37 PSK di Tamansari Positif HIV/AIDS
Tanggal: Monday, 09 January 2012
Topik: HIV/AIDS


Suara Pembaruan, 09 JAnuari 2012

[JAKARTA] Sebanyak 37 orang Pekerja Seks Komersial (PSK) yang bekerja di sejumlah tempat hiburan di Tamansari, Jakarta Barat, positif HIV/AIDS. Kasus ini ditemukan pada tahun lalu. Di Jakarta Barat, sepanjang 2010 ditemukan 327 penderita HIV. Dari jumlah tersebut kasus terbanyak ditemukan di Kecamatan Tambora sebagai kecamatan dengan penduduk terpadat se-DKI Jakarta.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Administrasi Jakarta Barat, M Fausal Kahar menuturkan, di DKI Jakarta sejak tahun 1987 hingga Desember 2010, secara kumulatif tercatat sebanyak 8.549 penderita HIV/AIDS, dengan perincian 4.296 HIV dan 4.253 AIDS.

“Di Jakarta Barat, pada 2010 tercatat 327 penderita HIV, terbanyak di Kecamatan Tambora yakni 109 penderita, dan paling sedikit di Kecamatan Kebon Jeruk, 9 penderita. Selain itu tercatat 592 ODHA di Jakarta Barat, sebanyak 177 di antaranya di Kecamatan Tambora. Orang yang berpotensi terinfeksi karena pemakaian jarum suntik secara bergantian mencapai 5.675 orang,” paparnya saat sosialisasi program pencegahan penyakit Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) tingkat kelurahan, di rumah ketua RW 03 Kelurahan Duri Kosambi Kecamatan Cengkareng, akhir pekan lalu.

Menurut Fausal, pada 2011 ditemukan 37 penderita positif HIV/AIDS di Kecamatan Tamansari. Seluruhnya penderita merupakan PSK dan masih aktif melakukan aktifitasnya di sejumlah tempat hiburan yang tersebar di Tamansari, Jakarta Barat.

Dipaparkan, tanda-tanda orang terkena HIV/AIDS stadium 1 antara lain ada benjolan di belakang telinga, stadium 2 terlihat pada kulit terkena herpes ada bintik-bintik dan terserang batuk terus-menerus.

Selanjutnya pada stadium 3 terlihat tubuh penderita semakin kurus, dan pada stadium 4 penderita sudah terserang berbagai macam penyakit seperti paru-paru, demam, dan lainnya

Wakil Wali Kota Jakarta Barat, H Sukarno, selaku ketua pelaksana KPA Jakarta Barat, menjelaskan sosialisasi bahaya HIV/AIDS dilakukan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai penyakit tersebut. “Pemahaman ini kita berikan kepada semua masyarakat agar tidak terjebak dalam lingkaran rawan, seperti penggunaan narkoba, seks bebas serta perubahan gaya hidup masa kini yang menjurus pada penyakit berbahaya tersebut,” ujarnya.

Menurutnya, sosialisasi bahaya HIV/AIDS sejak dini sangat penting untuk memutus mata rantai awal perkembangan HIV/AIDS, mengingat kasusnya terus meningkat signifikan dari tahun ke tahun terhadap usia produktif.

“Sosialisasi ini untuk mengingatkan kepada masyarakat akan bahaya HIV/AIDS, cara penyebaran sampai pencegahannya, dan disampaikan dengan serius. Sosialisasi ini diharapkan dapat mengajak masyarakat aktif dalam menyerap informasi yang diberikan,” jelasnya.

Dikatakan, melalui sosialisasi diharapkan nantinya akan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya HIV/AIDS dan kesehatan. Masyarakat juga diminta tidak malu untuk konseling. Sebab, konseling bukan berarti orang yang melakukannya sudah positif terinfeksi virus, tetapi sebagai upaya pengecekan apakah tubuh terinfeksi atau tidak.

”Banyak orang yang malu untuk melakukan pengecekan terkena HIV/AIDS atau tidak, padahal semakin dini HIV/AIDS diketahui semakin baik dan relatif lebih murah biaya menanggulanginya,” tandasnya. [Y-6]

Sumber: http://www.suarapembaruan.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5778