Penularan HIV di Berau Mengkhawatirkan
Tanggal: Thursday, 22 December 2011
Topik: HIV/AIDS


JPNN.com, 21 Desember 2011

TANJUNG REDEB - Penyebaran virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) penyebab penyakit Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) di Berau cukup mengkhawatirkan. Ditutupnya lokalisasi di Km 5 Tanjung Redeb sesuai Perda Nomor 2 Tahun 2007 tentang Pelarangan pelacuran, tak serta merta membebaskan daerah ini dari HIV/AIDS. Apalagi, setelah terbitkan Perda disusul dengan pembongkaran areal prostitusi tersebut, pengawasan terhadap praktik perdagangan seks liar tak maksimal.

Dahri, kepala seksi Pemberantasan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Berau mengakui kesulitan mendata orang yang terindikasi terjangkit HIV. Stigma masyarakat yang menganggap virus HIV/AIDS sebagai aib keluarga menambah rumit pendataan.

Dari data Dinas Kesehatan Berau, angka penyebaran HIV/AIDS pada 2011 dibanding tahun lalu tergolong cukup tinggi. Pada 2011 ini tercatat 4 orang positif terkena virus HIV. Sementara 2010 hanya 2 kasus yang ditemukan. Jika menganut skema fenomena gunung es, jika sudah ditemukan 4 orang yang teridap HIV, maka sudah 400-an orang di daerah ini yang berpotensi menyimpan virus ini di dalam tubuhnya.

"Ada kasus di Lamin, di mana terdapat 2 orang positif terjangkit virus ini. Setelah melalui negosiasi, mereka mau menghentikan kegiatan seks dan mau berobat. Tapi pada keesokan harinya ketika didatangi mereka telah pergi," katanya.

Lamin merupakan kawasan di luar kota Tanjung Redeb. Di desa yang berada di tepi ruas jalan Km 30 Tanjung Redeb, Labanan itu diduga terdapat beberapa tempat prostitusi berkedok kafe.

"Ditutupnya lokalisasi di Kilometer 5 mengakibatkan sulitnya untuk melakukan pemantauan terhadap perkembangan penyakit ini," imbuhnya.

Selain itu, akses akomodasi yang kurang memadai dan tempat yang jauh menjadi kendala tersendiri dalam penyelidikan. Sebab ditengarai, kegiatan prostitusi di Berau saat ini, berkembang di beberapa titik, di luar kota.

Meski pemerintah telah melakukan sosialisasi agar warga melakukan deteksi dini HIV/AIDS dengan ketentuan data diri dirahasiakan, nyatanya hal itu tak membuat warga dengan suka rela memeriksakan dirinya. Apalagi klinik voluntary counseling test (VCT) HIV/AIDS juga tidak ada di daerah ini.

Lebih lanjut ia mengatakan, untuk menekan penyebaran virus HIV/AIDS, pihaknya telah melakukan kerjasama lintas sektoral dengan instansi terkait, seperti Dinas Sosial dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Abdul Rivai. "Kami telah memasang spanduk akan bahaya penyebaran HIV/AIDS, kami juga telah melakukan sosialisasi ke masyarakat maupun ke sekolah," tegasnya.

Sementara itu, maraknya panti pijat di Berau juga diduga menjadi salah satu kegiatan yang berpotensi menyebarkan virus ini. Tak sedikit panti pijat yang menawarkan jasa plus esek-esek. Tanpa pemantauan rutin, bukan tidak mungkin aktivitas prostitusi dengan kedok panti pijat ini bisa menambah jumlah pengidap HIV di Berau.

Apalagi, pertumbuhan panti pijat ini nyatanya sulit dikontrol, karena hampir seluruhnya tak mengantongi izin. Sementara jika diberi izin, pemerintah takut dituding melegalkan aktivitas tersebut. Hal ini diakui Ahmad Riyadi, staf Seksi Usaha dan Jasa Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Berau yang mengatakan semua usaha panti pijat di Berau tidak memiliki izin.

"Untuk izin panti pijat itu dilematis, kami takut ketika izin diberikan, dikiranya kita melegalkan pelacuran," imbuhnya.

Sesuai Perda Nomor 2 Tahun 2007, dalam ketentuan pidana pada pasal 9 ayat 1, setiap orang atau badan usaha yang melanggar ketentuan-ketentan yang diatur akan diacam kurungan paling lama 6 bulan atau denda setinggi-tingginya Rp50 juta. Sayangnya, peraturan ini hanya sekadar peraturan belaka. Sebab hingga saat ini, belum ada pengelola tempat yang diduga menyediakan jasa mesum, diganjar dengan hukumna sesuai Perda tersebut. (*/dvd/kpnn/eff/far)

Sumber: http://www.jpnn.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5694