Tantangan Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia
Tanggal: Wednesday, 14 December 2011
Topik: HIV/AIDS


RNW.com, 13 Desember 2011

Aids Fonds Nederland, yayasan AIDS Belanda, bulan lalu meninjau sejumlah kegiatan lembaga penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia. Proyek-proyek di Indonesia ini mendapat bantuan finansial dan advis dari Belanda. Salah satunya untuk para pekerja seks laki-laki di Jakarta.

"Saya terharu melihat mitra kami di Indonesia yang begitu semangat menjalankan kegiatannya, walaupun menghadapi perlawanan," ujar Irene Keizer, pemimpin proyek Aids Fonds, usai kunjungan ke Indonesia beberapa waktu silam.

Salah satu mitra yang dikunjungi adalah Yayasan Inter Medika (YIM) di Jakarta. LSM ini bergerak di bidang penanggulangan AIDS, khususnya untuk pria pekerja seks di panti pijat laki-laki.

Panti pijat

Harry Prabowo, direktur YIM, bersama timnya berusaha meyakinkan para pekerja seks untuk melakukan hubungan seks aman, tetapi ini tidak mudah. "Kadang-kadang mereka menolak ketika kita melakukan pendekatan untuk memberi mereka informasi tentang misalnya penggunaan kondom," ujarnya.

Tekanan keluarga

Salah satu alasan mengapa pria pekerja seks menolak bantuan, adalah mereka tidak mau diketahui orientasi seksualnya. "Mereka sebenarnya MSM (Man Who Have Sex With Man, pria berhubungan seks dengan pria). Akibat tekanan dari keluarga serta pengaruh agama, mereka akhirnya menikah dan punya anak."

Orang-orang seperti ini, tambah Harry, susah dijangkau dan diajak berkomunikasi.

Persoalan tersebut diperparah dengan cara pandang masyarakat. Stigma negatif terhadap pekerja seks, khususnya PSK pengidap HIV, adalah masalah universal. "Orang sulit sekali mengungkapkan dirinya pengidap HIV. Mereka tidak berani melakukan tes HIV."

Ini sangat berbahaya, ungkap Harry Prabowo. "Risiko pengidap HIV menulari orang lain cukup besar, karena ada yang sudah menikah dan punya anak."

Hambatan eksternal

Masalah lain mengapa upaya penanggulangan AIDS tidak berjalan lancar, adalah kurangnya dukungan politik. "Masih banyak ketidakpedulian pemerintah atas masalah ini. Saya juga melihat kurangnya layanan kesehatan bersahabat yang bisa mengakomodir komunitas dengan baik," ujar Harry.

Kendati demikian, Harry Prabowo juga melihat banyak hal-hal positif. Direktur YIM merujuk pada kinerja Komisi Penanggulangan HIV/AIDS nasional serta sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Pak SBY sudah berani mengemukakan dukungannya kepada komunitas gay, waria, pekerja seks, IDU (pengguna narkoba suntikan) tanpa dia harus menyembunyikan heteroseksual dan homoseksual. Ia langsung menyebutkan komunitas gay."

Belanda

Harry Prabowo, Direktur Yayasan Inter Medika menyambut gembira kerja sama dengan Aidsfonds Nederland. Ia berharap pendekatan Belanda dalam menangani masalah AIDS juga bisa diterapkan di Indonesia. "Bisa straight to the point, tapi tidak terlalu menggurui atau berpesan tentang penyakit."

Sumber: http://www.rnw.nl




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5627