehensif. Mereka umumnya berumur 15-24 tahun, laki-laki, belum menikah, masyarakat perkotaan, serta memiliki pendidikan dan kondisi sosial ekonomi yang baik.

Selama ini, sosialisasi HIV/AIDS belum menyentuh semua kalangan. Kawasan pedesaan dan remaja sebagai sasaran utama belum mendapatkan informasi maksimal. Untuk itu, perlu ada perumusan bagaimana memberikan penyadaran HIV/AIDS kepada masyarakat desa. Forum masyarakat seperti Musrenbang, rapat RT/RW atau arisan kelompok pengajian dapat dijadikan alternatif sosialisasi.

Ketiga, kerja sama sinergis antarkementerian. Selama ini masalah HIV/AIDS lebih dikenal sebagai domain Kementerian Kesehatan. Pandangan ini harus mengalami perubahan. Misalnya Kementerian Kesehatan dapat berkoordinasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga dalam mencegah penyebaran di kalangan generasi muda. Dapat pula merangkul Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mereka dapat memasukkan penyakit HIV/AIDS dalam kurikulum pendidikan nasional.

Akhirnya, kita mengharapkan terbentuknya kesadaran nasional menanggulangi penyebaran penyakit HIV/AIDS. Sebab memberikan tanggung jawab kepada pemerintah saja adalah kesalahan besar.

Selain itu, kita juga dituntut mengembalikan kembali semangat dan kepercayaan penderita ODHA. Mereka adalah manusia, berhak mendapatkan hak hidup dan perlakuan yang layak. Pelan tapi pasti mereka perlu diberikan kesempatan bersosialisasi.

Sumber: http://kampus.okezone.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5535