Meretas Mitos Seputaran Kehamilan
Tanggal: Thursday, 05 January 2012
Topik: Narkoba


Bali Post, 05 Januari 2012

Denpasar - Menjadi ibu adalah anugerah yang tiada terkira bagi seorang wanita. Tentunya untuk menuju masa itu, seorang wanita harus melewati masa kehamilan dan persalinan dengan selamat. Namun tidak jarang banyak mitos berkembang seputaran kehamilan dan tidak jarang hal tersebut malah bertentangan dengan ilmu medis dan sebenarnya tidak dapat dibuktikan malahan bisa berdampak buruk pada janin.

Saat seorang wanita hamil, biasanya akan banyak diberi nasihat oleh kerabat, keluarga, teman juga dari orang sekelilingnya, tentang pantangan dan keharusan selama masa kehamilan. Walaupun maksud mereka adalah demi kebaikan, tetapi tidak semua dari nasihat kehamilan itu benar secara medis maupun ilmiah karena kebanyakan hanya berdasarkan mitos atau kepercayan turun-temurun yang jauh dari kenyataan.

Divisi Feto Maternal Bagian ObsGyn. Fakultas Kedokteran Udayana Profesor. Dr. Made Kornia Karkata, Sp. OG (K) Senin (2/1) lalu mengatakan ada beberapa mitos seputaran kehamilan yang sebenarnya bertentangan dengan ilmu medis. Dilanjutkan, ada beberapa mitos yang harus dikupas lebih dalam sehingga ibu hamil mengetahui apakah tindakan yang selama ini terlanjur dipercaya itu benar atau tidak, di antaranya mengenai mitos makanan, mitos prilaku dan mitos seputaran senggama.

Dipaparkan, mengenai mitos makanan selama ini ada kepercayaan loloh daun waru dapat memperlicin bayi dan proses kelahiran. Sebenarnya secara medis loloh daun waru ini malah berakibat buruk pada perkembangan janin karena dapat mengotori air ketuban sehingga air ketuban menjadi hijau. “Pandangan itu sangat keliru. Hal ini perlu diluruskan jangan sampai berdampak buruk pada janin,” imbuhnya. Selain itu menurut Prof. Kornia kebutuhan zat kapur pada ibu hamil juga perlu. Anggapan ibu hamil tidak boleh minum es itu juga keliru. Menurutnya ibu hamil boleh minum es selama tidak berlebihan.

Pensiunan Ketua Prodi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Udayana ini menilai mitos seputaran senggama juga keliru. “Sebenarnya senggama itu tidak perlu. Jangan sampai ada mitos kalau tidak ‘dipompa’ janin tidak tumbuh. Itu tidak benar dan tidak ada untungnya karena sekali dibuahi suami boleh tidak melakukan senggama ” ucapnya. Namun menurutnya, senggama diperbolehkan asalkan memerhatikan beberapa hal yakni dibolehkan asal perut tidak sakit, jangan sampai berdarah; tunggu sampai usia kehamilan 4 bulan; hati-hati pada abortus (wanita yang pernah keguguran) serta premature berulang; tunggu saat akar sudah kuat; awas penyakit menular seksual (PMS) karena akan berdampak pada anak, misalnya HIV AIDS; hati-hati bulan terakhir karena bisa menyebabkan ketuban pecah.

Selain mitos makanan ada juga mitos prilaku yang harus diluruskan seperti kebersihan badan dan vagina; perawatan payudara; senam hamil; ibu hamil masih boleh bekerja tapi ada batasnya, pakaian harus longgar, pakai stagen tidak perlu kecuali perut gantung, tidur berlebihan juga tidak perlu, upayakan maksimal 8 jam, jangan merokok dan meminum minuman keras karena bisa berdampak buruk pada janin. Tentang kosmetik juga perlu diperhatikan. “Ibu hamil tidak harus tampil kumel. Kosmetik biasa untuk perawatan luar masih dibolehkan kecuali obat-obatan dalam,” tutur Prof. Karnia.

Untuk menghidari mitos-mitos yang malahan bisa berdampak buruk pada janin, Ketua MPPK IDI Wilayah Bali ini menyarankan, ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan dan kosultasi ke bidan atau tenaga medis. Karenanya ibu hamil diharapkan selalu menyampaikan informasi yang didapatkan kepada dokter atau mencari referensi buku yang dapat dipercaya, sehingga dapat mengetahui apa kebenarannya. Jangan hanya mengikuti sesuatu yang tidak diketahui pasti alasan dan kenyataannya. (wid)

Sumber: http://www.balipost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5761