Jarum Tato Steril
Tanggal: Monday, 16 January 2012
Topik: Narkoba


Pontianak Post, 14 Januari 2012

PONTIANAK - Pemerintah diharapkan tidak hanya terpaku terhadap penularan HIV/AIDS oleh kelompok berisiko seperti pekerja seksual maupun pengguna narkotika. Pemerintah juga diminta tidak lengah terhadap media lainnya yang menyebabkan seseorang terpapar tidak sengaja, seperti pembuatan tato.”Di Indonesia, pembuatan tato tetap menggunakan jarum steril. Tetapi tidak ada salahnya dilakukan pembinaan ke sana. Pencegahan lebih baik,” ujar aktivis Global Fund for AIDS wilayah Kalbar, Rizal Adriansyah, Jumat (13/1).

Kasus penularan HIVV/AIDS akibat tato yang menggunakan peralatan tak steril ini mencuat akhir Desember lalu. Departemen Kesehatan Australia mengungkapkan melalui abc.net.au bahwa seorang warga negaranya terinfeksi HIV setelah membuat tato di Indonesia. Turis tersebut diketahui terkena positif virus human immunodeficiency virus setelah pulang ke negaranya dan melakukan tes darah. Menurut Rizal, saat ini di Kalbar khususnya Pontianak belum ada pendataan mengenai lokasi pembuatan tato. Ia menyarankan pemerintah melakukan pendataan tempat pembuatan tato agar bisa dilakukan sosialisasi dan pembinaan untuk membantu pencegahan HIV.

”Jangan sampai lengah. Harus ada sosialisasi dan pembinaan agar pembuat tato maupun yang membuat terlindungi. Jadi masyarakat juga tidak ragu dalam membuat tato karena tato itu memiliki nilai seni,” ungkap Rizal.Ia menambahkan kewaspadaan dan pencegahan terhadap penularan HIV/AIDS di Kalbar harus terus ditingkatkan. Kondisi ini mengingat banyaknya penderita HIV/AIDS di wilayah ini. Berdasarkan data yang dikeluarkan Komisi Penanggulangan AIDS Kalbar hingga September 2011, sebanyak 4.779 orang dinyatakan positif HIV/AIDS hingga September 2011. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.228 orang positif HIV dan 1.551 orang sudah masuk dalam stadium AIDS. ”Jangan sampai lengah. Kewaspadaan universal harus ditingkatkan,” katanya.

Seorang pembuat tato di Kota Pontianak, Roy (29) mengatakan pencegahan terhadap penularan penyakit sudah dilakukan. Selama ini ia menggunakan bahan-bahan steril. ”Semua bahan yang digunakan steril. Jarum yang kami gunakan untuk membuat tato sudah menggunakan model khusus. Ada tanda batas kedaluarsanya. Kalau sudah lewat batas itu, tidak bisa digunakan lagi,” ungkap Roy, yang tinggal di Jalan HOS Cokroaminoto ini.Begitu pula limbah jarum suntik, lanjut Roy, tidak dibuang sembarangan. Jarum bekas digunakan diberikan ke rumah sakit dan rumah sakit yang memusnahkannya. ”Pemusnahan dilakukan rumah sakit karena hanya di sana ada alat pemusnahnya. Jangan khawatir, higienis semua,” ungkap Roy, yang sebulan bisa melayani pembuatan tato lebih dari lima orang, dengan harga minimal Rp500 ribu pertato. (uni)

Sumber: http://www.pontianakpost.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5802