Efektivitas Tamiflu Diragukan
Tanggal: Wednesday, 01 February 2012
Topik: Narkoba


Surabaya Post, 01 Februari 2012

Para pakar internasional mempertanyakan efektivitas dan keamanan Tamiflu, obat utama yang dipakai untuk mengatasi pandemi flu, termasuk flu burung.

Tamiflu memang memperpendek durasi gejala flu, tetapi sejauh ini tidak ada bukti obat ini mampu mengurangi jumlah pasien yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Para pakar juga mengklaim, efek samping obat ini mungkin tidak dilaporkan.

Para dokter dari Chochrane Collaboration, sebuah lembaga penelitian yang memiliki jaringan di 100 negara, mengkaji 16.000 data pengujian klinis mengenai obat ini. Mereka secara kritis mempertanyakan seberapa baik obat ini bekerja dan juga keamanannya.

Carl Heneghan, salah seorang peneliti, mengatakan apa yang dicari dari suatu obat adalah manfaatnya dan kemungkinan efek samping. "Saat ini tanpa adanya bukti ilmiah kita tidak dalam posisi bisa mengatakan manfaatnya melebihi efek sampingnya," katanya.

Para peneliti juga mengklim 60 persen orang yang terlibat dalam uji klinik tahap 3 tidak pernah dipublikasikan. "Kami khawatir data-data tersebut tidak dalam pengawasan komunitas ilmiah," katanya.

Menanggapi hal tersebut, Roche selaku produsen Tamiflu, meyakinkan bahwa 80 persen data uji klinik terbuka dan dilakukan oleh ilmuwan independen.

"Kami memiliki landasan integritas dan kekuatan yang disokong oleh data mengenai efektivitas dan keamanan Tamiflu. Berbagai studi klinik dan pengalaman di lapangan menunjukkan obat ini efektif mengurangi keparahan dan durasi gejala," tulis perusahaan farmasi itu dalam pernyataannya.

2013, RI Produksi Vaksin

Terkait pencegahan dna pengobatan, Bio farma diperkirakan dapat memproduksi vaksin flu burung secara massal mulai 2013 setelah menambah fasilitas pabrik."Saat ini belum produksi karena Bio Farma butuh diperbesar kapasitasnya. Kalau uangnya keluar tahun ini, akhir 2013 baru jadi fasilitasnya, memang makan waktu lama," ujar Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih.

Dalam kesempatan itu, Rektor Universitas Indonesia Gumilar Rusliwa Somantri menyerahkan prototipe vaksin flu burung ke Bio Farma sebagai wujud kerjasama penelitian vaksin yang normalnya bisa mencapai 15 tahun.

Endang menyebut kerjasama itu sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap produksi vaksin nasional untuk menghilangkan ketergantungan kepada vaksin impor."UI yang menyerahkan vaksin, Bio Farma memproduksi, nanti kami pemerintah yang beli," kata Endang.

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero) Iskandar mengungkapkan butuh jalan pintas untuk mempercepat riset."Langkah awal short cut melalui sinergi akademisi, bisnis dan pemerintah dilakukan Bio Farma dengan menyelenggarakan kembali Forum Riset Vaksin Nasional," ujarnya.

Dari forum itu, delapan konsorsium terbentuk untuk penelitian dan pengembangan vaksin yaitu vaksin dengue, malaria, AIDS/HIV, vaksin rotavirus, vaksin flu burung dan vaksin new TB.Konsorsium riset vaksin flu burung telah menghasilkan prototipe vaksin melalui riset bersama tahun 2011 lalu.

"Riset ini didanai oleh Kementerian Riset dan Teknologi. Konsorsium akan dilanjutkan dengan penelitian dan pengembangan vaksin dan bahan baku obat yang lain diantaranya vaksin malaria, HIV, Rotavirus, Pnemuococcus dan adjuvant vaksin," kata Endang.ins

Sumber: http://www.surabayapost.co.id




[ Home | Indeks Kliping ]

Berita ini dari Komunitas AIDS Indonesia - Indonesian AIDS Community
http://www.aids-ina.org
URL berita ini adalah:
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=5908