Daerah Rawan HIV/AIDS Belum Terjangkau
Tanggal: Friday, 16 December 2011
Topik: HIV/AIDS


JPNN.com, 16 Desember 2011

Cikarang Pusat
– LSM Mitra Sehati melansir ada 24 titik rawan peempat titik rawan penyebaran HIV/Aids diwilayah Kabupaten Bekasi. Sejauh ini, Mitra Sehati sendiri baru mampu menjangkau 13 titik.

Ini diungkapkan Project Manager LSM Mitra Sehati Hazami. Dibeberkannya, 13 titik yang sudah dalam pemantauan intensif Mitra Sehati diantaranya adalah di Kecamatan Cibitung yang memiliki empat tempat pelacuran, yakni Tenda Biru, Malvinas, Kedaung, dan lokalisasi CBL. Kemudian lokasi pekerja seks jalanan dari Bulak Kapal, Bekasi Timur, sampai Tambun. Panti pijat, diskotik, karaoke, hotel, lokalisasi Pulo Nyamuk dan Pasar Seng di Cikarang Utara. Selain itu Tanah Merah di Kedungwaringin, Lubangbuaya di Kecamatan Setu, Pasir Konci di Cikarang Selatan, Tegal Danas dan lokalisasi Pasir Sedot di Cikarang Pusat.

”Adapun wilayah yang belum terjangkau seperti Kecamatan Serang dan Cibarusah. Memang penyebaran HIV/AIDS di wilayah Kabupaten Bekasi sangat rawan sekali. Karena di wilayah ini banyak menjamur semua jenis tempat yang mendukung penyebaran penyakit mematikan ini,” katanya pada Radar Bekasi (Group JPNN).

Sebelumnya, Pengelola Program KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) Kabupaten Bekasi Ade Bawono mengungkapkan, ada kenaikan jumlah penderita HIV/AIDS dari tahun 2010 sampai 2011. Kenaikannya delapan persen. ”Jumlah penderitanya sebanyak 434 orang,” bebernya.

Kenaikan jumlah penderita ini, kata Ade, diprediksi merupakan penderita yang sudah lama terinfeksi namun baru terdeteksi. Pendeteksian, selama ini atas kerja sama KPA dengan LSM Mitra Sehati yang dengan proaktif terus mencari penderita HIV/AIDS. ”Kita terus upayakan penyuluhan,” katanya.

Datanya, penyebaran HIV/AIDS tertinggi terjadi di empat kecamatan, yaitu di Kecamatan Cibitung, Tambun Selatan, Kecamatan Cikarang Utara, dan Kecamatan Babelan. ”Memang tempat ini sangat rawan penyebaran HIV/AIDS. Kabupaten Bekasi menjadi urutan lima se-Jawa Barat,” tutupnya.

Sementara itu, Anggota Komisi D DPRD Kabupaten Bekasi Muhtadi Muntaha meminta KPA dan Dinas Kesehatan untuk melakukan sosialisasi bahaya penyakit HIV/AIDS. Karena, Komisi D melihat sosialisasi yang dilakukan pemerintah masih minim. ”Karena minimnya sosialisasi, hal ini terjadi,” katanya.

Dia mengungkapkan, alokasi anggaran bagi KPA sebesar Rp 200 juta. Dia berharap ada kenaikan anggaran. Dia meminta, untuk mengoptimalkan sosialisasi bahaya AIDS, Dinas Kesehatan juga melibatkan setiap Puskesmas maupun Posyandu.(dul)

Sumber: http://www.jpnn.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5663