Penanganan HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 19 December 2011
Topik: HIV/AIDS


Bali Post, 19 Desember 2011

Bertambahnya penderita HIV/AIDS sekarang ini semata-mata karena faktor kesenangan belaka. Keinginan untuk menggunakan jarum suntik, narkoba maupun melakukan seks bebas pada dasarnya adalah dari faktor individu itu sendiri. Berbagai upaya telah dilakukan seperti seminar HIV/AIDS di kalangan remaja dengan harapan dapat mencegah penularan HIV/AIDS. Namun, kenyataan yang terjadi, penyakit HIV/AIDS menyerang pada usia produktif antara 18-39 tahun. Bagaimana nasib bangsa jika generasinya terjerumus pada kematian?

Pencegahan terhadap HIV/AIDS akan dapat berjalan efektif jika ada komitmen dan konsistensi bersama dalam implementasinya. Sekarang ini pencegahan HIV/AIDS telah dilakukan, namun sayangnya virus tersebut masih berkembang.

Diindikasikan, salah satu tempat penyebaran HIV/AIDS adalah kafe dengan pelayan yang telah mengidap penyakit tersebut. Bagaimana jika kafe seperti itu ditutup? Faktor pajak juga akan berpengaruh terhadap pendapatan daerah. Oleh karena itu, perlu adanya observasi langsung ke lapangan atau tempat yang telah menjadi sumber penyebar HIV/AIDS. Hal ini dilakukan bukan untuk bersikap diskriminatif terhadap ODHA, namun merupakan suatu upaya dalam pencegahan HIV/AIDS.

Dewasa ini, penyebaran HIV/AIDS justru terjadi pada daerah yang melek terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini sungguh membuat bingung. Dengan melek pengetahuan, seharusnya menjadi acuan dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS bukan sebaliknya.

Penyebaran HIV/AIDS yang dilakukan oleh satu orang dengan 'misi' untuk 'pemerataan' pengidap HIV/AIDS sangat mengancam kelangsungan hidup manusia.

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5680