Dia tidak menganggap banyak perbedaan antara berbohong tentang kesehatan, keadaan keuangan, atau tujuan-tujuan keuangan. Dalam sidang pengadilan tertutup di Melbourne itu sang suami menggunakan klausul dalam UU Perkawinan yang mengatakan sebuah pernikahan batal dalam hal persetujuan salah satu pihak, bukan persetujuan yang sebenarnya karena 'diperoleh melalui penipuan.'">


Calon Pasutri Boleh Rahasiakan AIDS
Tanggal: Wednesday, 07 December 2011
Topik: Narkoba


Surabaya Post, 06 Desember 2011

MELBOURNE - Teliti sebelum membeli, kalau anda tak ingin menyesal kelak. Inilah pesan yang ingin disampaikan sebuah putusan Pengadilan Australia. Melalui putusannya, Pengadilan Australia membolehkan seorang calon istri merahasiakan penyakit AIDS yang dideritanya kepada calon suaminya sebelum mereka menikah. Nah lho?

Putusan itu merupakan kasus gugatan seorang suami terhadap pernikahan dengan istrinya yang diketahuinya belakangan mengidap AIDS. Suami ingin pernikahannya dibatalkan demi hukum.

Namun, dalam putusannya, seperti diberitakan Herald Sun, Pengadilan Keluarga Australia menyatakan, kegagalan istri untuk memberi tahu suaminya tentang kondisinya tidak lantas bisa menggagalkan pernikahan mereka.

Dalam sidang terungkap sang istri berusia 30-an tahun ketika ia didiagnosis menderita AIDS pada tahun 2006. Sementara sang suaminya berusia 50-an.

Begitu tahu istrinya mengidap HIV/AIDS belakangan, suami itu meminta pernikahan tersebut dibatalkan demi hukum dan bukannya bukan dibubarkan. Dengan demikian, kalau pernikahan tersebut batal, si suami tidak perlu dikejar persoalan penyelesaian aset properti sebagai dampak pernikahan itu.

Namun pengadilan mengatakan bahwa sang suami keliru menganggap tidak akan ada penyelesaian properti jika pernikahan itu batal. Dari perkawinan itu tak diketahui apakah sang suami kemudian tertular HIV/AIDS.

Ian Shann, seorang ahli hukum keluarga, mengatakan ada pesan di balik kasus ini. "Periksa riwayat seseorang sebelum Anda menikahinya," ujar Ian Shann.

Dia tidak menganggap banyak perbedaan antara berbohong tentang kesehatan, keadaan keuangan, atau tujuan-tujuan keuangan. Dalam sidang pengadilan tertutup di Melbourne itu sang suami menggunakan klausul dalam UU Perkawinan yang mengatakan sebuah pernikahan batal dalam hal persetujuan salah satu pihak, bukan persetujuan yang sebenarnya karena 'diperoleh melalui penipuan.'

Namun, menurut Shann, alasan untuk pembatalan pernikahan antara lain: bigami, terlalu muda untuk menikah, karena pernikahan palsu, ditekan untuk menikah, dan kasus penipuan seperti identitas yang keliru. "Kasus ini tidak masuk dalam salah satu kondisi itu," kata Ian Shann pada surat kabar Herald Sun. "Tapi istri itu jelas berbohong dan suami itu jelas berada dalam posisi yang berbahaya karena kebohongan itu." ins

Sumber: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5562