Berantas Diare lewat Program Jamban
Tanggal: Monday, 30 January 2012
Topik: Narkoba


Media Indonesia, 30 Januari 2012

SEJAK lulus dari pendidikan kedokteran di Jawa Tengah, Budi Laksono begitu sering mendapati pasien dengan keluhan yang sama, yakni diare. Banyaknya orang yang menderita diare membuat ia tidak ingin sekadar mengobati.

Budi yakin ada yang salah di lingkungan rumah warga dan ia ingin mengatasinya. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan tiap tahun ada 162 ribu kasus kematian anak akibat diare. Di wilayah Jateng, diare menempati posisi pertama penyebab kematian itu.

Jawaban mulai didapat saat dokter yang ketika itu berpraktik di Puskesmas Kota Pekalongan ini meninjau lingkungan rumah warga. Ternyata banyak warga buang air besar (BAB) di sungai.

Padahal, sungai itu juga dipakai untuk mencuci, mandi, dan kebutuhan lainnya. Hanya 9,1% warga di dalam kecamatan tersebut yang memiliki jamban pribadi.

"Kebanyakan program yang dilakukan pemerintah daerah, seperti gerakan jamban massal, tidak menyesuaikan dengan kondisi lingkungan yang ada. Akhirnya banyak jamban rusak," kenang pria yang kini mengajar di Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang, itu saat ditemui di Semarang, beberapa waktu lalu.

Budi tidak tinggal diam lalu membuat jamban sederhana yang bisa digunakan warga. Jamban yang terletak di puskesmas itu ternyata mampu membuat warga tidak lagi BAB di sungai.

Sejak itu mendorong sanitasi yang lebih baik untuk warga menjadi kegiatan yang tidak lepas dari hidupnya. Begitu juga saat ia kembali ke kota almamaternya--Semarang.

Setelah melihat banyaknya warga yang masih BAB di sungai, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro ini pun menyisihkan sebagian hasil praktik di kliniknya untuk penyediaan jamban. Padahal, tarif periksa yang dipungut di klinik yang didirikan pada 1991 itu hanya Rp5.000.

Jamban amfibi

Jamban yang dibuat Budi memang sederhana, tetapi sangat peka lingkungan. Selain jamban permanen (fixed) yang tidak bisa dipindah-pindah, ia menciptakan jamban amfibi. Jamban model kedua itu dibuat untuk keperluan darurat, terutama diperuntukkan daerah bencana alam atau sering kali saat sulit airnya.

"Jambannya bisa dipindahkan. Saya namakan amfibi karena bisa dipakai untuk jamban kering dan basah," cetusnya.

Satu jamban sederhana ciptaan ayah empat anak itu hanya menghabiskan biaya Rp165 ribu, yang digunakan untuk membeli 1 sak semen, 16 ember pasir, dan jamban keramik. Kegiatan pembuatan jamban pun menggunakan fasilitas pribadi Budi, termasuk mobil pribadi yang digunakan untuk mengangkut bahan-bahan material.

Jerih payah Budi sukses menyadarkan warga akan hidup sehat. "Wah, malu kalau ke sana lagi," kata Yati, warga Kelurahan Saden, Kecamatan Gunungpati, Semarang, yang dahulu kerap BAB di sungai.

Kini, gerakan Katajaga atau Kampung Total Jamban Keluarga yang dirintis Budi telah berkembang luas. Sudah 800 keluarga atau 6.000 orang di 6 kecamatan dari total 17 kecamatan di Semarang menggunakan jamban dari program Katajaga itu.

Bagi Budi, jamban tidak harus mewah, dengan tembok dan keramik. Banyak jamban yang dia bangun hanya ditutup dengan dinding bambu atau plastik.

"Yang penting jambannya bersih. Itu saja untuk memutus mata rantai penyakit diare," terangnya.

Dia pun mengukur angka penurunan kasus diare di kampung-kampung yang sudah menjalankan program Katajaga itu. Kasus diare, sakit perut, dan cacingan yang kerap melanda anak-anak telah turun.

Gerakan sosial itu pun mengetuk Wali Kota Semarang. Budi menuturkan Wali Kota Semarang sudah berjanji bahwa seluruh warga Semarang akan memiliki jamban pada 2013. Wali Kota juga menjanjikan anggaran Rp2 miliar untuk program jamban tersebut.

"Tapi bagi saya, yang penting bukan pembuatan jamban massal seperti yang sudah-sudah," tegas Budi. Budi memang sering melihat gerakan MCK massal yang hasilnya tidak maksimal karena teknologi yang salah.

Tidak hanya berkutat untuk masalah sanitasi, Budi juga aktif di kegiatan penanggulangan AIDS. Rumah pendiri Yayasan Wahana Bakti Sejahtera ini pun digunakan untuk tempat kursus bagi pengidap HIV/AIDS dan mantan pecandu narkoba.

"Saya ini hanya punya prinsip membuat program yang bisa diterima dan dijalankan masyarakat yang kurang mampu. Jangan dipaksa," tuturnya soal program-program sosial yang ia buat. (M-5)

Sumber: http://www.mediaindonesia.com




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5890