Kerja di Jalanan Rawan HIV/AIDS Anak-anak Penggepeng Diharapkan Tetap Bersekolah
Tanggal: Tuesday, 13 December 2011
Topik: HIV/AIDS


Bali Post, 12 Desember 2011

PEKERJA di bawah umur seperti penggepeng, pedagang asongan, dan pedagang suvenir diminta tetap bersekolah. Sebab, pendidikan itu penting untuk masa depan yang lebih baik. Hal itu disampaikan istri Wakil Gubernur Bali, Nyonya Bintang Puspayoga, saat menghadiri bakti sosial berupa penyuluhan dan pengobatan gratis bagi warga Pedahan Kaja, Kubu, Karangasem di SDN 2 Pedahan Kaja, Minggu (11/12) kemarin.

Saat itu, ratusan anak yang sebelumnya bekerja di berbagai bidang pekerjaan di Denpasar dan Badung kebetulan pulang kampung karena di Pedahan Kaja ada piodalan. Terkait ratusan anak itu pulang kampung, Ketua Pelaksana LAB dr. A.A. Sri Wahyuni didampingi Bidang Pendidikan I.A. Puniadhi mengatakan, pihaknya menjumpai kembali anak-anak asuhnya itu di kampung halaman mereka di Pedahan Kaja. Sekalian, pengurus LAB bisa bertemu dan berkenalan dengan para orang tua anak-anak itu di depan pejabat dan tokoh masyarakat Karangasem.

Sri Wahyuni mengatakan, LAB sejak beberapa bulan lalu mendekati anak-anak pekerja itu di tempat tinggal atau kos-kosannya di berbagai tempat di Denpasar yang kondisi dan situasinya sangat memprihatinkan. Seminggu dua kali, anak-anak itu diajak berkumpul di lantai IV Pasar Badung. Dikoordinatori I.A. Puniadhi, sedikitnya 50 orang dari ratusan anak asal Pedahan, Karangasem itu diberikan pelajaran membaca, menulis, etika, pelajaran keterampilan hidup dan karakter di tempat tersebut.

I.A. Puniadhi mengakui bagaimana sulitnya mendekati anak-anak itu untuk bisa dikumpulkan dan diajak belajar bersama. Semula terkumpul 50 orang, selanjutnya berkurang, ada yang tak mau datang lagi. Namun dari yang datang dan tetap bertahan, tampak bersemangat untuk belajar. Dari semula tak kerasan duduk dan mendegarkan tutor bercerita, akhirnya ada yang mulai bisa membaca. ''Sebenarnya ada ratusan anak asal Karangasem menjadi anak jalanan, penggepeng atau berbagai jenis pekerjaan. Namun, baru sekitar 50 orang bisa kami kumpulkan. Kami prihatin dengan keadaan mereka. Mereka harus ada yang membantu, terketuk hatinya agar generasi mereka ke depan bisa diputus. Para pekerja anak itu juga sangat rawan terjangkit penyakit seperti HIV/AIDS. Bahkan, dua orang pekerja anak-anak, kakak beradik dari Kubu meninggal karena HIV/AIDS,'' papar Sri Wahyuni.

Terkait kondisi itu, Nyonya Bintang Puspayoga meminta para orang tua anak-anak itu juga ikut memperhatikan pendidikannya. Dia minta anak-anak jangan sampai tak mendapatkan perhatian. Menurutnya, Pedahan sebenarnya memiliki potensi yang masih bisa dikembangkan dari bidang pertanian secara luas, asalkan masyarakat setempat tetap ulet bekerja. Dia mencontohkan, sudah ada pelatihan dalam upaya membuat gula merah tak hanya gelondongan, tetapi menjadi gula serbuk. Nantinya, usaha itu perlu ditingkatkan dengan membuatkan kemasan dan label sehingga bisa dipasarkan lebih luas dengan harapan lebih menguntungkan petani dan perajin setempat. Pengurus Iwapi Bali yang hadir yakni Desak Asrihati dan AAA Tini Rusmini Gorda diharapkan Bintang Puspayoga ikut memotivasi dan membuka pasar kerajinan gula merah sehingga kian berkembang.

Selain digelar penyuluhan, pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan pengobatan gratis. Sedikitnya 200 warga dari balita sampai lansia menyerbu pelayanan kesehatan yang diberikan para calon dokter dari FK Unud dan dr. A.A. Sri Wahyuni, Sp.KJ. Kegiatan itu juga dihadiri Asisten II Setdakab Karangasem I Made Sujana Erawan mewakili Wabup Karangasem serta Perbekel Tianyar Nengah Trimula. (bud)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5614