Tutup Tempat yang Diduga sebagai Tempat Penyebaran HIV
Tanggal: Monday, 12 December 2011
Topik: HIV/AIDS


Bali Post, 12 Desember 2011

PENYEBARAN virus HIV/AIDS seperti fenomena gunung es. Cukup mencengangkan jumlah anak-anak yang mengidap HIV/AIDS di Bali. Tercatat 166 anak di bawah umur 14 tahun mengidap virus HIV/AIDS yang diturunkan dari orangtuanya. Kurangnya sosialisasi tentang bahaya penyakit ini menjadi hal yang patut disikapi oleh pemerintah dan pihak yang berwenang. Jangan melulu menyalahkan teknologi yang berkembang cukup pesat. Media penyebaran virus ini masih terbuka lebar misalnya kawasan prostitusi. Selama tempat ini masih dilegalkan, jumlah 166 itu bisa saja meningkat setiap tahunnya. Rasanya mubazir pemerintah membentuk lembaga/komisi penanggulangan HIV/AIDS dan sebagainya jika media penyebaran virus ini masih dibuka. Demikian terungkap dalam acara Warung Global yang disiarkan Radio Global 96,5 FM, Sabtu (10/12), dengan topik ''166 Anak Terinfeksi HIV/AIDS''.

Dewa Kakiang di Legian miris mendengar berita ini. Padahal yang ia tahu orangtua selalu menyalahkan anak muda. Namun sekarang terbalik 100%, jangan selalu menyalahkan anak muda. Jika perkembangan teknologi dijadikan kambing hitam, ia kurang setuju. Jadi salah orangtua yang memberikan contoh perbuatan seperti ini.

Dewa Putu Tirta di Tabanan menyatakan cari sumber penyebabnya apa, kenapa bisa sampai jajan di luar. Ia hanya bisa menyarankan agar anak-anak dengan HIV/AIDS ini jangan dijauhi atau dikucilkan.

Alit di Karangasem menilai kebanyakan orang di kampung terpencil yang mengidap virus, efektifkan kembali penyuluhan tentang bayaha HIV ini, agar bisa diintensifkan kembali agar jumlah ini bisa ditekan.

Gusti Guatama di Tampaksiring setuju akan hal itu, di samping itu faktor kemiskinan, pola pikir masyarakat yang kurang aham dengan bahaya virus ini. Untuk itu sosialisasi yang gencar dilakukan, sehingga sadar dan takut. Jajan di luar yang di rumah kena dampaknya, ini akan membunuh secara terencana dan perlahan-lahan. Pemerintah dan pihak berwenang seperti dinas kesehatan, meski sudah ada VCT sekarang perlu juga dipublikasikan ke masyarakat siapa yang mengidap virus ini.

Melalui Banjar

Santa di Sayan juga cukup prihatin dengan kasus ini seperti fenomena gunung es. Ia juga menilai kalau dulu tahun 2000-an pemerintah sungguh prihatin dengan rakyatnya. Dulu sering ada penyuluhan ke banjar-banjar, baik itu tentang HIV/AIDS dan penyuluhan dan dilakukan secara gratis. Inilah yang terjadi, dan akhirnya masyarakat tidak mempedulikan bahaya dari penyakit yang berkembang saat ini. Selain itu, media juga sangat berperan memberikan sosialisasi.

Werdha di Tegallalang menilai bisa saja jumlah di lapangan lebih dari 166. Jika saja VCT dilakukan di semua tempat mungkin jumlahnya bisa berubah. Yang disayangkan adalah yang kena adalah anak-anak, yang kena harusnya dikarantina. Namun berbentur dengan HAM. Sulit memang namun harus dilakukan untuk melindungi orang banyak, ke depan bagaimana keseriusan kita semua, jika ada penderita, tidak usah ditutupi, dan penyakit tersebut bisa dihindari.

Suarka di Mengwi menyampaikan bahwa keteladanan selama ini yang sudah negatif. Jika contoh sudah tidak baik maka selanjutnya akan ditiru oleh anak-anak.

Wayan Ginawa di Denpasar sangat prihatin dengan kondisi ini, media penyebarannya masih diperlihara, penanggulangan AIDS akan mubazir jika tempat-tempat itu tidak diberangus. Mudah-mudahan ini menjadi prhatian kita bersama, namun rakyat hanya bisa prihatin saja, perlu keberanian pemimpin. (kmb)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5613