Budi Pekerti Cegah HIV/AIDS
Tanggal: Tuesday, 03 January 2012
Topik: HIV/AIDS


Suara Merdeka, 03 Januari 2012

HIV/AIDS terus menghantui masyarakat dunia, termasuk di negeri ini. Yang memiriskan, konon penyebarannya di Indonesia terbilang paling tinggi di kawasan Asia Tenggara. Entah benar atau tidak, fakta ini perlu dianggap peringatan. Efek HIV/AIDS bisa memperlemah sumber daya manusia yang tentu berkaitan dengan masa depan bangsa.

Menurut penulis, budi pekerti merupakan keniscayaan sebagai bagian dari upaya pencegahan. Memang ada perawatan antiretrovirus yang dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun keberhasilannya tidak 100 persen. Justru budi pekerti yang baik merupakan penangkal untuk menciptakan tatanan masyarakat yang sehat.

Mari kita simak data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. Disebutkan sampai September 2009 ada18.442 kasus AIDS, 13.654 kasus diderita laki-laki, 4.701 perempuan, dan 87 kasus tak diketahui jenis kelaminnya. Dari jumlah kasus yang diderita perempuan, 60 persen adalah ibu rumah tangga biasa. Berdasarkan data yang sama pada 2002-2009, jumlah ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV naik dari 40 persen menjadi 60 persen (Paulus Mujiran: 2011). Dari jumlah kasus, yang terinfeksi mayoritas masih laki-laki. Kian banyak ibu rumah tangga yang tertular penyakit ini, pada umumnya tertular oleh suami.

Untukmengenyahkan HIV/AIDS, budi pekerti untuk menghargai keberadaan tubuh perlu dimiliki. Tubuh perempuan selayaknya diperlakukan semestinya, baik oleh pihak perempuan sendiri maupun laki-laki. Kebutuhan seksual perlu disalurkan secara tepat. Berganti-ganti pasangan adalah cermin tak dimilikinya budi pekerti yang luhur.

Laki-laki yang telah bersuami wajib mencintai istrinya sepenuh hati. Kesetiaan dalam rumah tangga perlu diperkuat. Bagi yang belum berumah tangga, tubuh harus dijaga dengan tak mengumbar nafsu seksual secara bebas. Menghargai tubuh berarti menghargai kehidupan. Tak hanya untuk kehidupan diri, tetapi juga anak-anak sebagai generasi masa depan. Begitu juga tubuh, perlu dihargai dengan tak merusaknya lewat obat-obatan terlarang.

Hendra Sugiantoro Universitas PGRI Yogyakarta 085227052811

Sumber: http://suaramerdeka.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5754