Lelaki Pembeli Seks Jadi Sumber Penularan HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 19 December 2011
Topik: HIV/AIDS


Kompas.com, 16 Desember 2011

Saat ini sudah ribuan kaum ibu yang tidak pernah berselingkuh atau pun menggunakan narkoba namun positif terinfeksi HIV/AIDS. Pemicunya sebagian besar berasal dari laki-laki pembeli seks yang tidak menggunakan kondom. Mereka kemudian berhubungan seks dengan istri dan menularkan virusnya.

Sampai periode September 2011, Kementrian Kesehatan melaporkan secara kumulatif kasus AIDS tertinggi terdapat pada kelompok usia produktif, yakni 20-40 tahun. Diperkirakan saat ini terdapat 186.000 orang dengan HIV/AIDS di Indonesia. Berdasarkan profesi, yang paling banyak adalah ibu rumah tangga, jauh mengungguli pekerja seks.

Sementara itu Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional mencatat pada tahun 2006 penularan HIV dari kelompok heteroseksual hanya 38,5 persen dan 54 persen berasal dari kelompok pengguna jarum suntik. Namun di tahun 2011, tren penularan pada kelompok heteroseksual menjadi 76,3 persen.

Sekretaris KPA Nasional, dr.Nafsiah Mboi, Sp.A mengatakan saat ini diperkirakan ada 10 juta laki-laki pembeli seks dan 60 persennya sudah menikah. "Mereka adalah pria berusia muda yang bekerja jauh dari rumahnya. Di luar jam kerja mereka mencari seks dan kebanyakan tidak menggunakan kondom," katanya dalam acara pembukaan Pekan Kondom Nasional yang digagas DKT Indonesia untuk memperingati Hari AIDS Sedunia awal Desember lalu.

Mitha (25), bukan nama sebenarnya, adalah salah satu dari ribuan ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV dari suami. Perempuan berkulit putih dan berkerudung ini baru mengetahui dirinya positif HIV setelah putranya sering sakit-sakitan.

"Setelah diminta tes HIV baru ketahuan ternyata ia positif, lalu saya dan suami juga dites, ternyata kami sekeluarga juga positif HIV," kata perempuan asal Bandung Jawa Barat. Sampai saat ini ia tidak mengetahui darimana suaminya tertular HIV. "Ia tidak mau mengaku," ujar wanita yang sekarang aktif di Perhimpunan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jawa Barat ini.

Mitha dan juga ribuan kaum perempuan yang tertular HIV dari suami mungkin tak mengira suami yang dicintainya ternyata membawa virus HIV. Apalagi sebagian besar menilai perilaku suaminya baik-baik saja.

Nafsiah menjelaskan, meski pun perilaku seseorang setelah menikah sudah berubah, namun jika ia sudah terinfeksi HIV maka seumur hidup ia akan membawa virus itu dan bisa menularkannya kepada istri dan kepada anaknya jika kemudian si istri hamil.

Selain pria pembeli seks, menurut dr.Ekarini Aryasatiani Sp.OG, para ibu rumah tangga tersebut kebanyakan tertular HIV dari suami yang mantan pengguna narkoba jarum suntik. "Mayoritas wanita ini masih berusia produktif sehingga mereka rentan menularkannya kepada bayi di kandungan," kata ketua kelompok kerja HIV/AIDS di RSUD Tarakan Jakarta Pusat.

Pencegahan

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional memperkirakan sampai dengan tahun 2025, kelompok yang paling beresiko tertular dan menularkan HIV/AIDS adalah kelompok laki-laki pembeli seks. Karena itu menurut Nafsiah kini fokus pencegahannya adalah pada lelaki beresiko tinggi.

"Pencegahan pada laki-laki beresiko akan bedampak pada pencegahan penularan pada wanita dan juga bayi," kata Nafsiah.

Dia menambahkan, pencegahan HIV/AIDS dengan cara mewajibkan penggunaan kondom kini difokuskan pada tempat lokalisasi (hot spot), tempat kerja, serta lembaga pemasyarakatan. "Konseling dan dukungan juga perlu diberikan kepada orang dengan HIV/AIDS sehingga mereka berkomitmen untuk tidak menularkan penyakitnya pada orang lain," ujarnya.

Penggunaan kondom menurut Nafsiah adalah satu-satunya cara mencegah penularan HIV/AIDS. "Memang beberapa waktu lalu gel vagina disebut bisa mencegah tetapi penelitiannya dihentikan karena tidak terbukti memberi pencegahan. Kini kita kembali ke kondom atau tidak melakukan seks beresiko sama sekali," katanya.

Karena itu, masih dalam rangka peringatan Hari AIDS Sedunia, Tod Callahan, country director DKT Indonesia, sebuah organisasi sosial di bidang pencegahan HIV/AIDS dan keluarga berencana, mengajak masyarakat tidak bersikap negatif pada kampanye penggunaan kondom. "Ada tidaknya kampanye penggunaan kondom, seks bebas akan selalu ada," katanya.

Senada dengan Tod, Nafsiah mengungkapkan bahwa pemberian kondom gratis bukan alasan seseorang membeli seks. "Meski diberi kondom gratis, yang kuat imannya tidak akan melakukannya. Yang perlu jadi perhatian adalah agar tidak ada lagi ibu dan bayi yang tertular HIV," katanya.

Sumber: http://health.kompas.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5667