Produsen Film Porno Ancam Boikot Los Angeles
Tanggal: Thursday, 19 January 2012
Topik: Narkoba


JPNN.com, 19 Januari 2012

LOS ANGELES - Gara-gara karet pengaman, Los Angeles terancam ditinggal oleh industri esek-esek. Itu bukan ancaman main-main karena nilai total industri tersebut sekitar USD 8 miliar (Rp 73,2 triliun) per tahun.

Ancaman tersebut muncul setelah Dewan Kota Los Angeles meloloskan draf regulasi yang mensyaratkan bahwa semua aktor film porno harus mengenakan karet pengaman ketika syuting. Padahal, Los Angeles berpredikat ibu kota film porno karena 90 persen di antara total film porno AS dibuat di kota tersebut.

Draf tersebut bakal resmi menjadi regulasi bila Wali Kota Antonio Villaraigosa menyetujuinya. Draf tersebut sebenarnya merupakan aturan khusus dari aturan yang sudah ada. Alasannya adalah pencegahan penyakit kelamin. Juru Bicara AIDS Healthcare Foundation Ged Kenslea meminta industri film porno tak terlalu panik. "Pemakaian karet pengaman untuk film porno kan sudah diatur sebelumnya. Lagi pula, ini untuk kepentingan kesehatan," tuturnya.

Namun, industri film porno bergeming. "Mari kita lihat, apakah mereka (kota) akan tetap memaksakan aturan tersebut. Bila iya, mereka akan hanya menemukan kami tak akan lagi syuting di Los Angeles," tegas Steven Hirsch, salah seorang pendiri dan chairman Vivid, salah satu produsen film porno terbesar.

Alasan penolakan tersebut sebenarnya sederhana saja. Pasar tak menyukai aktor yang memakai karet pengaman dalam film porno. Para penonton, terutama yang dari luar negeri, mengatakan bahwa pemakaian karet pengaman akan mengganggu dan merusak fantasi. Padahal, film porno yang laris berbasis fantasi erotis seseorang.

"Seharusnya mereka tak memaksakan. Kalau kami pergi, kota hanya kehilangan pendapatan. Sedangkan kami jelas tak bisa memaksakan sebuah produksi yang tak diinginkan pasar," tambahnya.

Menurut salah seorang produser film porno Tabitha Stevens, kekhawatiran terhadap AIDS dan penyakit menular seksual berlebihan. Cek kesehatan dan darah adalah standar wajib aktor/aktris film porno. Penerapan itu sangat ketat.

"Selama 17 tahun saya menjadi aktris porno, lawan main saya kadang pakai karet pengaman, kadang tidak. Saya cenderung lebih suka lawan main memakainya karena merasa lebih aman," tutur mantan aktris porno tersebut. "Tapi, seharusnya itu menjadi pilihan pribadi, bukan kewajiban dari pemerintah," tandasnya. (c10/ayi)

Sumber: http://www.jpnn.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5828