Jamur Bermanfaat untuk Obat dan Kesehatan
Tanggal: Thursday, 22 December 2011
Topik: Narkoba


Suara Pembaruan, 20 Desember 2011

[JAKARTA] Banyak masyarakat yang belum mengetahui kehebatan jamur khususnya jamur pangan karena dianggap sebagai sayuran biasa. Padahal selain memiliki nilai gizi dan lezat karena adanya kandungan asam glutamat, jamur juga dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan menyembuhkan penyakit.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sejak tahun 2001 dengan terbentuknya tim jamur pangan BPPT sudah fokus dalam penelitian jamur pangan yang bisa mensubtitusi daging juga dijadikan obat. Tim berharap berbagai penelitian dan berbagai produk jamur olahan menjadi nuget, bakso, keripik jamur dan minuman (B-lemon) bisa meningkatkan daya saing jamur di Indonesia dan pendapatan petani jamur pun meningkat.

Kepala Bidang Teknologi Produksi Agrokimia BPPT Agus Masduki menjelaskan hingga saat ini banyak jenis jamur konsumsi yang mulai dibudidayakan seperti jamur merang, tiram, kuping, kancing dan shiitake. Sebab jamur mengandung immunomodulator, polisakarida (dalam bentuk beta-glukan) dan ikatan protein tertentu yang terbukti berkhasiat sebagai anti kolesterol, anti hipertensi, anti kanker, anti virus, anti diabetes, meningkatkan stamina dan kebugaran tubuh.

"Jamur bisa menjadi pangan alternatif pengganti daging. Rasanya yang lezat karena kandungan asam glutamat yang bisa dijadikan bahan penyedap rasa non MSG," katanya dalam bincang iptek bertema Inovasi Teknologi untuk Meningkatkan Nilai Tambah Jamur Pangan (Edible Mushroom), di Jakarta, Selasa (20/12).

Menurutnya berbagai penderita penyakit degeneratif di Indonesia seperti jantung koroner, kelainan pembuluh darah, kanker dan diabetes seharusnya dapat mengkonsumsi jamur yang bermanfaat bagi kesehatan penderita penyakit tersebut. World Health Organization memprediksi tiga tahun ke depan di dunia terdapat 300 juta penderita diabetes. Sementara itu penderita diabetes di Indonesia tahun 2000 mencapai 5,6 juta jiwa dan tahun 2020 diperkirakan mencapai 8,2 juta jiwa.

Bahkan lanjutnya hasil penelitian di Jepang pada jamur shitake (Lentinus edodes) menyebut kandungan beta-glukan dalam jamur itu dapat menghambat virus HIV-Aids. Direktur Pusat Teknologi Bioindustri BPPT Witono Basuki mengatakan pemerintah Malaysia sangat mendorong budidaya jamur dan memberi pinjaman cuma-cuma kepada para wirausahawan muda.

"Indonesia pun harus mendorong ke arah itu. Sebab sejak dahulu nenek moyang kita sudah mengkonsumsi jamur karena efeknya baik untuk kesehatan," ujarnya.

Budidaya jamur tiram sangat potensial selain digunakan untuk makanan juga obat-obatan. Jarum ini jelasnya harus dibudidaya di ketinggian 600 meter di atas permukaan laut dan bersuhu 16-18 derajat celcius. Sedangkan jamur merang bisa dibudidaya di dataran rendah.

Penanaman jamur menggunakan media baglog yang di dalamnya berisi serbuk gergaji kayu, kapur yang dihaluskan dan pupuk. Bibit jamur diletakan di dalam baglog untuk selanjutnya bisa dipanen 2 minggu-1 bulan. [R-15]

Sumber: http://www.suarapembaruan.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5691