Darah Jantan, tak Semua Pezina
Tanggal: Tuesday, 27 December 2011
Topik: Narkoba


Padang Ekspres, 26 Desember 2011

Diponegoro — Pementasan tari kontemporer “Darah Jantan” yang dipentaskan Impessa Dance Company di Teater Taman Budaya, akhir pekan lalu, mampu memukau para penonton. Pementasan ini memberikan pesan setiap orang yang terkena HIV AIDS tidak semuanya pendosa atau pezina. Mereka butuh mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Tari kontemporer Darah Jantan ini disuguhkan dengan seni tari yang mengkomposisikan gerak breakdance, silat dan gerak capoeira. Dan, diiringi musik yang telah dikomposisi composer Hasan LG.

“Terlalu banyak ketakutan yang tak beralasan dari masyarakat kita terhadap penderita ODHA (orang dengan HIV AIDS). Sehingga, kita harus mengukir setiap kata jijik dan nista pada mereka. Mereka hadir juga bukan karena kemauan mereka. Tidak semua dari mereka itu, pezina dan pendosa,” kata Koreografer Darah Jantan, Joni Andra kepada Padang Ekspres akhir pekan lalu.

Darah Jantan ini, kata Joni, dimaknai dalam masa kekinian ketika virus menjadi sang pejantan, mereka hidup berada dalam ketakutan. Takut akan hukum sosial. “Untuk itu, berhentilah untuk sebuah stigma dan diskriminasi, karena ini hanyalah persoalan waktu,” kata Joni.

Darah Jantan bercerita tentang seorang penari yang menderita HIV AIDS, dalam kehidupannya ODHA dikucilkan dari lingkungan, dia dijauhi, dibuang, karena takut akan tertular.

“ODHA bukan seharusnya untuk dijauhi. Bergaul, berpelukan bahkan bersin pun AIDS tidak akan menular. ODHA seharusnya dikelilingi agar semangat untuk melawan sakitnya dan terus berjuang. Setiap obat dari sakit terdapat dalam diri masing-masing. Akan semakin banyak ODHA apabila satu penderita ODHA semakin dijauhi. Dari mental dijauhi itulah yang akan menyebabkannya memendam dendam untuk menyebarkan apa yang ia deritakan,” ujar Joni.

ODHA, kata Joni, bukan musuh yang seharusnya dihindari bahkan dimusnahkan. ODHA hanyalah korban. Yang sepatutnya dihindari dan dihancurkan, HIV AIDS bukan ODHA itu sendiri.

“Sebagai manusia yang dikarunia akal dan pekerti, seharusnya kita tidak memikirkan bagaimana penyakit itu kalau menulari kita. Tapi bagaimana seharusnya kita memikirkan agar masa depan mereka sama dan membanggakan seperti anak-anak yang lain meski tidak ada yang tahu sampai kapan ia akan bertahan,” tukasnya. Pementasan pada malam itu sekaligus dengan launching Koin untuk ODHA yang dihimpun Yayasan Lantera Minangkabau.

Pentassakral

Di bagian lain, Pentassakral, salah satu grup musik kontemporer Sumbar akan pentas musik di Teater Utama Taman Budaya Sumbar, hari ini (26/12), pukul 20.00 WIB. Pentas musik dengan tajuk “Senandung Perempuan Negeriku” tersebut, selain mengeksplorasi permainan musik ciri khas dari Pentassakral, juga akan digabungkan juga dengan art performance dari cabang seni lainnya. Seperti pertunjukan puisi, instalasi, dan video art.

Art Director, Alda Wimar, menjelaskan paduan antara pertunjukan musik dengan berbagai bidang seni lain tersebut satu kesatuan dalam pertunjukan yang akan diadakan tersebut. “Selain garapan musik dan lagu, akan ada iringan puisi, instalasi, video art yang merupakan tafsiran masing-masing seniman lain atas musik yang akan dipertunjukan tersebut,” katanya sembari menjelaskan proses kolaborasi tersebut sudah dipersiapkan jauh hari. (mg14/e)

Sumber: http://padangekspres.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5714