MUI: Ditutup, Penghuni Pasrah Tergantung Pemkot, Sudah Tinjau Loa Hui
Tanggal: Thursday, 08 December 2011
Topik: Narkoba


Samarinda Pos, 08 Desember 2011

SAMARINDA - Desakan menutup lokalisasi Suka Damai, Harapan Baru, Loa Janan Ilir, semakin diseriusi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Samarinda dengan meninjau di lokasisasi yang terbakar, Selasa (6/12). Peninjauan dilakukan rombongan MUI, diikuti aparatur Kecamatan Loa Janan Ilir dengan menemui ketua RT setempat, koordinator lokalisasi Loa Hui, serta mucikarinya.

Dalam peninjauan dipimpin Ketua MUI Samarinda KH Zaini Naim, sedikitnya mendapat angin segar mendengar langsung tanggapan pelaku bisnis prostitusi di lokalisasi tersebut. Desakan untuk menghentikan aktivitas tersebut di kawasan itu tidak mendapat penolakan.

"Saya sudah minta tutup, ternyata koordinator dan mucikari di lokalisasi Loa Hui justru pasrah saja. Mereka mengikuti saja kebijakan Pemkot jika berkeinginan menghentikan praktik prostitusi di kawasan itu," kata Zaini kepada Sapos, Rabu (7/12) siang.

MUI dalam waktu dekat akan merespon tanggapan itu dengan menindaklanjutinya ke Walikota Samarinda Syaharie Jaang agar segera menutup lokalisasi Loa Hui. Di sini dia berharap ada kebijakan tegas Pemkot Samarinda untuk menutup aktivitas tersebut sesegera mungkin. "Kita sudah tahu alasannya kalau lokalisasi Loa Hui ini berada di tengah pemukiman penduduk, dan pondok pesantren. Sehingga Pemkot selayaknya mengambil langkah cepat mengatasi masalah sosial yang dapat merusak moral warga sekitar," ujarnya.

Kendati demikian, sejumlah kekecewaan diakui Zaini didengar dari koordinator dan mucikarinya. Di mana keberadaaan tempat yang bertujuan melokalisir pekerja seks komersil (PSK) agar mudah diawasi ternyata tidak berjalan baik. Justru lokalisasi prostitusi menjadi wadah yang seakan memperbolehkan praktik prostitusi berkembang, wajar kalau jumlah PSK tidak bisa dikendalikan.

"Saya melihat hampir tidak ada pembinaan intensif, baik dari Dinas Kesejahteraan Sosial, Komisi Penanggulangan AIDS, Kementerian Agama, Dinas Kesehatan, dan sejumlah instansi terkait. Pembinaan dilakukan hanya setahun sekali," imbuhnya.

Karenanya dia menyebut agar persoalan ini dapat diseriusi wali kota dan wawali guna menjaga Kota Samarinda menjadi kota yang beriman. "Jangan hanya investasi hiburan dibesarkan, serta penertiban PKL, tapi peningkatan akhlak dan moral warga Samarinda juga perlu," pungkasnya. (air/waz)

Sumber: http://www.sapos.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5588