Kasus Orang Tua ODHA, Yayasan Don Bosco Minta Maaf
Tanggal: Tuesday, 06 December 2011
Topik: Narkoba


TEMPO.CO, 05 Desember 2011

Jakarta - Yayasan Panca Dharma mengaku bahwa kepala sekolah, pengurus, dan guru SD Don Bosco Kelapa Gading tak mengetahui bagaimana cara berinteraksi dengan orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Apalagi lima orang tua siswa mengeluhkan penerimaan Flora, yang orang tuanya mengidap virus tersebut.

"Mereka bilang akan menarik anaknya dari Don Bosco bila Flora bersekolah di sana," kata pembina Yayasan Panca Dharma, Handi Pranata, seusai bertemu dengan orang tua Flora dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) di Jakarta, Senin, 5 Desember 2011.

Handi Pranata mengatakan, dengan penjelasan dari KPAN mengenai HIV AIDS serta cara penularannya, yayasan memutuskan kembali menerima Flora. Handi secara langsung meminta maaf kepada Fajar karena sempat mencoret Flora dari daftar calon siswa.

"Semua ini terjadi karena ketidaktahuan kami. Dengan penjelasan dari KPAN, kami tidak merasa malu mengaku salah dan meminta maaf ke Pak Fajar," ujar Handi.

Untuk memberi pengertian ke guru, kepala sekolah, serta murid dan orang tua, Handi berencana menggelar pelatihan mengenai virus HIV/AIDS serta cara berinteraksi dengan para pengidapnya. Pelatihan itu akan digelar pada 13 Desember nanti dengan dibantu KPAN.

Pada saat yang bersamaan, Fajar menerima permintaan maaf dari Don Bosco. Namun dia tidak dapat memastikan apakah anak perempuannya itu akan tetap masuk ke Don Bosco di tahun depan. Alasannya, Fajar harus dapat memastikan bila sekolah tempat ZID akan belajar tidak resisten terhadapnya.

"Saya harus memastikan dulu apakah guru, kepala sekolah, orang tua siswa, dan calon temannya dapat menerima dia," kata Fajar.

Kasus ini bermula pada saat Fajar dan istrinya, Leonie Merinsca, mendaftarkan Flora ke SD Don Bosco Kelapa Gading. Sekolah menyatakan Flora lulus sebagai calon murid untuk tahun ajaran 2012-2013. Mereka pun diundang ke sekolah untuk membicarakan biaya pendaftaran. "Sebelum mulai negosiasi biaya, kami beritahukan bila Fajar mengidap virus HIV. Saat itu, mereka mengatakan tidak masalah dan tetap menerima anak saya," kata Leonie.

Namun, pada pertemuan selanjutnya, pengurus sekolah meminta Leonie dan Fajar menyertakan surat dari laboratorium yang menyatakan Flora negatif dari virus HIV. Permintaan itu dianggap diskriminatif sebab tes HIV/AIDS harus dilakukan berdasarkan kesukarelaan, bukan permintaan pihak tertentu. "Apalagi mereka bilang kalau syarat itu tidak bisa dipenuhi, maka anak kami dicoret dari daftar calon siswa," ujarnya.

Handi mengatakan bila yang diminta sekolah sebenarnya adalah surat kesehatan. Bukan hasil laboratorium bila Flora tidak terinfeksi virus HIV/AIDS. "Tapi yang meminta saat itu sepertinya salah menggunakan kata-kata. Saya minta maaf," kata Handi.

Sumber: http://www.tempo.co




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5539