Penderita HIV/AIDS Lamongan Terus Naik
Tanggal: Tuesday, 03 January 2012
Topik: HIV/AIDS


Surabaya Post, 30 Desember 2011

LAMONGAN – Hingga 23 Desember 2011, secara kumulatif sejak tahun 2002, penderita HIV/AIDS di Lamongan menembus angka 260 orang penderita. Sementara temuan penderita pada awal November lalu baru tercatat ada sebanyak 240 orang penderita. Data ini diungkapkan oleh Asisten Tata Praja Pemkab Lamongan Agus Sugiarto, kepada Surabaya Post Jumat (30/12) pagi tadi.

Menurut dia, dari total 260 penderita itu, 251 orang diantaranya adalah penduduk Lamongan. Sedangkan 9 lainnya adalah penduduk luar Lamongan, namun menerima perawatan di Lamongan. “Dari 27 kecamatan di Lamongan, hanya Kecamatan Sukorame yang masih bersih dari penderita HIV AIDS,” ujarnya.

Penderita terbanyak, lanjut dia, berada di Kecamatan Sukodadi, yakni sebanyak 24 orang. Selanjutnya Kembangbahu tercatat ada 20 penderita dan di Kecamatan Turi serta Sekaran masing-masing ditemukan 19 orang penderita.

“Umumnya penderita HIV/AIDS di Lamongan adalah perantau yang bekerja di luar negeri dan kembali ke Lamongan dalam keadaan sakit. Sampai saat ini obat untuk AIDS hanya berupa Anti Retro Viral (ARV) yang harus diberikan seumur hidup kepada penderita. Karena itu pencegahan penularan penyakit ini menjadi sangat krusial,” tandasnya.

Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki menjadi kelompok penderita terbanyak. Yakni 144 orang. Sementara penderita perempuan ada 114 orang. Dari total penderita, 122 orang diantaranya sudah meninggal dunia. Di tahun 2011, jumlah penderita baru mencapai 71 orang. Sementara tahun lalu tercatat ada sebanyak 51 orang penderita.

Sementara itu di Bojonegoro, penyebaran HIV/AIDS patut mendapat perhatian serius. Sebab, lebih dari lima orang dinyatakan terinveksi dan tertular virus HIV/AIDS setiap bulannya. Hal ini sebagaimana diungkap Humas RSUD Dr Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro, dr Thomas Djaja.

Menurut dia, selama sebelas bulan terakhir, atau rentang waktu antara Januari hingga November 2011, tercatat ada 61 pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit plat merah tersebut. “Dari jumlah tersebut, 12 diantaranya dinyatakan meninggal dunia,” terangnya.

Hanya saja, kata dia, tidak semua pasien HIV/AIDS yang mendapat perawatan medis di rumah sakit tersebut bukanlah warga asli Bojonegoro. Sebab, dari 61 penderita HIV/AIDS, 6 diantaranya warga luar Bojonegoro.

“Enam orang itu, ada yang memang bekerja di Bojonegoro dan sebagaian lagi hasil rujukan dari beberapa rumah sakit di sekitar Bojonegoro,” terangnya.

Dia menyatakan, untuk menekan penyebaran dan penularan HIV/AIDS tersebut ia berharap ada peran serta masyarakat. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah dengan menjaga prilaku menyimpang dengan tidak gonta-ganti pasangan. Sebab, kata dia, hal itu adalah salah satu penyebab tertinggi penularan penyakit tersebut.

“Di samping itu, pemakaian jarum suntik yang bergantian juga menjadi penyebab lainnya. Namun, untuk yang satu ini, kami telah menginstruksikan kepada jajaran dokter maupun paramedic agar menghindari itu,” tuturnya. RSUD dr. R. Sosodoro Djati Koesoemo Kabupaten Bojonegoro memang menyediakan ruangan khusus untuk penderita HIV/AIDS agar tidak tertular kepada pasien. md5

Sumber: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5738