Menjadi Konselor bagi Teman Sebaya & Siap Dicurhatin
Tanggal: Friday, 16 December 2011
Topik: Narkoba


Pontianak Post, 16 Desember 2011

TAK berlebihan memang bila Madrasah Aliyah Ushuluddin Singkawang mewakili propinsi Kalimantan Barat sebagai PIK (Pusat Informasi dan Konseling) Remaja Teladan Tahap Tegak 2011. Meski masih remaja, namun kiprah mereka tak diragukan lagi. Dari yang dulunya masih awam dengan dunia kesehatan reproduksi, kini mereka justru sudah mampu menjadi ‘konselor belia’ bagi teman-teman sebayanya yang ingin meminta saran, bahkan seringkali dicurhatin, mulai dari urusan asmara hingga masalah kewanitaan.

Mella Danisari, Singkawang

Melenggangnya MAN Ushuluddin ke tingkat nasional, setelah mereka dinobatkan sebagai jawara PIK Remaja Tahap Tegak tahun 2011 tingkat propinsi Kalbar. Jelas bagi mereka, ini menjadi suatu prestasi yang membanggakan.

“Awalnya kami belum mengerti apa-apa, semuanya kami mulai dari nol,” ujar Ketua PIK Remaja Ushuluddin, Mariani membuka cerita kepada Pontianak Post, Rabu (14/12). Sebagai permulaan, mereka melakukannya dari hal-hal sederhana seperti sosialisasi ke teman-teman sebaya yang terdekat, kemudian meluas ke adik-adik kelas sembari menyisipkan berbagai info soal PIK ini kedalam majalah dinding.

“Sewaktu BPMKB memberikan surat edaran ke sekolah kami untuk pembentukan PIK ini, awalnya kami sempat berpikiran ke arah negatif gitu, kok masih anak sekolah sudah diajarkan tentang sex dan sebagainya,” tambah Hasan Khoiri, senior Mariani di PIK Remaja Ushuluddin.

Namun setelah diberi penjelasan tentang maksud dan tujuan dibentuknya PIK Remaja ini, barulah mereka mengerti dan bersemangat untuk ikut menyosialisasikan kesehatan reproduksi di lingkungan mereka. Edukasi pun dilakukan per semester dengan mengadakan penyuluhan, saat penerimaan siswa baru, class meeting ataupun informasi di mading. “Kami ada ekskul PIK Remaja tiap hari Rabu selama satu jam, baik itu untuk yang Madrasah maupun Aliyah digabung,” jelas Mariani.

Untuk curhat pun, selain datang konseling, juga bisa melalui email dan facebook atau layanan Call Me. “Yang paling banyak itu memang Call Me. Mereka menghubungi langsung via telephone dan bertanya, kami langsung memberikan solusinya,” ujar cewek manis ini.

Curhatan apa yang paling banyak? “Kalau untuk cowok biasanya curhatnya masalah pacaran, nah kalau ceweknya lebih sering tentang haid,” beritahunya. Rata-rata dari penanya memang memiliki pengetahuan tentang kesehatan reproduksi yang sangat minim, tak terkecuali dalam hal pergaulan antar remaja yang rawan pergaulan bebas. “Nah tugas kita disinilah memberi pengertian tentang bahaya seks bebas, narkoba, HIV/AIDS dan sejenisnya.

Jadi mereka bertanya, kita sekalian menyisipkan pesan-pesan tentang pergaulan yang sehat,” bebernya. Lalu, apakah semua pertanyaan bisa dijawab? “Biasanya apa yang mereka tanyakan sudah kami dapat ilmunya, jadi bisa langsung kami jawab. Namun bilapun tidak tahu, kami akan meminta waktu dan bertanya dulu kepada ahlinya,” jelas Mariani. Ataupun, dari PIK merekomendasikan kepada orang yang lebih berkompeten dan ahlinya, terutama bila itu menyangkut dari sisi medis.

Respon dari keberadaan PIK Remaja Ushuluddin ini sendiri sangat positif, terbukti dukungan diberikan oleh pihak sekolah, lembaga dan pemerintah kota. Dari sekolah, selain dana pembinaan, mereka juga disediakan sarana prasarana seperti ruangan PIK yang terletak di bangunan perpustakaan, baik untuk Madrasah Aliyah (PIK Tegak) maupun Madrasah Tsanawiyah (PIK Tumbuh). Dari Pemkot, antara lain mereka mendapatkan sarana PIK remaja, Triad KKR, buku-buku dan sebagainya. Dan yang paling penting tentulah respon dari siswanya, “bisa dilihat dari terus bertambahnya para siswa yang berminat dalam ekskul PIK.”

Dari ekskul ini, mereka sekaligus mendidik para kader PIK Remaja yang nantinya akan meneruskan kakak-kakak seniornya bila sudah lulus nanti. Hingga saat ini tercatat sudah ada 6 orang kader Tumbuh dan 12 orang kader Tegak. Harapan mereka kedepan, agar kiranya pemerintah memasukkan Kespro kedalam kurikulum pendidikan. “Selama ini khan yang belajar lebih banyak siswa kelas IPA, sedangkan yang IPS tak mengetahui. Nah kalau sudah masuk kurikulum diharapkan akan lebih banyak siswa yang tahu apa itu kesehatan reproduksi,” jelas Mariani.

Sementara untuk Madrasah Tsanawiyah Ushuluddin sendiri, karena baru terbentuk pada Juni 2011 lalu, belum begitu banyak menerima curhatan dari para ‘pasien-nya.’ “Kami banyak belajar dan sharing dengan kakak-kakak di Madrasah Aliyah, termasuklah bekerjasama dalam membuat mading tentang kespro,” ucap Waldiansyah, pelan. Di kesempatan yang sama itu pula, Kepala Madrasah Tsanawiyah Ushuluddin, Masruraini mengatakan keberadaan PIK membawa dampak positif bahwasanya siswa lebih berani untuk mengungkapkan permasalahan yang dialaminya ke teman sebayanya.

“Mungkin yang dulunya mereka tertutup, kini dengan adanya pendidik sebaya dan kader PIK, mereka jadi mau membuka diri dan tahu apa itu kesehatan reproduksi, bahaya narkoba, dan lain sebagainya,” jelas perempuan berkacamata ini. Beberapa permasalahan yang terjadi di kalangan remaja, sebenarnya menurut dia masihlah dalam batas wajar seperti merokok dan pacaran.

“Sebelum masuk pondok pesantren ini, sebenarnya siswa sudah harus menandatangani surat pernyataan tak boleh pacaran. Namun biasanya masih saja ada yang nekat untuk pacaran. Nah disinilah keberadaan PIK terasa manfaatnya, karena bisa untuk mengingatkan teman-temannya tentang bahaya dibalik pacaran itu,” bebernya. **

Sumber: http://www.pontianakpost.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5665