Melawan TB dan HIV di Penjara
Tanggal: Wednesday, 28 December 2011
Topik: HIV/AIDS


RNW Indonesia, 27 Desember 2011

Kelebihan kapasitas hunian dan lingkungan yang tidak sehat membuat penyakit menular cepat di penjara. Dengan dana penanganan yang terbatas, hanya seribu rupiah per hari, narapidana atau tahanan harus melawan Tuberkulosis (TB) dan HIV/AIDS, dua penyakit paling rawan berkembang di penjara.

Reporter Arin Swandari mengunjungi salah satu lembaga pemasyarakatan di Jakarta, LP Salemba, untuk melihat bagaimana mereka melawan penyakit itu.

Satu per satu

Sejak 2008 LP Salemba dibantu lembaga pemerhati HIV dan TB yaitu PARTISAN memeriksa satu per satu calon penghuni LP. Tujuannya untuk mengobati napi yang terinfeksi dan mencegah penyebaran virus, kata Koordinator tim kesehatan Iwan Hartono Sihaloho.

"Yang paling utama itu kan HIV dan TB. Jadi kita buat setiap warga binaan baru langsung kita screening atau periksa langsung apakah ada TB atau HIV. Kalau misalnya kena TB langsung kita obati, karena di sini layanan pengobatan sudah tersedia."

Sulit diberantas

Partisan melakukan penyuluhan TB dan HIV/AIDS di empat LP dan rumah tahanan, termasuk Salemba. Namun ada banyak hambatan untuk menangani HIV dan TB di penjara, sehingga dua penyakit ini sulit diberantas tuntas.

Jika tidak diantisipasi serius, penjara yang sempit, menjadi salah satu lokasi paling rentan penyebaran TBC dan HIV/Aids.

Lembaga Pemasyarakatan atau LP Salemba memiliki kapasitas hunian sekitar 350-an. Nyatanya penghuni LP itu mencapai 800 orang. Koordinator Penanganan TB di LP Salemba, Malik Ibrahim mengatakan, kondisi ini membuat penyakit gampang menular.

Sirkulasi

Menurutnya banyak hal yang masih dibutuhkan lapas untuk meminimalisir TB. "Yang pertama soal kapasitas, kalau kita bisa mengurangi kapasitas bisa menurun juga TB. Kedua juga soal sirkulasusi. Kalau di blok, sirkulasinya juga kurang bagus."

Penularan TB dan HIV juga bisa dicegah jika kesadaran narapidana terhadap pentingnya menjaga kesehatan membaik. Koordinator Tim Kesehatan LP Iwan Hartono Sihaloho mengatakan, tanpa kesadaran itu, meski obat diberikan gratis, penyebaran akan terus berlangsung. Dukungan gizi juga penting untuk mengatasi persoalan ini.

"Itu yang pertama karena over kapasitas, karena lingkungan yang kurang memungkinkan untuk hidup sehat. Lalu ada masalah gizi, kita tahu kan kalau orang TB dan HIV harus disupport dengan gizi yang bagus.

Rawan

Di LP Salemba ada 30-an penderita TB. Sebenarnya saat ini LP sudah memisahkan tahanan yang terkena TB dalam ruangan khusus. Meski demikian, penyebaran TB masih rawan. Ini karena para tahanan sering berinteraksi satu sama lain. Sementara itu, orang dengan HIV/AIDS di LP Salemba ada sekitar 60-an.

Manajer Program PARTISAN Yakub Gunawan mengatakan, dengan kondisi penjara yang penuh, butuh keseriusan dan tindakan menyeluruh dalam menangani TB dan HIV. Termasuk setelah napi keluar dari penjara.

"Kita memulai dari fase awal sampai akhir, artinya berkelanjutan, pencegahan dengan komunikasi dan edukasi, sampai dapat pengobatan dan pendampingan sampai nanti keluar. Yang keluar harus minum obat TB dan ARV untuk ODHA, pengobatanya tak boleh putus. Karena tujuannya tidak hanya memutus mata rantai di dalam lapas, penularan TB di community base dalam hal ini keluarga pasien juga tidak akan terjadi."

Yakup mengakui lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan saat ini lebih kooperatif mencegah penyebaran HIV/AIDS.

Makin terbuka

"Kondisi sekarang lebih baik dibandingkan waktu kami masuk tahun 2003 -2004 bisa terjadi karena kita sering mengadakan capacity building dengan staf polikliniknya. Teman-teman poliklinik juga perspektifnya makin terbuka, bahwa hal-hal kayak gini nggak perlu ditutup-tutupi."

Sayangnya, fasilitas dan dana sangat terbatas.

"Hal kecil misalnya tempat dahaknya, itu tidak ada dana, teman-teman dari lapas sendiri swadaya, nggak tahu dananya dari mana pokoknya harus ada tempat sample dahak. Terus nanti kalau datang ke puskesmas kan ada biaya tiga ribu setiap sample itu juga dana swadaya dari rutan dan lapas. Betul obat TB sudah disediakan tapi itu belum cukup."

Di bawah standar

Direktur Jendral Lembaga Pemasyarakatan Sihabuddin mengakui penjara yang kelebihan kapasitas telah membuat penyakit menular berkembang secara cepat. Sementara itu dana kesehatan sangat kecil.

"Ya ini juga kalau dana untuk pemerintah terus terung saja sangat terbatas. Kita masih jauh di bawah standar. Indeks biaya kesehatannya belum sebanding dengan indeks orang umum. Sekitar seribu rupiah per hari. Karena itu kita menggandeng pihak lain."

Sumber: http://www.rnw.nl




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5720