Faktor Gaya Hidup Sulit Bendung HIV
Tanggal: Wednesday, 07 December 2011
Topik: HIV/AIDS


Berita8.com, 07 Desember 2011

Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) hingga saat ini memang tidak bisa dibendung karena dipengaruhi oleh gaya hidup masyarakat.

"Untuk kasus HIV dari tahun ke tahun akan selalu terjadi peningkatan, namanya fenomena gunung es. Tetapi untuk angka penderita Aids (Acquired immune deficiency syndrome) itu akan semakin sedikit. Artinya masyarakat yang berisiko sudah sadar memeriksakan diri," kata Pelaksana Harian Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Pontianak Multi Juto Bhatarendro di Pontianak, Selasa (6/12/2011).

Hingga saat ini sebanyak 2.448 orang di Kota Pontianak dinyatakan positif HIV/Aids, jumlah tersebut terdiri dari 1.588 orang HIV dan 860 orang Aids.

"Nah, dengan angka tersebut diusahakan tidak ada yang meninggal karena Aids serta menambah jumlah angka temuan Aids-nya. Sedangkan untuk kasus HIV itu memang tidak dapat terbendung karena gaya hidup," ungkap Multi.

Dalam gaya hidup masyarakat sekarang ini, kata Multi, ada yang dinamakan empat M yakni "man" atau laki-laki, "money" atau uang, "mobile" atau bergerak, dan "macho" atau jantan. Karena yang paling menonjol dalam kasus HIV/Aids itu laki-laki atau heteroseksual.

"Empat hal itulah yang dijadikan gaya hidup, tidak saja kepada penjaja seks di luar rumah tetapi juga membawa virus itu ke keluarganya di rumah," jelas Kepala Dinas Kesehatan kota Pontianak itu.

Multi mengatakan, dengan angka temuan kasus HIV yang cukup tinggi tersebut, Kota Pontianak mendapatkan penghargaan atas komitmennya dalam penanggulangan kasus HIV/Aids.

"Salah satunya yakni banyaknya penjangkauan yang dilakukan oleh KPA dan memiliki data yang akurat seperti angka penjaja seks komersial, waria, dan data itu terus kami monitor," jelas Multi.

Dalam penanggulangannya, kata dia, pihaknya terus menekan faktor risiko dengan data kunci tetapi juga tetap melakukan tindakan preventif promotif seperti penyuluhan, mengajak camat dan lurah setempat untuk ikut berperan yang sudah disebar fasilitatornya.

"Nah, nantinya dari kerja sama tersebut akan ada pemetaan orang-orang yang berisiko apakah ke arah narkoba ataukah penyimpangan-penyimpangan seks yang lain karena di kecamatan dan kelurahan itu juga memiliki data dari Kementerian Agama," jelas Multi.

Untuk kasus Aids, diakui Multi, pihaknya tetap terus melakukan monitor dengan memberikan pengobatan gratis sesuai dengan janji dari Kementerian Kesehatan yang menyediakan obat-obatan bagi Orang Dengan HIV/Aids (ODHA).

"Selain itu, informasi menyeluruh yang diberikan tujuannya pun untuk mengurangi diskriminasi atau stigma dari masyarakat kepada seseorang yang sudah terkena Aids harus tetap hidup normal," kata Multi.

Berdasarkan data kunci yang dimiliki KPA Kota Pontianak, terdapat sedikitnya 186 orang pengguna jarum suntik aktif yang sangat beresiko terhadap penularan virus HIV/Aids.

Kemudian, ada sebanyak 457 orang pekerja seks yang rawan tertular HIV/Aids. Tetapi mereka bukan pembawa virus karena mereka selalu menggunakan kondom.

"Melainkan para pria hidung belang yang jumlahnya diperkirakan sekitar 6.000 orang khusus di Kota Pontianak yang menjadi langganan para pekerja seks tersebut," kata Multi.

Multi menegaskan, hubungan seksual berisiko dan pertukaran jarum suntik napza adalah penyumbang utama penularan kasus HIV di Kota Pontianak.

"Sehingga angka kasus menjadi signifikan dalam meningkatkan kasus HIV dari tahun ke tahun," jelas Multi. (Aef/at)

Sumber: http://www.berita8.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5572