544 Penderita HIV/AIDS Meninggal di Kepri
Tanggal: Monday, 30 January 2012
Topik: HIV/AIDS


INILAH.COM, 28 Januari 2012

Batam Centre - Perkembangan kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) di Provinsi Kepri kian mengkhawatirkan. Sebanyak 544 orang meninggal sejak ditemukannya kasus ini pada 1992.

Ketua Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Kepri Soerya Respationo mengatakan, sepanjang tahun 2011 lalu, tercatat ada 702 kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Kepri dengan 66 orang meninggal.

Jika dihitung dari tahun 1992, dimana kasus HIV/AIDS pertama kali ditemukan di daerah ini, ada 3.550 kasus HIV dan 1.749 kasus AIDS.

"Kalau dilihat tiga tahun terakhir, pada tahun 2009 penderita HIV/AIDS sebanyak 341, tahun 2010 sebanyak 304 kasus dan tahun 2011 sebanyak 265 kasus. Selama tahun 2011 tercatat 66 orang yang meninggal, dan sejak tahun 1992 sebanyak 544 orang yang meninggal," kata Soerya usai penandatanganan komitmen bersama seluruh SKPD Provinsi Kepri dan instansi vertikal di Hotel Harmoni One, Jumat (27/1).

Dari total penderita HIV/AIDS di Provinsi Kepri, kasus paling banyak ditemukan di Kota Batam yakni mencapai 2.200 kasus. Puncaknya terjadi pada tahun 2011 yakni 411 kasus ditemukan. Diperkirakan, pada tahun 2012 ini, jumlah kasus penderita HIV/AIDS akan terus meningkat.

Banyaknya kasus HIV/AIDS yang ditemukan di Provinsi Kepri, kata Sorya, perlu mendapat perhatian dan penanganan yang sangat serius dari pemerintah dan lembaga terkait lainnya.

Terlebih, masalah ini sudah sangat dekat dengan populasi umum, yakni satu persen dari masyarakat berisiko rendah atau umum.

Penyebaran HIV/AIDS juga sudah meluas ke tengah-tengah masyarakat seperti pada penggunaan jarum suntik dan pekerja seks komersial (PSK). Parahnya lagi, HIV/AIDS kebanyakan menyerang penderita dengan kategori usia produktif 25-29 tahun dengan persentase mencapai 56 persen.

"Saat ini sudah ada anak-anak dan ibu-ibu yang terkena penyakit mamatikan tersebut. Oleh karenanya, penandatanganan komitmen bersama seluruh SKPD dan instansi vertikal yang ada di Kepri ini sangat perlu. Akan tetapi, jauh lebih penting adalah mengimplementasikan berbagai pengetahuan dalam upaya mencegah penyebaran penyakit tersebut kepada masyarakat," kata Wakil Gubernur Kepri ini.

Salah satu upaya penanggulangan, kata Soerya, pemerintah harus punya stategi baru. Meski pemerintah sudah memiliki aturan yakni Peraturan Daerah (Perda) nomor 15/2007 tentang Penanggulangan Bahaya HIV/AIDS, namun pemerintah dan lembaga terkait tetap harus terus bekerja keras.

"Beberapa kendala yang dihadapi, di antaranya adalah masih belum samanya persepsi penanganan HIV/AIDS di masyarakat. Nanti kita suruh pakai kontrasepsi, dibilangnya prostitusi dilegalkan," katanya.

Untuk diketahui, dalam acara penandatangan komitemen bersama tersebut, selain kepala SKPD di lingkungan Pemprov Kepri, hadir pula pimpinan instansi instansi vertikal tingkat Provinsi Kepri seperti Kepala Kanwil Kementerian Agama, Kepala Kanwil Hukum dan HAM, Kepala Kanwil BKKBN dan lainnya.

Dalam isian penandatangan tersebut, salah satunya mendorong penggunaan alat pelindung hubungan seksual dengan target mencapai 65 persen, mengurangi pemakaian narkotika dan menekan penggunaan alat suntik.

Kemudian, meningkatkan layanan kepada penderita berupa pencegahan, perawatan. Lalu, menghilangkan stigma pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta mencegah dampak nyata malui pendidikan dan meningkatkan pendidikan agama dan dakwah.

Sekretaris KPA Provinsi Kepri Beni mengatakan, penandatanganan komitmen bersama ini bertujuan meningkatkan pengawasan pemerintah dan lembaga terkait dalam upaya mencegah penularaan HIV/AIDS di Provinsi Kepri. Salah satunya adalah dengan mendorong penggunaan alat seperti kondom dalam aktivitas seksual. [mor]

Sumber: http://sindikasi.inilah.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5884